Oleh: ummuali | 25/11/2010

Menjaga Kemuliaan Pasangan Hidup

Bergosip atau ngerumpi menjadi acara yang banyak diminati dan dinikmati banyak orang. Sepertinya ada semacam kebutuhan psikologis bagi sebagian kalangan, terutama kaum hawa untuk ngerumpi. Yang memprihatinkan adalah , bergosip tentang orang lain saja jelas tidak dibolehkan, apalagi bergosip tentang pasangan hidup.

Betapa sering, para istri  yang secara sadar dan tidak sadar ngerumpi  tentang suami-suami mereka. Terkadang secara terbuka para istri  menceritakan tentang sikap dan sifat suami. Dari mulai hal-hal yang remeh temeh sampai kepada hal-hal yang besar dan pribadi. Sehingga, orang yang tadinya tidak “mengenal” suami kita jadi kenal. Akibat buruknya, orang yang tadinya menaruh hormat kepada suami, jadi mencibir. Orang yang tadinya segan terhadap suami, jadi cuek bebek.

Allah sebagai Dzat yang Maha Menciptakan, telah berfirman di surat Al-Baqarah : 187, yang artinya,”…meraka (istri-istri) adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka…”

Betapa indahnya Allah menggambarkan bentuk hubungan suami dan istri yakni  layaknya sebuah pakaian bagi pasangannya. Istri adalah pakaian suami, dan suami adalah pakaian istri. Mempersamakan pasangan (suami atau istri) dengan pakaian mengindikasikan bahwa suami atau istri dituntut untuk saling menutupi dan saling melindungi.

Secara garis besar, mungkin kita bisa merumuskan manfaat pakaian adalah;

  1. Sebagai penutup aurat. Menutupi bagian-bagian yang memang tidak bolah terlihat.
  2. Sebagai pelindung. Melindungi tubuh dari sengatan matahari maupun hawa dingin.
  3. Sebagai hiasan. Pakaian juga berfungsi memperindah atau mempercantik pemakainya.

Menutupi dan melindungi. Inilah hal-hal yang sering diabaikan. Bukannya menutupi, kita justru sering  membuka dengan menceritakan kepada orang lain tentang pasangan hidup kita. Suamiku tuh orangnya begini atau begitu. Dan lebih sering yang diceritakan adalah hal-hal yang negative. Dari mulai suami yang mata keranjang, galak, pelit dsb. Alkisah, ada seorang bapak yang cukup dihormati dan disegani baik karena kedudukan di masyarakat maupun kefahamannya tentang agama. Pada suatu ketika, istrinya ngumpul-ngumpul, ngobrol kesana-kemari, ujung-ujungnya saling bercerita tentang suami-suami mereka. Yang cukup mengagetkan adalah, si istri ini bercerita tentang masa kelam suaminya. Astaghfirullah….janganlah apa yang sudah ditutupi oleh Allah kemudian kita buka-buka, terlebih ini adalah pasangan hidup kita. Sama artinya kita bercerita tentang keburukan kita sendiri. Mungkin, kita memang sering mendengar para ustadz yang terkenal juga ‘menyiarkan’ keburukan-keburukan mereka di masa lalu, tapi niatnya mungkin sebagai ibroh bagi pendengarnya. Kalau kita bercerita keburukan suami? Apa manfaatnya? Justru kita menjatuhkan citra dan nama baik suami kita sendiri.

Istri adalah pakaian suami, dan pakaian berfungsi sebagai penutup aurat.  Layaknya penutup aurat, tentunya kita akan merasa malu jika pakaian kita tersingkap. Membicarakan tentang keburukan atau aib suami atau istri, sama saja menyingkap pakaian kita sendiri. Yang berarti kita mempermalukan diri kita sendiri.

Bukan tidak boleh sama sekali bicara tentang pasangan hidup kita. Terlebih jika memang ada masalah yang harus diselesaikan. Tetapi kepada siapa kita membicarakan hal-hal tersebut,  itu yang penting. Jika kita terpaksa curhat tentang perilaku buruk suami, maka carilah orang yang berilmu dan dan dapat dipercaya. Sehingga tujuan kita bercerita, sesungguhnya untuk mencari solusi, bukan sekedar memproklamirkan perilaku buruk suami.

Dan satu hal yang penting, jikalau pasangan hidup kita bersifat dan bersikap buruk, jangan “mengadukan” kepada orangtua atau saudara-saudara kita maupun kerabat kita. Karena boleh jadi, kita rukun kembali dengan suami, sementara orang tua atau saudara-saudara kita jadi membenci dan menjadi tidak suka kepada suami. Alangkah baiknya, jika kita justru berkonsultasi atau musyawarah dengan keluarga atau kerabat dari pihak suami, sehingga suami kita tetap terjaga kehormatannya.

Selain sebagai penutup aurat, pakaian juga berfungsi melindungi diri dari cuaca panas yang menyengat maupun hawa dingin yang menggigit. Maka, seyogyannya kitapun melaksanakan fungsi kita sebagai pelindung bagi pasangan hidup kita. Menjaga dari segala fitnah maupun hujatan-hujatan buruk. Karena tak jarang, bukannya memberi statement positif jika ada “berita” atau “keluhan” tentang suami, kita justru ikut menambah-nambahi atau mengompori. Sebagai contoh, ada seorang ibu bercerita bahwa sepulang dari berpergian, pada suatu sore menjelang maghrib ia melihat suami temannya sedang duduk-duduk di warung kopi.

“Bu NN, aku kemarin kayanya lihat suamimu duduk-duduk di warung kopi deket rumahku.”

“Emang tuh, kebiasaan, pulang kerja bukannya langsung pulang ngopi di rumah malah ngopi di warung. Kadang-kadang pulang abis Isya. Dari dulu emang tukang nongkrong, sudah punya anak istri, kebiasaan enggak berubah.” Jawab bu Nn.

Jikalau kita menyadari pentingnya menjaga kemuliaan pasangan hidup kita, mungkin kita bisa menjawab dengan lebih diplomatis, seumpama “Oh, mungkin suamiku sedang ada keperluan dengan seseorang.”  Tidak perlu berbohong (karena memang tidak boleh), tapi juga tidak seterusterang seperti itu dengan mengatakan suami kita tukang nongkrong. Jadi, jagalah nama baik dan kehormatan suami kita dengan menjadi “pakaian” atau “pembungkus” yang baik.

Selain factor etika yaitu sebagai penutup aurat, memakai pakaian juga berkaitan erat dengan factor estetika. Karenanya, pakaian juga berfungsi memperindah pemakainya. Jika istri adalah pakaian suami, maka istri memperindah suami. Jika suami adalah pakaian istri, maka suami memperindah istri.

Karenanya, jadilah kita pribadi-pribadi yang sholeh dan sholehah, yang dengannya kita dapat memberi keamanan dan kenyamanan bagi pasangan hidup kita. Sungguh indah Allah menggambarkan hubungan suami istri layaknya pakaian bagi pasangannya. Maka, jadilah kita sebagai pakaian bagi pasangan hidup kita yang menutupi, melindungi dan memperindah.

Wallahu’alam

Oleh: ummuali | 22/11/2010

I Have No Complaints with My Life

Jika saya menulis judul seperti di atas, itu bukanlah sebuah kesombongan, justru ungkapan rasa syukur atas segala yang telah Allah karuniakan kepada saya. Juga bukan pernyataan bahwa hidup saya bebas masalah. Saya menulis artikel ini, karena beberapa minggu lalu, saya sering mendengar ‘keluhan’ kerabat maupun teman-teman tentang kehidupan pribadi mereka. Ada yang mengeluh telah bekerja bertahun-tahun, tetapi tidak ada peningkatan karier. Ia menyesal tidak melanjutkan kuliah. Ada yang mengeluh kehidupannya garing dan menyesal karena menuruti perintah suaminya untuk berhenti bekerja. Ada yang mengeluh tentang perilaku buruk suaminya, dan menyesali jodohnya. Ada yang mengeluh kehidupan perekonomiannya menurun dan menyesali membiarkan anaknya yang ketiga terlahir. Masya Allah.

Keluhan. Betapa sering kita mendengar keluhan-keluhan. Dari yang ringan sampai yang berat. Dari yang remeh temeh sampai ke masalah yang kompleks. Mengeluh indentik dengan tidak menerima keadaan. Dengan mengeluh berarti kita ‘protes’ terhadap Sang Pencipta Keadaan yaitu Allah SWT. Mengeluh tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperburuk keadaan. Segala sesuatu telah Allah tetapkan. Jika karier tidak meningkat, sehingga pendapatan juga tidak meningkat. Itu bukan masalah tidak kuliah, tetapi memang rezeki Allah yang mengatur. Jika suami berperilaku buruk, jangan menyesali jodoh, karena jodoh Allah yang menetapkan, tetapi cari solusi terbaik agar perangai suami berubah dan kitapun dapat lebih sabar dan tabah.

Mengeluh hanya akan meracuni pikiran-pikiran kita dengan hal-hal yang negative. Jika kita mampu mengubah keadaan yang kita keluhkan, saatnya merubah pola pikir kearah yang positif dan mulai melakukan perbaikan-perbaikan. Lakukan sesuatu yang produktif agar energi kita tidak tersita dengan keluhan-keluhan. Jika kita tidak mampu mengubah apa yang kita keluhkan, berpikirlah tentang betapa banyaknya nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kita, kemudian syukurilah hal-hal baik yang kita miliki. Keluhan-keluhan yang menumpuk, pada akhirnya membuat kita menyesali, apa yang seharusnya tidak kita sesali. Mengeluh kehidupan kita garing dan meyesal mengikuti perintah suami untuk berhenti bekerja, sungguh tidak tepat. Taat kepada suami yang tidak menyalahi perintah Allah, hukumnya wajib setelah taat kepada Allah dan RasulNya, dan insya Allah syurga jaminannya. Kehidupan kita garing? Cari kegiatan positif dan menyenangkan hati kita. Mengeluh karena perekonomian menurun, kemudian menyesal membiarkan anaknya yang ketiga terlahir? Masya Allah. Setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Perekonomian menurun? Memang Allah sedang menguji dengan sempitnya rezeki, jangan sesali anak yang telah kita lahirkan.

Sungguh, kita tidak boleh menyesali apapun jika itu adalah takdir. Betapapun getirnya. Kita hanya boleh menyesali dosa-dosa kita, menyesali kesalahan yang terlajur kita perbuat, menyesali waktu yang telah berlalu tanpa kita isi dengan zikir padaNya, atau menyesali bahwa kita tidak cukup dalam menjalankan ketaatan kepadaNya. Sedangkan menyesal atas jodoh pilihan Allah, itu tidak boleh. Menyesal atas amanah yang telah Allah karuniakan kepada kita, itu juga tidak boleh. Apapun alasannya. Karena sesungguhnya segala yang telah Allah tetapkan buat kita adalah baik, karena Allah tidak akan memberi kecuali hal-hal yang baik. Walaupun terlihat buruk, walaupun terasa menyakitkan, insya Allah itu baik jika kita dapat melihat hikmah di balik kejadian ataupun peristiwa tersebut. Bukankah mendekatnya kita kepada Allah asbab ‘musibah’ yang menimpa kita adalah jauh lebih baik, ketimbang kebahagiaan hidup yang melenakan dan menjauhkan kita dariNya? Kalau kita memang terpaksa ingin mengeluh, mengeluhlah kepada Allah. Curhatlah kepadaNya. Karena DIAlah Pencipta keadaan, dan Hanya Dia yang mampu menyelesaikan segala persoalan.

Menjalani hidup ini, saya merasa beruntung dan bersyukur bahwa Allah banyak memberi lebih dari yang saya harapkan. Terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, bahkan boleh dibilang sedikit kekurangan. Ibu membantu perekonomian keluarga dengan menerima jahitan. Teringat dahulu, sebelum saya barangkat sekolah, saya menunggu ibu yang pagi-pagi sudah pergi mengantar jahitan. Katanya, kalau tidak dapat ongkos jahitnya, maka saya juga tidak dapat uang jajan. Atau ketika malam takbiran, ketika teman-teman sebaya sibuk keliling kampung dan bersukaria, saya begadang memasang kancing baju pesanan langganan ibu. Pada saat saya masih SD, saya menghabiskan waktu malam saya mengajar private anak-anak tetangga. Saya jalani hidup saya, dan rasanya saya happy-happy saja. Masalah silih berganti, perekonomian yang tidak kunjung membaik, sementara ibu memiliki 5 anak, yang kesemuanya memasuki usia sekolah. Belum lagi masalah-masalah lain yang tidak bisa saya sebutkan. Intinya, saya kenal yang namanya kesulitan hidup, saya kenal yang namanya kegetiran.

Alhamdulillah, saya bisa kuliah. Alhamdulillah saya bisa bekerja seusai kuliah. Dan masalah jodoh, sungguh saya tidak memilih kriteria yang macam-macam. Pada waktu itu saya hanya berharap Allah menjodohkan saya dengan seorang laki-laki yang akan mencintai saya karena Allah dan akan saya cintai karena Allah. Seorang laki-laki yang dapat membimbing saya dalam ketaatan kepadaNya. Seorang laki-laki yang Allah ridhoi sebagai pasangan hidup saya. Mengenai latar belakangnya, asalnya darimana, lulusan apa atau kerja dimana, tidak menjadi concern saya. Bukan tidak ingin memiliki suami dengan bibit,bebet dan bobot yang baik, hanya saja saya tidak ingin mendikte Allah tentang jodoh saya. Saya pasrahkan kepada Allah, agar memberi saya pendamping hidup yang baik dalam pandanganNya. Berharap yang terbaik, dan mempersiapkan diri untuk yang terburuk.

Alhamdulillah, Allah jodohkan saya dengan pendamping hidup yang memberi saya kebahagiaan dan kenyamanan hidup. Seseorang dengan kepribadian dan prinsip-prinsip hidup yang syar’i.

Benang merah dari sekilas kehidupan pribadi saya adalah, belajarlah menerima keadaan, apapun itu, sebagai bagian takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita. Berhenti mengeluh. Karena itu adalah respon negative yang membuat pola pikir dan tindakan kita jadi tidak produktif. Dari pada mengeluh, cari jalan keluar. Lakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan, insya Allah, Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-hambaNya yang telah bersungguh-sungguh dalam usahanya. Kemudian bersabarlah dan pasrahkan hasilnya kepada Allah. Insya Allah, segalanya akan indah pada waktunya. Kita pasti menuai apa yang kita tanam. Jangan banyak mengeluh atau ‘protes’, Insya Allah, Allah akan memberi lebih dari yang kita bayangkan.

Sebagai gambaran, ada dua orang anak yang dicintai dan diperlakukan sama dengan ibunya. Si anak yang satu, protes terus terhadap segala yang diberikan ibunya. Dibelikan baju, mengeluh warnanya tidak sesuai, dibelikan makanan, mengeluh tidak sesuai selera. Pokonya ada saja yang dikeluhkan. Sementara, si anak yang kedua, apa saya yang diberikan ibunya, tidak pernah dikeluhkan. Diterima saja dengan rasa terimakasih. Sebagai ibu, tentu ia mencintai kedua anaknya. Tetapi, kepada siapa si ibu lebih simpatik?

Buruknya dari habit mengeluh adalah ia bagaikan virus yang mudah menyebar. Test case, cobalah kita berkumpul-kumpul dengan teman-teman, kemudian kita ungkapan sebuah keluhan tentang suatu hal, kemungkinan besar orang-orang lainpun akan menimpali dengan keluhan. Misalnya kita mengeluh tentang rusaknya ruas jalan A, sehingga menghambat perjalanan, mereka-mereka yang mengalami hal yang sama kemungkinan besar akan mengeluhkan hal yang sama. Kita mengeluh tentang perangai buruk suami misalnya, yang lainpun akan menimpali dengan keluhan-keluhan mereka tentang suami-suami mereka. Energi negative akan mengalirkan hal-hal yang negative. Karenanya, ciptakan pola pikir positif. Terima keadaan sebagaimana adanya tanpa keluhan. Jika dapat kita ubah, ubahlah. Jika tidak, terimalah sebagai pernak-pernik kehidupan yang harus kita jalani. Ridholah dengan takdirNya. Dan nantikan, sentuhan cintaNya dalam setiap aspek kehidupan kita, sehingga kita dapat jalani hidup ini dengan seyuman. Insya Allah.

Wallahu’alam.

To my beloved husband, ‘’Happy birthday, semoga Allah mengaruniai sisa umur yang penuh berkah. Semoga Allah jadikan kita pasangan hidup yang saling mencintai karenaNya, dan semoga Allah persatukan kita dan anak keturunan kita dalam JannahNya. Aamiin.”

Pada zaman dahulu, perempuan dianggap sebagai makhluk yang tidak berharga, sehingga memiliki anak perempuan layaknya aib. Maka dahulu, banyak anak-anak yang terlahir dengan jenis kelamin perempuan dikubur hidup-hidup. Bayangkan, jika hal tersebut berkelanjutan, mungkin proses generasi akan terputus.

Kemudian Islam datang dengan segala kemuliaannya. Islam menyelamatkan perempuan dari segala bentuk kezhaliman dan penindasan, dan mengangkatnya menuju kemuliaan dan sumber kebaikan. Islam mengembalikan kedudukan perempuan sebagai manusia yang sama dengan kaum laki-laki di hadapan Allah. Sama dalam hal perintah untuk mentaatiNya. Sama dalam hal kewajiban masalah peribadatan, yang membedakan hanya pada adanya sebagian hukum yang dikhususkan bagi mereka sesuai fitrah dan tabiat masing-masing.

Zaman sekarang, memiliki anak perempuan menjadi sebuah keinginan. Apalagi kalau belum punya anak perempuan. Bagi para ibu, memiliki anak perempuan menjadi dambaan, katanya biar ada temen jalan-jalan dan ada temen ngobrol.

Kurang lebih 3 minggu yang lalu, seorang teman melahirkan anaknya yang ketiga. Dan ia mengabarkan berita tersebut lewat sms dengan ucapan Alhamdulillah bahwa anaknya telah lahir dengan selamat. Namun ia menyebut “TAPI laki-laki” ketika memberitahu bahwa anaknya yang baru lahir, jenis kelaminnya laki-laki, -kebetulan anaknya yang pertama dan kedua laki-laki. Kenapa harus pakai TAPI?

Zaman sekarang, memiliki anak perempuan kadang menjadi obsesi yang berlebihan. Terlebih bagi yang belum punya anak perempuan. Alkisah, aku memiliki teman. Ia ingin sekali memiliki anak perempuan, karena ia sudah punya dua anak laki-laki. Maka, iapun mengikuti sebuah program untuk dapat melahirkan anak dengan jenis kelamin perempuan. Entah sudah berapa banyak rupiah yang harus dikeluarkannya demi obsesinya itu. Entah sudah berapa banyak tenaga dan waktu yang tersita untuk urusan itu.

Tidak salah memang, namanya juga usaha. Tapi, jika pada akhirnya ia hamil, ia memerlukan persiapan yang lebih dibandingkan wanita-wanita lain yang juga hamil. Persiapan mental untuk dapat menerima lapang dada, apapun hasil akhir dari perjuangannya selama ini. Jikalau yang lahir perempuan, pasti ia bahagia, karena inilah obsesinya. Tapi, jika yang lahir ternyata laki-laki? Inilah yang perlu diantisipasi, jangan sampai si anak merasa menjadi anak yang tidak diinginkan. Karena sebesar apapun usahanya, tidak ada jaminan tentang keberhasilannya.

Ia mengatakan bahwa program yang dijalaninya, memiliki tingkat keberhasilan 90%. Artinya jika ada 10 orang yang turut serta program tersebut, maka 9 orang berhasil dengan keinginan masing-masing dan menyisakan 1 orang yang gagal. Pastikah?

Ilmu tentang genetika dan biologi molekuler yang berkembang pesat dan di dukung dengan teknologi yang canggih, tetap saja tidak dapat menandingi KEKUASAAN Allah. Allahlah Sang Penentu. Maka, sebesar dan setinggi apapun usaha kita, keberhasilannya tetap di tangan Allah.

Aku sendiri, saat ini memiliki 3 anak, yang semuanya laki-laki. Ketika aku hamil anak yang ketiga, banyak yang ‘mendo’akan’ agar seandainya lahir, jenis kelaminnya perempuan. Ternyata, anakku yang ketiga laki-laki lagi. Ada yang berkomentar bahwa aku kurang kuat do’a-nya. Ada yang bilang aku kurang banyak shalat hajatnya. Ada yang bertanya,”Pake minta nggak Um?” (maksudnya memohon kepada Allah anak laki-laki atau perempuan)

Dengan yakin aku menjawab,”Aku minta, tapi mintanya agar anakku lahir dengan selamat dan dipermudah proses melahirkannya. Aku minta supaya anakku terlahir sehat dan sempurna, tapi nggak minta laki-laki atau perempuan.” Jawabku waktu itu.

“Kenapa nggak? Memang nggak pengen anak perempuan?” tanyanya lagi

Bukannya tidak ingin anak perempuan. Sejak hamil anak yang pertama, kedua dan ketiga, aku memang tidak pernah mengkhususkan “meminta” agar diberi anak dengan jenis kelamin tertentu. Aku serahkan sepenuhnya kepada kehendakNya. Karena aku meyakini, DIAlah yang paling tahu tentang kapasitas diri ini, dibanding diriku sendiri, maka aku tak hendak ikut campur dalam urusanNya dalam menentukan jenis kelamin anak-anakku. Aku diamanahi 3 anak laki-laki (saat ini), mungkin memang itulah yang pas dan sesuai dengan diriku. Wallahu’alam.

Karenanya, apapun jenis kelamin anak-anak kita, sama saja, sama-sama amanah dari Allah. Sama-sama wajib kita didik menjadi anak-anak yang taat kepada Allah. Yang beda hanya cara mendidiknya karena harus disesuaikan dengan fitrah dan tabiat mereka masing-masing. Maka, syukurilah apapun yang Allah berikan kepada kita. Ini akan lebih menentramkan batin. Insya Allah. Tidak salah memang memiliki keinginan. Sah-sah saja memiliki harapan. Asal jangan sampai keinginan dan harapan yang tidak tercapai, mengoyak keimanan kita kepada Allah.

Wallahu’alam.

Oleh: ummuali | 19/08/2010

Menyikapi Sebuah Musibah

Dua hari yang lalu, ba’da Maghrib, sepulang dari bekerja, masih dengan tas yang melingkar di bahunya, suamiku berkata,”Mi, kena musibah!”

“Kenapa?” tanyaku penasaran

“Laptop hilang!” jawab suamiku

“Innaa Lillaahi…gimana ceritanya?”

Kemudian, mengalirlah dari mulut suamiku, kronologis kejadian. Ia mampir untuk shalat sekaligus berbuka di sebuah masjid di daerah warung buncit ketika menuju ke rumah. Ketika hendak shalat, disandarkan tasnya yang berisi laptop di dinding mesjid sebelah kiri di area shalat. Ia shalat dengan posisi sejajar dengan tasnya. Usai shalat, dilihatnya posisi tas sudah berubah  dengan resleting yang telah terbuka, dan dilihatnya laptopnya sudah tidak ada.

“Jadi, gimana dong?” Tanya si sulung yang berusia 6 tahun, yang ikut antusias mendengar cerita Abinya.

“Ya, nggak gimana-gimana, khan sudah hilang!” jawab suamiku

“Insya Allah, Allah akan ganti dengan yang lebih baik.” Jawabku

“Jadi, nanti Abi dapet laptop yang lebih bagus lagi?” tanyanya kemudian

Belum sempat kami jawab, anak kami yang kedua bertanya,” Abi, laptop Abi nggak ada?”

“Nggak, diambil orang!” jawab Suamiku

“Kenapa diambil sama orang?” Tanya anakku lagi

“Mungkin orang yang ngambil, nggak punya laptop, atau nggak punya uang.”

Aku beranjak ke dapur untuk menyiapkan makanan. Abinya anak-anak masih “berdiskusi” dengan anak-anak tentang “musibah” yang baru saja dialaminya. Ku dengar suamiku berkata kepada anak-anak agar sebaiknya  mendo’akan orang yang mengambil laptop itu agar diberi hidayah oleh Allah.

….

Para ulama mendefinisikan musibah sebagai “segala apa yang tidak disukai yang terjadi pada manusia”. Musibah, sekecil apapun tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah. Karena Allah berfirman dalam Q.S At-Taghabun : 11, “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Karenanya, musibah apapun yang menimpa kita, harus disikapi dengan cara yang benar. Musibah, apapun bentuknya, adalah bagian dari ketetapanNya. Yang harus kita lakukan adalah tetap berprasangka baik kepada Allah dan yakin bahwa Allah Swt TIDAK AKAN PERNAH berkehendak buruk kepada hamba-hambaNya.

Islam mensyariatkan kepada umatnya apabila tertimpa musibah, baik besar maupun kecil untuk ber-istirjaa’- pernyataan kembali kepada Allah, yaitu mengucapkan “Innaa Lillaahi wa Innaa illaihi raaji’uun” yang artinya “Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali.”

Kalimat ini, memiliki makna teologis yang mendalam. Kalimat ini menyiratkan ketauhidan, bahwa kita milik Allah dan segala sesuatu adalah milikNya. Karenanya, sesungguhnya kita tidak akan pernah kehilangan, karena kita tidak pernah memiliki. Jadi, sebuah kehilangan, bukanlah kehilangan, tapi kembali kepada Sang Pemilik. Jika Sang Pemilik masih berkehendak, sesuatu yang hilang itu “diamanahkan” kepada kita, bagaimanapun caranya Insya Allah akan kembali. Jika tidak, Insya Allah ada banyak hikmah dibalik segala bentuk kehilangan.

Hikmah yang paling besar adalah peluang terhapusnya dosa asbab musibah yang menimpa kita, jika diterima dengan ikhlas dan sabar.  Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu rasa sakit dengan duri atau apa saja, kecuali Allah menggugurkan dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daun.” (HR. Bukhari)

Maka, kata syeikh Islam Ibnu Taimmiyah, bencana-bencana yang menimpa manusia adalah kenikmatan, karena terhapusnya dosa dan kesalahan asbab musibah yang menimpa adalah kenikmatan yang besar. Dan Allahpun berfirman,”…Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila tertimpa musibah, mereka berkata “Innaa Lillaahi wa Innaa illaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S Al-Baqoroh : 155-157).

Jadi ada 3 hal yang dijanjikan Allah kepada hamba-hambaNya, bilamana tertimpa musibah kemudian bersabar; Allah akan memberi Ampunan, Rahmat dan PetunjukNya.

Di malam harinya, kulihat suamiku di pembaringan menatap langit-langit.

“Lagi mikir apa Abi?” tanyaku

“Mencari hikmah dari peristiwa tadi. Apakah ini teguran atas banyaknya kelalaian, apa pengingat atas kurangnya ibadah, atau petunjuk untuk sesuatu yang lebih baik.”

“Jika pikiran kita tertuju kepada materi, maka pola pikir kita sama dengan Ali (nama anak sulung kami), bahwa Allah akan memberi ganti yang lebih baik berupa laptop yang lebih bagus. Padahal kesempatan menuai pahala dari musibah ini, sesungguhnya merupakan pengganti yang lebih baik-karena pahala adalah investasi ukhrawi-“ lanjut suamiku.

Aku jadi ingat sebuah hadist dari Rasulullah,”Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin, karena semua keadaan baik baginya, dan itu tidak terjadi pada siapapun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kelapangan dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesulitan dia bersabar, maka itupun baik baginya.” (HR. Muslim)

Mudah-mudahan, di bulan yang penuh berkah ini, Allah cucurkan RahmatNya kepada kita semua. Mudah-mudahn Allah menjadikan kita sebagai mukminin dan mukminat yang senantiasa berada dalam dua keadaan, yaitu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan. Aamiin.

Wallahu’alam.

Oleh: ummuali | 04/08/2010

Fadhilah Ramadhan

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kita nikmat Islam, nikmat Iman dan nikmat sehat dalam ketaatan kepadaNya. Segala puji bagi Allah yang ditanganNya terletak kendali segala urusan. Dan dalam kekuasaanNya tergenggam kunci segala kebaikan dan keburukan. Dialah yang mengeluarkan para hambaNya dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang.

Salam serta salawat semoga tercurah kepada junjungan kita, nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya yang istiqomah dalam menjalankan syariatNya. A’ma ba’du

Marhaban Yaa Ramadhan. Marhaban ya syahrut tarbiyah, syahrul maghfirah warrahmah.

Insya Allah tidak lama lagi, seandainya masih ada umur,  kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Di tahun berapapun Ramadhan menyapa, Ramadhan akan menawarkan kebaikan yang sama besar, sama mulianya, dan sama agungnya. Tidak ada yang berubah dari Ramadhan. Kita lah yang berubah, suasana hati kita, tingkat keimanan kita juga pernik kehidupan kita dsb. Tapi bagaimanapun keadaan kita, bulatkan tekad agar Ramadhan kita kali ini benar-benar bermakna, karena jangan-jangan ini Ramadhan terakhir bagi kita.

Untuk itu, mari kita manfaatkan Ramadhan yang insya Allah akan menyapa kita sebentar lagi dengan sebaik-baiknya. Berikut kita akan bahas tentang fadhilah atau keutamaan-keutamaan Ramadhan, agar kita sadar bahwa Ramadhan bukanlah bulan biasa, Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, bulan terbukanya pintu surga, bulan tertutupnya pintu neraka dan bulan terbelenggunya syetan-syetan.
‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ‏ ‏وَصُفِّدَتْ ‏ ‏الشَّيَاطِينُ ‏

Apabila datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu pintu neraka ditutup dan para setan dirantai.

Rasulullah SAW pun bersabda “ Seandainya umatku mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka akan menginginkan agar seluruh bulan dalam setahun menjadi bulan Ramadhan.”

KEUTAMAAN RAMADHAN

  • Hadist Pertama

Dari Salman r.a. meriwayatkan : Pada hari terakhir bulan Sya’ban, RasulullahSAW berkhutbah kepada kami, “Wahai manusia, kini telah dekat kepadamu satu bulan yang agung,  bulan yang sarat dengan berkah, yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Inilah bulan yang Allah tetapkan shaum pada siang harinya sebagai fardhu, dan shalat tarawih pada malam harinya sebagai sunnah. Barangsiapa ingin mendekatkan dirinya kepada Allah pada bulan ini dengan suatu amalan sunnah, maka pahalanya seolah-olah ia melakukan amalan fardhu pada bulan-bulan yang lain. Dan barangsiapa melakukan amalan fardhu pada bulan ini, maka ia akan dibalas dengan pahala seolah-olah telah melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan yang lain. Inilah bulan kesabaran dan ganjaran bagi kesabaran sejati adalah surga, bulan ini adalah bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rejeki orang-orang beriman ditambah. Barangsiapa memberi makan kepada orang yang shaum maka kepadanya dibalas dengan keampunan terhadap dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka jahanam dan dia memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana orang yang shaum tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang shaum itu.

Kami pun berkata, “Ya Rasulullah! Tidak semua orang diantara kami mempunyai sesuatu yang dapat diberikan kepada orang yang shaum untuk berbuka.”

Rasulullah menjawab,” Allah akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka walaupun hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau seisap susu. Inilah bulan yang pada sepuluh hari pertamanya Allah menurunkan Rahmat, sepuluh hari pertengahan Allah memberikan keampunan, dan pada sepuluh hari yang terakhir Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, maka Allah mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada bulan ini empat perkara. Dua perkara dapat mendatangkan keridhaan Allah, dan dua perkara lainya pasti kamu memerlukannya. Dua perkara yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu, hendaklah kalian membaca kalimat thayibah dan istighfar sebanyak-banyaknya. Dan dua perkara yang kalian pasti membutuhkannya, yaitu hendaknya kamu memohon kepadaNya untuk masuk surga dan berlindung kepadaNya dari api neraka. Dan barangsiapa memberi minum kepada orang yang shaum untuk berbuka, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, yang sekali minum saja dia tidak akan merasakan dahaga lagi sehingga ia memasuki surga.”

  • Hadist Kedua

Dari Ka’ab bin Ujrah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Celakalah orang yang mendapati Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan.”


  • Hadist Ketiga

Dari Ubadah bin Shamit r.a, sesungguhnya pada hari ketika Ramadhan hampir tiba Rasulullah SAW. Bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, dimana Allah melimpahkah keberkahan, menurunkan rahmat dan mengampuni dosa-dosamu, menerima do’a-do’amu, melihat atas perlombaanmu dalam kebaikan dan membanggakanmu dihadapan para malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah SWT kebaikanmu. Sesungguhnya orang yang celaka adalah dia yang terhalang dari rahmat Allah pada bulan ini.”

  • Hadist Keempat

Dari Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Banyak orang yang shaum tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali lapar dan haus, dan banyak orang yang bangun shalat malam hari tetapi tidak memperoleh apa-apa dari shalatnya kecuali letih.”

Kiranya cukuplah hadist pertama seperti disebutkan diatas, memberikan gambaran yang jelas akan fadhilah Ramadhan.

Dalam hadist kedua dan ketiga, Rasulullah berbicara tentang orang-orang yang celaka dikarenakan tidak mendapat keampunan, padahal di bulan Ramadhan berkah tercurah laksana hujan deras. Padahal inilah bulan penuh rahmat, padahal inilah bulan mustajabnya do’a, padahal inilah bulan penghapusan dosa. Sungguh kita akan merugi seandainya moment Ramadhan tidak kita jadikan kesempatan untuk melakukan kebaikan, sungguh kita akan merugi, jika  Ramadhan tidak kita jadikan ladang untuk beramal.

Pada hadist keempat diuraikan mengenai orang-orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Mengenai penafsiran hadist diatas para ulama berpendapat;

  • Mereka adalah orang yang shaum pada siang hari dan berbuka dengan makanan yang haram;
  • Meraka adalah orang yang bershaum, tetapi tidak mencegah dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat;
  • Mereka adalah orang yang shaum, tetapi masih berghibah. Apakah ghibah itu? Rasulullah bersabda,”Mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai dibelakangnya.” Sahabat bertanya,”Bagaimana seandainya hal itu memang ada pada dirinya? Rasulullah menjawab,”Bila benar demikian, maka itulah yang namanya ghibah, sedang jika yang kamu katakan dusta, maka kamu telah memfitnahnya.” Mengenai ghibah perlu sediki dibahas, karena menjadi kecenderungan kita, manakala berkumpul maka lidah kita tidak terbebas dari ghibah, seandainya kita mampu menahan lidah, maka kadangkala telinga kitalah yang berpartisipasi mendengarkan ghibah, padahal sungguh ghibah mencukur amalan sebagaimana gunting memangkas rumput. Di akhirat kelak, jika kita tidak minta dihalalkan di dunia, maka pahala-pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita ghibahi, sekiranya kita tidak memiliki pahala, maka dosa-dosa orang yang kita ghibahi akan dibebankan kepada kita. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari perbuatan ghibah.

Oleh karena itu, agar puasa kita tidak sia-sia, inilah 6 (enam) perkara yang sangat penting untuk dijaga ketika shaum;

  • Hendaknya menjaga pandangan dari melihat hal-hal yang dilarang. Melihat dengan nafsu terhadap istri sendiripun dilarang, apalagi terhadap wanita lain. Juga penting untuk menghindari pandangan dari melihat hal-hal yang melalaikan.
  • Menjaga lidah dari dusta, perkataan sia-sia, mengumpat, perkataan kotor, menipu, bertengkar, ghibah dan sebagainya.
  • Menjaga telinga dari mendengarkan hal-hal yang makruh, apalagi yang haram. Hal-hal yang perkataan dilarang mengucapkannya maka telingapun dilarang mendengarkannya.
  • Seluruh jasad kita hendaknya dijauhkan dari dosa dan hal-hal yang haram. Tangan jangan menyentuhnya, kaki jangan berjalan kearahnya, begitupula anggota tubuh yang lain. Perut jangan sampai terisi makanan yang haram maupun syubhat. Haram secara zatnya maupun cara mendapatkannya.
  • Jangan makan terlalu kenyang ketika berbuka.
  • Hendaknya ada rasa khawatir di dalam diri kita, apakah shaum kita diterima atau tidak oleh Allah SWT.

Enam perkara tersebut penting bagi orang-orang awam, sedangkan untuk orang-orang yang lebih tinggi tingkatannya yakni orang-orang yang dekat dengan Allah, maka ada satu perkara lagi yang hendaknya dimiliki yaitu hatinya tidak memberikan perhatian kepada apapun kecuali Allah. Istilahnya adalah shaum hati, yaitu mengosongkannya dari cinta dunia. Kemudian shaum yang sangat khusus dan rahasia yaitu shaum pikiran, dimana kita tidak memikirkan segala sesuatu kecuali Allah.

Tujuan dari shaum adalah mengurangi kekuatan nafsu syahwat dan kekuatan sifat hewaniyah dan meningkatkan kekuatan iman (Nuraniyah) dan ketaatan (Malakiyah). Selama 11 bulan kita makan dan minum dengan bebas, maka pengurangan makanan pada bulan Ramadhan sesungguhnya tidak akan membahayakan jiwa kita. Tetapi apa yang terjadi pada shaum kita pada hari ini? Justru kita memperbanyak makanan dan variasinya di bulan Ramadhan melebihi hari-hari biasa di luar Ramadhan. Cara makan yang demikian sebenarnya bertentangan dengan semangat Ramadhan dan tujuan shaum.

Jika kita ingin menghormati Ramadhan maka perbanyaklah amalan, bukan makanan.

Tujuan shaum adalah menundukkan kekuatan iblis dan hawa nafsu, bagaimana hal tersebut dapat dicapai dengan memperbanyak makan ketika berbuka? Jika kita makan sekenyang-kenyangnya ketika berbuka, maka hawa nafsu yang seharusnya melemah, justru menjadi semakin kuat.  Rasulullah bersabda,”Syetan mengalir di dalam tubuh kita bagaikan aliran darah, maka tutuplah jalannya dengan berlapar.”

Rasulullah SAW juga bersabda,”Tidak ada yang lebih dibenci Allah Swt terhadap sesuatu yang diisi penuh kecuali seseorang yang memenuhi perutnya dengan makanan.”

Pada kesempatan lain Rasulullah bersabda, “ Cukuplah dengan beberapa suap makanan yang dapat meluruskan punggung. Jika seseorang harus tetap melanjutkan makannya, maka tidaklah lebih dari kadar ini, yaitu sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi dibiarkan kosong untuk udara.”

Semoga Allah Swt  memberi kita kekuatan untuk mengamalkannya dan mengajak orang lain untuk turut serta mengamalkannya. Amiin.

Billahiwalhidayah, akhiru kalam, Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Oleh: ummuali | 01/08/2010

Mendadak Amnesia

Ini cerita tentang saudara di jalan Allah. Suatu pagi ia datang mengembalikan hutangnya yang telah dipinjamnya beberapa tahun lalu. Kami sendiri sesungguhnya sudah hampir lupa. Yang membuat kami salut adalah untuk sampai ke kediaman kami sungguh bukan hal yang mudah, karena tempat tinggal kami berjauhan dengannya. Mengembalikan uang via bangking, mungkin tidak pernah terlintas dalam benaknya. Yang membuat kami terharu, ia menyodorkan kepada kami lembaran ribuan sejumlah 200 lembar. Subhanallah.

Ini sebuah pelajaran berharga. Sebuah contoh dari  kesungguhan hati untuk benar-benar menunaikan kewajiban mengembalikan hutang. Tentu saja ini berangkat dari sikap tanggungjawab yang besar  dan juga pemahaman yang baik tentang masalah hutang piutang dalam islam.

Jarak yang jauh tidak jadi halangan baginya untuk datang membayar hutang. Dan tentunya, ia butuh perjuangan untuk dapat mengembalikan uang tersebut. Lembaran-lembaran ribuan yang dikumpulkannya satu persatu…hari demi hari…Masih dapat aku saksikan bekas lipatan-lipatan di lembaran tersebut. Mungkin ia menampungnya dalam sebuah celengan. Subhanallah.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, masalah pinjam meminjam, hutang piutang adalah hal yang biasa dan dapat dimaklumi. Karena memang tidak semua orang diberi kelonggaran rezeki. Ada yang kekurangan atau tengah diuji berupa kesempitan dalam memenuhi kebutuhannya, dan di lain pihak ada yang dilapangkan.

Dalam islampun, masalah hutang merupakan muamalah yang dibolehkan. Tapi, perlu dicatat, bahwa masalah hutang ini bisa membawa orang ke surga, juga bisa menjerumuskan seseorang dalam neraka. Karena dalam masalah hutang piutang, kasus yang sering kita jumpai adalah pihak pengutang mengulur-ulur waktu mengembalikan, walau sudah jatuh tempo. Atau jika belum dapat mengembalikan, tidak ada itikad baik untuk meminta tangguh kepada yang meminjamkan. Bertemu dengan saudara yang meminjamkan langsung menghindar atau “mendadak amnesia”.

Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari)

Bayangkanlah, ketika seseorang terdesak kebutuhan, ia akan mengeluarkan segala perbendaharaan kata, dengan tutur kata manis dan menyentuh ia berusaha mendapatkan pinjaman. Dan sering peminjam dengan sangat meyakinkan mengucapkan “Insya Allah akan segera dikembalikan”.  Namun, ketika jatuh tempo waktu mengembalikan, tetapi belum dapat ditunaikan, tak jarang keluar beragam alasan-alasan yang menjurus kepada dusta.

Rasulullah bersabda,”Barang siapa (yang berhutang) di dalam hatinya tidak ada niat untuk membayar hutangnya, maka pahala kebaikannya akan dialihkan kepada yang memberi piutang. Jika belum terpenuhi, maka dosa-dosa yang memberi hutang akan dialihkan kepada orang yang berhutang.” (HR. Baihaqi, Thabrani, Hakim)

Oleh karenanya, kendati hutang dibolehkan, kita harus ekstra hati-hati. Terkadang, tanpa sadar kita suka meminjam uang kecil, seribu atau dua ribu untuk membeli atau membayar sesuatu ketika kita tidak punya uang kecil. Kemudian kita lupa dan orang yang meminjamkan kepada kitapun malu untuk menagih. Padahal telah tercatat dalam catatan amal perbuatan kita sebuah hutang yang harus dibayar.

Rasulullah bersabda,”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, lalu hidup kembali, lalu terbunuh lagi, lalu hidup lagi, lalu terbunuh lagi sementara dia punya hutang maka dia tidak akan masuk surga sehingga dilunasi hutangnya.” (An-Nasa’I, At-Thabrani dan Al-Hakim.”

Sungguh, kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput, maka, sekiranya kita memiliki hutang-hutang yang harus dilunasi, setidaknya, buatlah catatan-catatan, agar ada orang lain yang tahu akan kewajiban kita untuk membayar hutang. Pernah seorang teman bercerita bahwa dalam beberapa hari ia bermimpi melihat almarhum ayahnya. Di mimpi itu ada ayahnya dan beberapa orang yang meninggal. Tetapi ia lihat semua yang meninggal dikafani dan dishalatkan kecuali ayahnya. Selidik-selidik, ternyata almarhum ayahnya memiliki tanggungan hutang yang belum dibayarkan.

Karenanya, jangan sepelekan masalah hutang. Tidak boleh seseorang menunda pembayaran hutang, padahal ia telah diberi kemampuan oleh Allah untuk membayarnya. Menunda-nunda pembayaran hutang padahal mampu adalah sebuah kedzaliman. Bahkan ada hadist riwayat Baihaqi yang menyebutkan bahwa, “Barangsiapa menunda-nunda pembayaran utang, padahal ia mampu membayarnya, maka bertambah satu dosa baginya setiap hari.”

Disamping ancaman-ancaman keras kepada peminjam, Islampun memberi apresiasi kepada pemberi pinjaman.  Asal perlu diingat, jangan sampai meminta tambahan dalam pengembalian pinjaman, karena ini hukumnya haram. Karenanya, niatkan memberi pinjaman untuk mencari keuntungan ukhrawi.

Rasulullah bersabda,”Barangsiapa meminjamkan harta kepada orang lain, maka pahala shadaqoh akan terus mengalir kepadanya setiap hari dengan jumlah sebanyak yang dipinjamkan, sampai pinjaman tersebut dikembalikan.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

Semoga Allah melindungi kita dari berhutang dan memberi kita kelapangan hati untuk membantu yang membutuhkan. Amiin.

Wallahu’alam

Oleh: ummuali | 29/07/2010

Kesadaran dan Keikhlasan Menjalankan Peran

Baru-baru ini aku berkenalan dengan seorang ibu (ibunya teman sekolah anakku). Awalnya, karena baru kenal, obrolan kami hanya seputar hal-hal yang umum saja. Keesokkan harinya, kami berbincang tentang perkembangan anak-anak. Keesokkan harinya lagi , obrolan kami masih seputar perkembangan anak-anak. Tapi anehnya, dalam setiap bahasan ia selalu mengatakan “Saya kan S2, jadi bla, bla, bla.” Jadi entah sudah berapa kali dalam obrolan kami hari itu ia menyebut “Saya kan S2.” Pada saat itu, kupikir ia hanya berusaha memperlihatkan bahwa ia adalah wanita terdidik. Ia berusaha memberitahu bahwa ia bukan orang “sembarangan”.

Keesokkan harinya,  kami berkesempatan untuk bertemu lagi. Ia masih memakai gaya bahasa yang sama seperti kemarin, mengawali pembahasan sesuatu dengan “Saya kan S2”. Mungkin ia takut aku lupa, jadi perlu diulang-ulang. Aku jadi merasa tidak nyaman. Apa pentingnya kita menyebut diri kita lulusan S2 hanya karena kita memasukkan anak kita ke SDIT? Apa pentingnya menyebut diri kita lulusan S2 hanya karena semua anak-anaknya diikutkan kursus Matematika dan Bahasa Inggris sejak TK. Selain nggak penting juga nggak nyambung. Lama-lama aku berpikir, jangan-jangan Ibu ini “Stress”.

Suatu hari, tanpa disangka-sangka, ibu ini menghampiriku, katanya, “Saya perlu bicara, bisa?” sedikit bingung, aku mengiyakan.

Ternyata benar, ibu ini dalam keadaan tertekan. Depresi berat, sampai-sampai ia mengaku pernah berfikir untuk bunuh diri. Masya Allah. Akhirnya, aku undang ibu tersebut untuk silaturahmi ke rumahku, agar ia dapat lebih bebas mengeluarkan isi hatinya.

……

Ia mengawali kisahnya dengan mengatakan bahwa ia adalah anak orang tidak punya, dengan kemauan keras dan dukungan orang tuanya, ia dapat menyelesaikan studi S2-nya. Ia kemudian bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga. Ia masih bekerja setelah menikah. Namun setelah memiliki anak, ia berhenti bekerja. Dengan memiliki anak, tentu saja ada pergeseran prioritas dan penambahan tanggung jawab. Sang suami kurang setuju jika ia tetap bekerja. Terlebih, secara materi suami mampu mencukupi. Demi menghargai, menghormati dan mentaati suaminya, iapun berhenti bekerja, sehingga beralih perannya menjadi fulltime mother.

Menjalankan peran sebagai Ibu Rumah Tangga, bagi sebagian perempuan, adalah hal yang biasa, tapi bagi sebagian perempuan lain, merupakan hal yang berat dan memerlukan pengorbanan yang besar. Terlebih, jika perempuan tersebut berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan yang lumayan . Seperti contoh kasus diatas.

Konflik batin. Itulah yang mendera hatinya. Di satu sisi, ia menyadari demikian besar hak suami atas dirinya. Karena tidak ada kewajiban yang lebih utama bagi seorang istri setelah ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, melainkan ketaatan kepada suaminya. Di sisi lain, ada keinginan besar untuk membantu orangtua karena sangat besar pengorbanan orangtuanya sehingga ia dapat meraih gelar S2nya, pun ia adalah tulang punggung keluarga. Setelah tidak bekerja, tentu saja ia tidak memiliki kebebasan financial. Selain itu, ia merasa jerih payahnya menyelesaikan studi S2-nya menjadi sia-sia.

…..

Menikah adalah “kontrak kerjasama” antara laki-laki dan perempuan untuk membangun sebuah keluarga. Dalam “kontrak kerjasama” tersebut tentu saja tertuang mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak. Tersirat mengenai beberapa kesepakatan dan kesefahaman.

Dalam “kontrak kerjasama” itu ada hal-hal yang sudah baku dan tertuang secara eksplisit. Yaitu, masing-masing pihak mengetahui dan menyetujui untuk melakukan aturan-aturan dalam pernikahan. Suami berkewajiban mencari nafkah, istri berkewajiban mengurus anak dan hal-hal yang berbau kerumahtanggaan.

Ada pula yang tertuang secara implicit. Biasanya, masing-masing pihak tidak membicarakan atau membahasnya, tetapi saling memahami. Seperti kalau genteng bocor, maka tugas suami untuk mengurusnya, halaman rumah berantakan, maka istri yang bertugas membereskan. Dll.

Nah, selain hal-hal diatas, ada lagi yang namanya  “hidden agenda” atau agenda tersembunyi. Keinginan dari salah satu pihak yang ditutupi, kemudian diutarakan setelah pernikahan. Contoh yang extreme adalah suami tidak ingin punya anak misalnya. Sedang contoh yang paling banyak adalah, suami melarang istrinya bekerja, padahal sebelum menikah istrinya adalah wanita pekerja.

Kondisi ini rentan menimbulkan konflik, jika tidak dibicarakan pada saat proses ta’aruf atau di awal-awal pernikahan. Setidaknya Suami menyampaikan harapan bahwa yang ia dambankan adalah seorang istri yang akan selalu ada di rumah ketika ia pulang dari bekerja. Sehingga sang istri dapat memprepare dirinya agar siap menjadi Ibu Rumah Tangga.

Pada kasus teman baru ku ini, suami tidak membicarakan dari awal tentang keinginannya agar sang istri menjadi full time mother. Sedangkan mind set istrinya adalah menjadi wanita karir, karenanya ia berjuang hingga meraih gelar S2nya. Maka, kendati peran sebagai full time mother ia lakukan, ia menjalankannya tidak dengan kesadaranpenuh. Ia jalankan perannya setengah hati. Sehingga yang timbul pada dirinya adalah rasa tidak bahagia menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Inilah yang menjadi problem awal dari kehidupan rumah tangganya yang kemudian menjalar ke mana-mana. Setelah sekian tahun berjalan, ia merasa jenuh dan lelah. Ia merasa bodoh, tidak keren dan tidak berdaya. Akhirnya, timbul kecurigaan-kecurigaan berlebih terhadap suaminya. Yang memperparah keadaan adalah suami tidak sensitive terhadap “masalah”  yang dialami istrinya.

Prasangka-prasangkanya terus berkembang. Sehingga masalah-masalah sepele menjadi besar. Melihat suaminya bercanda dengan anaknya yang kebetulan sedang diasuh pembantunya, ia cemburu. Suaminya pergi dinas luar kota, ia panic. Hingga di titik tertentu, ia pernah merasa jelek, tua dan tidak menarik. Ia merasa pilihan menjadi ibu rumah tangga adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Membangun cintra diri yang positif sebagai Ibu Rumah Tangga bukan hal yang mudah. Banyak kaum wanita yang tidak “bangga” dengan perannya sebagai Ibu. Karenanya ketika ditanya apa kegiatan sehari-harinya, banyak kaum ibu yang manjawab,”Saya CUMA Ibu Rumah Tangga.” Padahal, peran sebagai Ibu adalah peran yang sangat mulia untuk melahirkan dan menumbuhkan generasi penerus. Betapa seorang ibu adalah guru pertama dan utama bagi seorang manusia. Bahwa keberadaannya di rumah untuk mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak akan dicatat sebagai ibadah kepada Allah Swt.

Tanpa pengelolaan konsep diri yang positif, seorang ibu akan sulit menjalankan perannya dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tak heran jika lama-kelamaan ibu menjadi stress berat. Bayangkan, pekerjaan rumah yang bertumpuk-tumpuk, seakan-akan tidak pernah selesai. Selesai tugas yang satu, telah menunggu tugas yang lain. Dari mulai mencuci baju, menyetrika, mencuci piring, membereskan rumah, memasak, mengurus anak dll. Padahal kunci untuk dapat menikmati apa yang kita lakukan adalah ketika kita mencintai apa yang kita lakukan. Jika kita mencintai peran kita sebagai ibu, maka kita akan dapat menghargai dan memaksimalkan peran kita  tanpa merasa terbebani.

Karenanya, menjadi Ibu haruslah dilakoni penuh kesadaran dan keikhlasan. Tanpanya, kita tidak dapat  menikmati peran keibuan kita. Tanpanya, apa-apa yang kita lakukan dalam pemenuhan kewajiban kita sebagai ibu menjadi sia-sia. Jadi, bangun citra diri positif sebagai Ibu dan berbanggalah dengan menjadi Ibu.

Wallahu’alam

Oleh: ummuali | 19/07/2010

Semangat Memberi dan Berbagi

Suatu hari, aku mengantar anakku sekolah di TK. Sambil menunggu bel berbunyi, aku dan anakku duduk di sebuah warung yang terletak di depan sekolahnya. Tak berapa lama, datanglah seorang pengemis yang terlihat tidak terlalu tua dan badannya terlihat sehat. Anakku Ibrahim serta merta berkata, “Ummi, dede aza yang kasih!” kuberikan kepadanya sekeping uang untuk diberikan kepada pengemis tersebut. Setelah pengemis tersebut pergi, keluarlah ungkapan-ugkapan dari beberapa ibu-ibu yang intinya tidak setuju dengan tindakan si pengemis.

Ibu A berkata,”Orang masih sehat minta-minta, yang kaya gitu mah ga usah dikasih Um, tuman.”

Ibu B berkata,”Di sini ngemis, di kampung rumahnya lebih bagus dari kita.”

Ibu C berkata,”Paling sebel, pagi-pagi udah ada yang ngemis.”

Aku terdiam terpaku tidak berkata apa-apa. Aku sendiri tidak bermaksud sok dermawan. Tapi, aku dan Abinya anak-anak  berusaha menanamkan sejak kecil kepada mereka untuk bersedekah kepada yang membutuhkan, untuk memberi ketika diminta dan untuk berbagi jika memiliki. Jikalau kita mengajarkan kepada mereka untuk bersedekah, kemudian dihadapannya kita tidak memberi ketika ada pengemis yang meminta, maka kita akan berangkat dari nol lagi untuk mengajarkan kepada mereka pentingnya berbagi. Dan itu jauh lebih sulit. Anak-anak yang masih kecil perlu contoh yang nyata untuk dapat mengaplikasikan apa yang kita ajarkan. Jikalau kita tidak melakukan apa yang kita ajarkan, maka petuah-petuah kita tentang mulianya bersedekah akan mentah kembali. Jadi dalam kondisi ini, aku tidak lagi mementingkan apakah pengemis tersebut memang layak diberi. Aku lebih concern terhadap suri tauladan yang harus aku tunjukkan kepada anakku. Dan anak sekecil itu belum bisa menalar apakah orang yang mengemis memang layak mengemis, belum bisa membedakan ketika seseorang meminta-minta apakah memang  orang tersebut sungguh tidak punya.

Di rumah, akupun sering kedatangan anak-anak dengan membawa kaleng, kemudian berteriak “Amaaal Jariah!”

Suatu ketika, anak-anak tersebut datang meminta amal jariah, kedua anakku serempak menghampiriku dan meminta uang untuk diberikan. Kebetulan pada saat itu ada seorang ibu yang berkunjung. Dia menginformasikan bahwa ia pernah melihat anak-anak tersebut memakai uang hasil meminta-minta untuk membeli tamiya. Dan katanya sejak itu ia malas untuk memberi jika anak-anak tersebut datang ke rumahnya. Dan akupun hanya ber-oh oh ria menanggapi pernyataan ibu tersebut.

Lagi-lagi, aku tidak bermaksud sok kebanyakan uang jika tetap memberi  walapun  tahu mungkin uang tersebut akan dipergunakan untuk jajan oleh anak-anak itu. Bagiku tidak mengapa kehilangan 1000 rupiah, tapi dengan itu aku menanam semangat memberi dan berbagi kepada anak-anakku. Tidak mengapa kehilangan 1000 rupiah, tapi dengan itu aku melihat wajah bahagia anak-anakku dan juga anak-anak tersebut.

Sebagai umat muslim, tentunya Rasulullah menjadi suri tauladan kita. Nah, baginda kita SAW, adalah orang yang paling dermawan. Beliau  tidak pernah menolak seorangpun yang meminta kepadanya. Beliau tidak pernah mengecewakan siapapun yang berhajat dengannya.

Diriwayatkan dari dari Jabir bin Abdullah ra. “Rasulullah tidak pernah mengucapkan ‘tidak’ bilamana dimintai sesuatu.”

Intinya , yang menjadi bagian kita adalah memberi ketika ada yang meminta jika kita mampu dan mau. Adapun alasan orang tersebut meminta-minta atau layak atau tidaknya orang tersebut meminta-minta bukan wilayah kita.

Rasullah bersabda, “ Seorang Bani Israil telah berkata, “Saya akan bersedekah.” Maka pada malam harinya ia keluar untuk bersedekah. Dan ia telah menyedekahkan (tanpa sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang bersedekah itu berkata,”Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri”. Kemudian ia berkeinginan untuk bersedekah lagi. Kemudian ia bersedekah secara diam-diam, dan ternyata sedekahnya jatuh ke tangan perempuan. Pada keesokan paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi sedekah berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah sampai kepada seorang pezina”. Pada malam ketiga, ia keluar untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya telah jatuh ke tangan orang kaya. Pada keesokan harinya, kembali orang-orang berkata bahwa seseorang telah bersedekah kepada orang kaya. Orang yang telah memberi sedekah itu berkata,”Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku telah sampai kepada seorang pencuri, pezina dan orang kaya.”

Pada malam berikutnya iapun bermimpi bahwa sedekahnya dikabulkan oleh Allah…………(Kanzul-‘Ummal)

Dari hadist diatas dapat diketahui jika seseorang bersedekah dengan ikhlas, namun sedekahnya jatuh kepada orang yang tidak patut menerimanya, maka Allah Swt tetap menerima sedekahnya. Yang penting bagi kita adalah menjaga niat untuk tetap ikhlas, dan tidak usah terlalu pusing memikirkan apakah sedekah kita tepat sasaran, ataukah sedekah kita jatuh kepada yang benar-benar membutuhkan. Jika kita terus berjibaku dengan pikiran-pikiran tersebut, bisa-bisa kita tidak akan berbuat.

Aku jadi teringat kejadian lama. Ketika itu, aku pergi ke pasar kaget untuk membeli pakaian anak-anak. Di sela-sela hamparan tikar para pedagang, ada seorang ibu terduduk sambil memeluk anaknya yang tidak terbilang kecil. Dihadapan ibu tersebut, ada sebuah tulisan yang isinya meminta sumbangan untuk biaya pengobatan anaknya. Aku yang kebetulan ingin membeli pakaian pada pedagang di sebelah ibu tersebut, berkesempatan melihat anaknya lebih jelas. Rupanya anak tersebut menderita kelumpuhan, dan kulihat saat itu si ibu sedang berusaha memberi minum anaknya.  Tidak disangka terdengar sindiran ibu-ibu yang melihat-lihat dagangan yang berdiri di sekelilingku.

“Tega bener itu ibu, anaknya sakit bukan di rumah aja, malah dibawa-bawa ke sini. Ceritanya biar kita kesian. Tapi malah jadi males.”

“Lagian belum tentu anaknya sakit, sapa tau emang udah dari sononya begitu. Sekarangkan udah banyak yang minta-minta model kaya gitu.”

Astaghfirullah!

Aku sengaja berlama-lama dalam memilih dan berharap ibu-ibu rumpi tersebut segera menyikir. Akupun mendekati ibu tersebut sambil bertanya-tanya. Rupanya, anak tersebut anak semata wayangnya. Dan dengan anak tersebut saja beliau tinggal. Suaminya entah kemana. Disela-sela ceritanya kudengar isak tangis yang tertahan. Ia berkata sebenarnya ia malu berbuat seperti ini, tapi tidak ada jalan lain. Ia pernah mencoba menjadi pembantu, tetapi anaknya yang semata wayang menjadi terlantar karena memang tidak ada yang membantunya untuk mengurus anaknya. Kalau ia berdiam diri di rumah siapa yang akan membiayai hidup mereka dan pengobatan anaknya. Terpaksalah jalan meminta-minta ini dia ambil, berharap ada seseorang yang berempati dan membantunya.

Lagi-lagi, ini hanya sebuah contoh. Banyak orang-orang yang kondisinya memprihatinkan dan memang membutuhkan bantuan. Tapi banyak juga pengemis-pengemis profesioanl. Mereka itu terorganisir dengan baik. Ada yang tidak cacat, dibuat seolah-olah cacat. Ada yang dalam kondisi normal, jalannya biasa saja, tapi ketika bekerja sebagai pengemis jalannya menjadi terpincang-pincang. Dan masih banyak lagi. Para pengemis yang seperti inilah yang kemudian merusak kepekaan kita terhadap penderitaan sesama. Membuat kita diambang rasa ragu untuk memberi. Pada akhirnya kita  memilih tidak memberi karena takut tertipu.

Tentu saja, memberi atau tidak memberi kepada peminta-minta menjadi urusan pribadi tiap orang. Namun, alangkah baiknya, jika kita tidak ingin memberi, tidak usah mencela ataupun memberi komentar macam-macam. Karena, jikapun si peminta-minta tidak memiliki alasan yang layak untuk meminta-minta, maka itu menjadi tanggungjawabnya di hadapan Allah. Sedangkan, si pemberi tetap akan diberi pahala atas sedekahnya walapun sedekahnya jatuh ke tangan yang salah, asal ikhlas.

Anas bin Malik ra. Menceritakan, bahwa suatu ketika ia berjalan bersama Rasulullah saw. Beliau mengenakan kain burdah terbuat dari bulu yang teramat kasar. Tiba-tiba seorang Arab Badui menghampiri dan dengan keras sekali menarik burdah beliau, sehingga Anas melihat bekasnya pada kulit pundak beliau. Lalu orang Arab Badui tersebut berkata,”Hai Muhammad perintahkan orang supaya memberikan kepadaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu!”

Rasulullah menoleh kepada orang itu sambil tersenyum, kemudian memerintahkan supaya ia diberi hadiah.” (HR Bukhari)

Inilah kemulian akhlak yang diperlihatkan Rasulullah, beliau tetap memberi walau diminta dengan cara yang kasar. Lebih dari itu, beliau Saw memberikan senyumnya terhadap si Arab Badui. Bagaimana dengan kita?

Mudah-mudahan kita dapat meneladani perilaku Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan kita. Aamiin.

Wallahu’alam.

Pada suatu siang, seorang ummahat bersilaturahim ke rumah ku. Setelah saling bertanya kabar, tukar cerita tentang kabar saudari-saudari yang lain, ngobrol tentang perkembangan anak-anak, mulailah ia berkeluh kesah akan kondisi perekonomian keluarganya.

“Ya Allah Um, rasanya tiap hari pusing ngatur keuangan. Anak  nambah, tapi gaji suami ga nambah-nambah. Rasanya sedih, kadang pengen banget ngasih anak-anak makanan yang mendingan. Yang  ada gizinya biar pada sehat dan cerdas. Tapi, bagaimana caranya? Apalagi sekarang apa-apa serba mahal.”

“Memang kalau bisanya cuma makan tempe, terus anak ga bisa sehat dan cerdas?”

“Bukan begitu, maksud aku, kalau bisa sering-sering makan enak, seafood misalnya , atau minum susu yang banyak, anak bisa lebih sehat dan cerdas. Dibandingin cuma makan tahu atau  telor tiap hari.”

……

Rasa cinta seorang ibu kepada anak-anaknya yang sedemikian besar, melahirkan keinginan untuk memberi yang terbaik. Tapi, sering keinginan tidak sejalan dengan kemampuan. Inginnya beli makanan yang enak-enak, apadaya kondisi keuangan tidak memungkinkan. Kepada ibu tersebut, aku mengajaknya untuk semangat dan berfikir positif. Berfikir anak kurang sehat atau kurang  cerdas hanya karena kita tidak dapat memberinya makanan yang “enak-enak”, adalah pola pikir negatif. Pertama , karena makanan bukan factor penentu kesehatan dan kecerdasan. Kedua, kesehatan dan kecerdasan itu adalah bagian dari takdir Allah. Jadi, sediakan saja sesuai kemampuan kita.

Teori-teori ilmiah tentang kandungan makanan olahan seafood dapat meningkatkan kecerdasan, tidak salah. Tapi, jangan sampai membuat kita berkecil hati bahwa anak jadi kurang cerdas karena jarang  mengkonsumsi makanan tersebut.

Bagian rezeki kita telah diatur oleh Allah. Andai keyakinan kita sedemikian besar, kita akan yakin, bahwa hari ini kita hanya makan tempe dan sambal adalah sudah ditetapkan Allah. Hari ini kita bisa makan daging  karena ada tetangga yang mengantar, juga merupakan ketetapan Allah. Jadi, apapun yang kita makan tiap harinya merupakan pengaturan Allah. Patutkah kita berkeluh kesah mengenai jatah rezeki dariNya?

Selain itu, jika kita yakin, apapun yang dimakan anak kita, selama itu halal dan thoyib, makanan tersebut akan membuatnya sehat dan cerdas, insya Allah. Saya katakan pada ibu tersebut, dah ulu, saya berfikiran sama seperti dia. Inginnya memasak makanan-makanan yang  enak , supaya anak-anak lebih sehat dan cerdas. Seiring bertambahnya pemahaman dan keyakinan saya kepada Allah, saya merubah cara pandang saya. Saya berfikir, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, adalah mudah bagi Allah membuat tahu atau tempe menjadi bergizi sama dengan daging atau seafood di tubuh anak saya. Toh, bagian rezeki kita Allah yang mengatur, kecondongan hati kita untuk memasak sesuatu juga bagian dari bisikanNya. Dan pastinya Allah lebih paham akan kebutuhan tubuh anak-anak kita ketimbang diri kita sendiri.

Oleh karena itu, setiap hendak memberi makan anak-anak, selain do’a makan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, saya menambahkan dalam hati saya sebuah do’a agar makanan yang dimakan anak-anak memberi manfaat dunia akhirat. Saya berdo’a agar makanan tersebut memberi anak-anak saya kekuatan dan kesehatan. Saya berdo’a makanan tersebut membuat anak-anak saya menjadi cerdas. Saya berdo’a agar makanan tersebut tidak membuat anak saya menjadi sakit. Saya berdo’a agar makanan tersebut berkah. Terkadang do’a tersebut saya lantunkan ketika saya sedang memasaknya. Alhamdulillah, saya selalu PD anak saya bisa sehat dan cerdas walau hanya saya kasih lauk pepes tahu. Adapun sekiranya mereka sakit, ya memang sudah digariskan oleh Allah sebagai bentuk ujian agar kita lebih bersabar. Jika mereka agak lambat berfikirnya atau kurang cerdas, ya mungkin karena kurang stimulasi, kurang latihan atau kurang rajin belajarnya.

Intinya, tidak usah memaksakan diri. Lakukan segala sesuatu sesuai kemampuan. Jangan bersedih dan jangan berkecil  hati.  Karena kondisi apapun yang Allah tetapkan untuk kita, pastinya itulah yang terbaik dalam pandanganNya. Hari ini rezeki kita hanya sayur bayam dan tempe, mungkin memang hanya itu yang dibutuhkan tubuh kita.

Marilah senantiasa menjaga prasangka baik kita kepada Allah, memperkuat keyakinan kita kepada Allah. Insya Allah, cara pandang ini dapat menyelesaikan banyak persoalan hidup yang menghampiri kita.

Wallahu’alam.

Kasus video porno yang  menimpa  selebriti kita masih hangat dibicarakan. Padahal telah lebih dari 5 minggu. Ada yang pro, dan adapula yang kontra. Tetapi bukan masalah pro dan kontra itu yang hendak saya bahas. Tidak bisa dipungkiri, bahwa dampak dari penyebaran video tersebut sungguh dahsyat dan sangat merusak moral generasi kita. Saya tidak ingin membela si pelaku, apalagi membenarkan perbuatannya. Tetapi menghujat si pelaku, tidak akan menyelesaikan masalah. Lagipula, apakah kita lebih baik dari si pelaku?

Syariat Islam tidak memperbolehkan kita bergunjing dan juga melarang kita menghina dan mencaci seseorang karena kemaksiatan yang dilakukannya. Karena boleh jadi si pelaku maksiat menyadari perbuatannya kemudian bertaubat. Lalu Allah menerima taubatnya dan mengampuni dosa-dosanya. Sedangkan kita, adakah jaminan bahwa kita tidak akan tergoda untuk berbuat maksiat? Jika Allah menguji kita dengan kondisi seperti si pelaku maksiat yang kita gunjingkan, adakah jaminan kita mampu bertaubat, kemudian kita diampuni?

Kita tidak dapat menilai seseorang hingga kita dapat saksikan akhir hidupnya. Boleh jadi seseorang bergelimang dosa semasa hidupnya, namun di akhir hidupnya Allah memberi hidayah kemudian menganugrahkannya husnul khotimah. Dan boleh jadi, seseorang dikenal sebagai orang baik dan sholeh semasa hidupnya, namun Allah mengujinya dengan perbuatan dosa di akhir hayatnya sehingga ia wafat dalam keadaan su’ul khotimah. Karenanya, berhati-hatilah. Kita mungkin tidak lebih baik dari orang lain.

Imam Ibnul Qayyim berkata,”Penghinaanmu kepada saudaramu, akibat dosa yang dilakukannya, adalah dosa yang lebih besar dan lebih dahsyat ketimbang kemaksiatan yang dilakukan saudaramu. Itu karena dalam penghinaan, terkandung unsur sombong, tertipu akan sikap merasa lebih taat dari yang lain, mengaku memiliki jiwa yang lebih bersih.”

Rasulullah melarang kita mencaci dan menghina orang yang melakukan dosa, walaupun dosa yang dilakukannya merupakan dosa besar. Yang diperbolehkan hanyalah sebatas menegakkan hukuman sesuai apa-apa yang telah disyariatkan. Rasulullah bersabda,“Jika ada salah seorang perempuan dan laki-laki diantara kalian berzina, dan telah terbukti perzinahannya, maka cambuklah ia sesuai hokum hudud. Dan jangan kalian menghinanya.”

Betapa Rasulullah telah mengajarkan kepada kita keluhuran budi. Kita tidak pernah aman dari godaan syetan. Sekiranya kita terjerumus dalam perbuatan maksiat (Naudzubillah), tidakkah kita merasa sedih ketika kita dihujat? Karenanya, cukuplah sekiranya yang keluar dari mulut kita adalah do’a agar  Allah melindungi kita dari berbuat maksiat, tidak usah mencaci pelaku maksiat. Justru jadikan peristiwa ini sebagai momentum agar kita lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga diri kita dan anak-anak kita. Jadikan sebagai pengingat agar kita lebih waspada terhadap pergaulan anak-anak kita. Wallahu’alam.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori