Oleh: ummuali | 04/08/2010

Fadhilah Ramadhan

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kita nikmat Islam, nikmat Iman dan nikmat sehat dalam ketaatan kepadaNya. Segala puji bagi Allah yang ditanganNya terletak kendali segala urusan. Dan dalam kekuasaanNya tergenggam kunci segala kebaikan dan keburukan. Dialah yang mengeluarkan para hambaNya dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang.

Salam serta salawat semoga tercurah kepada junjungan kita, nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya yang istiqomah dalam menjalankan syariatNya. A’ma ba’du

Marhaban Yaa Ramadhan. Marhaban ya syahrut tarbiyah, syahrul maghfirah warrahmah.

Insya Allah tidak lama lagi, seandainya masih ada umur,  kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Di tahun berapapun Ramadhan menyapa, Ramadhan akan menawarkan kebaikan yang sama besar, sama mulianya, dan sama agungnya. Tidak ada yang berubah dari Ramadhan. Kita lah yang berubah, suasana hati kita, tingkat keimanan kita juga pernik kehidupan kita dsb. Tapi bagaimanapun keadaan kita, bulatkan tekad agar Ramadhan kita kali ini benar-benar bermakna, karena jangan-jangan ini Ramadhan terakhir bagi kita.

Untuk itu, mari kita manfaatkan Ramadhan yang insya Allah akan menyapa kita sebentar lagi dengan sebaik-baiknya. Berikut kita akan bahas tentang fadhilah atau keutamaan-keutamaan Ramadhan, agar kita sadar bahwa Ramadhan bukanlah bulan biasa, Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, bulan terbukanya pintu surga, bulan tertutupnya pintu neraka dan bulan terbelenggunya syetan-syetan.
‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ‏ ‏وَصُفِّدَتْ ‏ ‏الشَّيَاطِينُ ‏

Apabila datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu pintu neraka ditutup dan para setan dirantai.

Rasulullah SAW pun bersabda “ Seandainya umatku mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka akan menginginkan agar seluruh bulan dalam setahun menjadi bulan Ramadhan.”

KEUTAMAAN RAMADHAN

  • Hadist Pertama

Dari Salman r.a. meriwayatkan : Pada hari terakhir bulan Sya’ban, RasulullahSAW berkhutbah kepada kami, “Wahai manusia, kini telah dekat kepadamu satu bulan yang agung,  bulan yang sarat dengan berkah, yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Inilah bulan yang Allah tetapkan shaum pada siang harinya sebagai fardhu, dan shalat tarawih pada malam harinya sebagai sunnah. Barangsiapa ingin mendekatkan dirinya kepada Allah pada bulan ini dengan suatu amalan sunnah, maka pahalanya seolah-olah ia melakukan amalan fardhu pada bulan-bulan yang lain. Dan barangsiapa melakukan amalan fardhu pada bulan ini, maka ia akan dibalas dengan pahala seolah-olah telah melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan yang lain. Inilah bulan kesabaran dan ganjaran bagi kesabaran sejati adalah surga, bulan ini adalah bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rejeki orang-orang beriman ditambah. Barangsiapa memberi makan kepada orang yang shaum maka kepadanya dibalas dengan keampunan terhadap dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka jahanam dan dia memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana orang yang shaum tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang shaum itu.

Kami pun berkata, “Ya Rasulullah! Tidak semua orang diantara kami mempunyai sesuatu yang dapat diberikan kepada orang yang shaum untuk berbuka.”

Rasulullah menjawab,” Allah akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka walaupun hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau seisap susu. Inilah bulan yang pada sepuluh hari pertamanya Allah menurunkan Rahmat, sepuluh hari pertengahan Allah memberikan keampunan, dan pada sepuluh hari yang terakhir Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, maka Allah mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada bulan ini empat perkara. Dua perkara dapat mendatangkan keridhaan Allah, dan dua perkara lainya pasti kamu memerlukannya. Dua perkara yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu, hendaklah kalian membaca kalimat thayibah dan istighfar sebanyak-banyaknya. Dan dua perkara yang kalian pasti membutuhkannya, yaitu hendaknya kamu memohon kepadaNya untuk masuk surga dan berlindung kepadaNya dari api neraka. Dan barangsiapa memberi minum kepada orang yang shaum untuk berbuka, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, yang sekali minum saja dia tidak akan merasakan dahaga lagi sehingga ia memasuki surga.”

  • Hadist Kedua

Dari Ka’ab bin Ujrah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Celakalah orang yang mendapati Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan.”


  • Hadist Ketiga

Dari Ubadah bin Shamit r.a, sesungguhnya pada hari ketika Ramadhan hampir tiba Rasulullah SAW. Bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, dimana Allah melimpahkah keberkahan, menurunkan rahmat dan mengampuni dosa-dosamu, menerima do’a-do’amu, melihat atas perlombaanmu dalam kebaikan dan membanggakanmu dihadapan para malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah SWT kebaikanmu. Sesungguhnya orang yang celaka adalah dia yang terhalang dari rahmat Allah pada bulan ini.”

  • Hadist Keempat

Dari Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Banyak orang yang shaum tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali lapar dan haus, dan banyak orang yang bangun shalat malam hari tetapi tidak memperoleh apa-apa dari shalatnya kecuali letih.”

Kiranya cukuplah hadist pertama seperti disebutkan diatas, memberikan gambaran yang jelas akan fadhilah Ramadhan.

Dalam hadist kedua dan ketiga, Rasulullah berbicara tentang orang-orang yang celaka dikarenakan tidak mendapat keampunan, padahal di bulan Ramadhan berkah tercurah laksana hujan deras. Padahal inilah bulan penuh rahmat, padahal inilah bulan mustajabnya do’a, padahal inilah bulan penghapusan dosa. Sungguh kita akan merugi seandainya moment Ramadhan tidak kita jadikan kesempatan untuk melakukan kebaikan, sungguh kita akan merugi, jika  Ramadhan tidak kita jadikan ladang untuk beramal.

Pada hadist keempat diuraikan mengenai orang-orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Mengenai penafsiran hadist diatas para ulama berpendapat;

  • Mereka adalah orang yang shaum pada siang hari dan berbuka dengan makanan yang haram;
  • Meraka adalah orang yang bershaum, tetapi tidak mencegah dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat;
  • Mereka adalah orang yang shaum, tetapi masih berghibah. Apakah ghibah itu? Rasulullah bersabda,”Mengatakan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai dibelakangnya.” Sahabat bertanya,”Bagaimana seandainya hal itu memang ada pada dirinya? Rasulullah menjawab,”Bila benar demikian, maka itulah yang namanya ghibah, sedang jika yang kamu katakan dusta, maka kamu telah memfitnahnya.” Mengenai ghibah perlu sediki dibahas, karena menjadi kecenderungan kita, manakala berkumpul maka lidah kita tidak terbebas dari ghibah, seandainya kita mampu menahan lidah, maka kadangkala telinga kitalah yang berpartisipasi mendengarkan ghibah, padahal sungguh ghibah mencukur amalan sebagaimana gunting memangkas rumput. Di akhirat kelak, jika kita tidak minta dihalalkan di dunia, maka pahala-pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita ghibahi, sekiranya kita tidak memiliki pahala, maka dosa-dosa orang yang kita ghibahi akan dibebankan kepada kita. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari perbuatan ghibah.

Oleh karena itu, agar puasa kita tidak sia-sia, inilah 6 (enam) perkara yang sangat penting untuk dijaga ketika shaum;

  • Hendaknya menjaga pandangan dari melihat hal-hal yang dilarang. Melihat dengan nafsu terhadap istri sendiripun dilarang, apalagi terhadap wanita lain. Juga penting untuk menghindari pandangan dari melihat hal-hal yang melalaikan.
  • Menjaga lidah dari dusta, perkataan sia-sia, mengumpat, perkataan kotor, menipu, bertengkar, ghibah dan sebagainya.
  • Menjaga telinga dari mendengarkan hal-hal yang makruh, apalagi yang haram. Hal-hal yang perkataan dilarang mengucapkannya maka telingapun dilarang mendengarkannya.
  • Seluruh jasad kita hendaknya dijauhkan dari dosa dan hal-hal yang haram. Tangan jangan menyentuhnya, kaki jangan berjalan kearahnya, begitupula anggota tubuh yang lain. Perut jangan sampai terisi makanan yang haram maupun syubhat. Haram secara zatnya maupun cara mendapatkannya.
  • Jangan makan terlalu kenyang ketika berbuka.
  • Hendaknya ada rasa khawatir di dalam diri kita, apakah shaum kita diterima atau tidak oleh Allah SWT.

Enam perkara tersebut penting bagi orang-orang awam, sedangkan untuk orang-orang yang lebih tinggi tingkatannya yakni orang-orang yang dekat dengan Allah, maka ada satu perkara lagi yang hendaknya dimiliki yaitu hatinya tidak memberikan perhatian kepada apapun kecuali Allah. Istilahnya adalah shaum hati, yaitu mengosongkannya dari cinta dunia. Kemudian shaum yang sangat khusus dan rahasia yaitu shaum pikiran, dimana kita tidak memikirkan segala sesuatu kecuali Allah.

Tujuan dari shaum adalah mengurangi kekuatan nafsu syahwat dan kekuatan sifat hewaniyah dan meningkatkan kekuatan iman (Nuraniyah) dan ketaatan (Malakiyah). Selama 11 bulan kita makan dan minum dengan bebas, maka pengurangan makanan pada bulan Ramadhan sesungguhnya tidak akan membahayakan jiwa kita. Tetapi apa yang terjadi pada shaum kita pada hari ini? Justru kita memperbanyak makanan dan variasinya di bulan Ramadhan melebihi hari-hari biasa di luar Ramadhan. Cara makan yang demikian sebenarnya bertentangan dengan semangat Ramadhan dan tujuan shaum.

Jika kita ingin menghormati Ramadhan maka perbanyaklah amalan, bukan makanan.

Tujuan shaum adalah menundukkan kekuatan iblis dan hawa nafsu, bagaimana hal tersebut dapat dicapai dengan memperbanyak makan ketika berbuka? Jika kita makan sekenyang-kenyangnya ketika berbuka, maka hawa nafsu yang seharusnya melemah, justru menjadi semakin kuat.  Rasulullah bersabda,”Syetan mengalir di dalam tubuh kita bagaikan aliran darah, maka tutuplah jalannya dengan berlapar.”

Rasulullah SAW juga bersabda,”Tidak ada yang lebih dibenci Allah Swt terhadap sesuatu yang diisi penuh kecuali seseorang yang memenuhi perutnya dengan makanan.”

Pada kesempatan lain Rasulullah bersabda, “ Cukuplah dengan beberapa suap makanan yang dapat meluruskan punggung. Jika seseorang harus tetap melanjutkan makannya, maka tidaklah lebih dari kadar ini, yaitu sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi dibiarkan kosong untuk udara.”

Semoga Allah Swt  memberi kita kekuatan untuk mengamalkannya dan mengajak orang lain untuk turut serta mengamalkannya. Amiin.

Billahiwalhidayah, akhiru kalam, Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


Responses

  1. belum lama singgah ke blog ini, alhamdulilah banyak ilmu yang bermanfaat

    sudah mau masuk bulan ramadhan,
    mohon maaf atas kesalahan jika ada beberapa komen yang tdk berkenan.

    • Alhamdulillah, jazakillah…atas kunjungan dan apresiasinya…afwan juga…salam ukhuwah

  2. assalamu’alaikum,afwan ummu ali, setahu ana hadits pertama itu dhaif atau palsu, ana nggak inget. coba cek lagi riwayatnya.

    • Wa’alaikumsalam…syukron yaa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: