Oleh: ummuali | 03/07/2010

Apakah Kita Merasa Lebih Baik Dari Orang Lain?

Kasus video porno yang  menimpa  selebriti kita masih hangat dibicarakan. Padahal telah lebih dari 5 minggu. Ada yang pro, dan adapula yang kontra. Tetapi bukan masalah pro dan kontra itu yang hendak saya bahas. Tidak bisa dipungkiri, bahwa dampak dari penyebaran video tersebut sungguh dahsyat dan sangat merusak moral generasi kita. Saya tidak ingin membela si pelaku, apalagi membenarkan perbuatannya. Tetapi menghujat si pelaku, tidak akan menyelesaikan masalah. Lagipula, apakah kita lebih baik dari si pelaku?

Syariat Islam tidak memperbolehkan kita bergunjing dan juga melarang kita menghina dan mencaci seseorang karena kemaksiatan yang dilakukannya. Karena boleh jadi si pelaku maksiat menyadari perbuatannya kemudian bertaubat. Lalu Allah menerima taubatnya dan mengampuni dosa-dosanya. Sedangkan kita, adakah jaminan bahwa kita tidak akan tergoda untuk berbuat maksiat? Jika Allah menguji kita dengan kondisi seperti si pelaku maksiat yang kita gunjingkan, adakah jaminan kita mampu bertaubat, kemudian kita diampuni?

Kita tidak dapat menilai seseorang hingga kita dapat saksikan akhir hidupnya. Boleh jadi seseorang bergelimang dosa semasa hidupnya, namun di akhir hidupnya Allah memberi hidayah kemudian menganugrahkannya husnul khotimah. Dan boleh jadi, seseorang dikenal sebagai orang baik dan sholeh semasa hidupnya, namun Allah mengujinya dengan perbuatan dosa di akhir hayatnya sehingga ia wafat dalam keadaan su’ul khotimah. Karenanya, berhati-hatilah. Kita mungkin tidak lebih baik dari orang lain.

Imam Ibnul Qayyim berkata,”Penghinaanmu kepada saudaramu, akibat dosa yang dilakukannya, adalah dosa yang lebih besar dan lebih dahsyat ketimbang kemaksiatan yang dilakukan saudaramu. Itu karena dalam penghinaan, terkandung unsur sombong, tertipu akan sikap merasa lebih taat dari yang lain, mengaku memiliki jiwa yang lebih bersih.”

Rasulullah melarang kita mencaci dan menghina orang yang melakukan dosa, walaupun dosa yang dilakukannya merupakan dosa besar. Yang diperbolehkan hanyalah sebatas menegakkan hukuman sesuai apa-apa yang telah disyariatkan. Rasulullah bersabda,“Jika ada salah seorang perempuan dan laki-laki diantara kalian berzina, dan telah terbukti perzinahannya, maka cambuklah ia sesuai hokum hudud. Dan jangan kalian menghinanya.”

Betapa Rasulullah telah mengajarkan kepada kita keluhuran budi. Kita tidak pernah aman dari godaan syetan. Sekiranya kita terjerumus dalam perbuatan maksiat (Naudzubillah), tidakkah kita merasa sedih ketika kita dihujat? Karenanya, cukuplah sekiranya yang keluar dari mulut kita adalah do’a agar  Allah melindungi kita dari berbuat maksiat, tidak usah mencaci pelaku maksiat. Justru jadikan peristiwa ini sebagai momentum agar kita lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga diri kita dan anak-anak kita. Jadikan sebagai pengingat agar kita lebih waspada terhadap pergaulan anak-anak kita. Wallahu’alam.


Responses

  1. itu pertanda banyak public figur kita yang tidak bermoral….manis didepan…busuk di belakang…

  2. Sibukkan diri kita untuk muhasabah…

    • setuju

  3. Astaghfir…!!! Belum tentu aku lebih baik dari mereka! Harus muhasabah diri nie!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: