Oleh: ummuali | 14/05/2010

Rasa Minder

 

“Minder Um”–itulah jawaban yang aku terima dari seorang teman ketika ku tanyakan kenapa ia tidak jadi menyekolahkan anaknya di sebuah SDIT.

Minder  karena semua orangtua yang mengantar anak-anaknya mengikuti test penerimaan murid baru menggunakan kendaraan pribadi roda empat. Minder karena penampilan mereka seperti kalangan menengah ke atas. Jawabnya lagi.

“Ah, saya ini siapa”—itulah jawaban yang aku dengar ketika seorang teman dihimbau mengajak tetangganya untuk taklim.

Masa orang miskin disuruh ngajak orang kaya, mana didengar. Jawabnya lagi.

….

Sebuah rasa yang timbul karena “merasa” kekurangan harta.

Kasus-kasus diatas sering kita jumpai. Mereka yang merasa di level bawah akan minder berdekatan dengan yang level atas. Yang merasa dirinya berada di level atas jadi  “tersinggung” jika diposisikan setara dengan yang berada di level bawah.

Inilah contoh dari sebuah pergeseran nilai yang memprihatinkan. Zaman Rasulullah, orang dihormati dan dimuliakan karena kemulian akhlaknya. Kini…orang dimuliakan, dihormati karena hartanya atau  karena pangkat dan jabatannya. Astaghfirullah…

Jika setiap orang menyadari bahwa rejeki adalah urusan Allah, bahwa kaya dan miskin adalah bagian dari ketetapan Allah, hendaknya tidak bersedih dengan “kekurangan” kita, juga tidak berbangga dengan “Kelebihan harta” kita.

Rasa minder memang tidak bisa dihindari, tetapi bisa disikapi dengan cara pandang yang bijak. Merasa minder sah-sah saja, selama tidak berlebihan, dan yang terpenting tidak membuat kita terkesan tidak bersyukur. Karena sebenarnya makin paham seseorang akan KEKUASAAN dan KEBESARAN ALLAH SAW, akan makin minim rasa mindernya.

Saya bisa menulis seperti ini, karena merupakan pengalaman pribadi. Dahulu, ketika saya masih remaja, masih dalam masa pencarian jati diri, saya pernah berada dalam kondisi minder sekali dengan keadaan saya. Pasalnya, saya pernah ditertawakan sekelompok remaja, karena waktu itu saya memakai sepatu “Nike” palsu. Saya marah dalam hati kepada sekelompok remaja itu. Saya juga kesal kepada orang tua yang membelikan sepatu “Nike” palsu karena tidak mampu membelikan yang asli. Saya marah pada keadaan. Setelah itu, saya mulai menarik diri dari pergaulan.

Alhamdulillah, saya jadi menyibukkan diri dengan banyak membaca. Alhamdulillah, kemudian saya dipertemukan dengan saudari-saudari muslimah yang mengajak saya ta’lim. Mulailah saya mengenal islam lebih dalam. Mulailah saya mempelajari tentang Allah dan segala Kebesaran-Nya. Dari situ perlahan-lahan saya bangkit dari rasa minder saya. Saya mulai sedikit paham hakekat dunia dan segala pernak-perniknya. Kepercayaan diri saya mulai muncul seiring dengan rasa syukur dengan “apa adanya saya”.

Saya beruntung, pengalaman buruk membawa saya kepada pemahaman baik. Meyakini bahwa apa adanya kita adalah Kehendak Allah. Kayakah, miskinkah, bukan alasan untuk minder ataupun sombong, karena rezeki Allah yang mengatur.

Sekali lagi, Insya Allah, makin paham seseorang akan KEKUASAAN dan KEBESARAN ALLAH SAW, akan makin minim rasa mindernya.

Kenapa harus minder? Yang penting kita bisa menjaga diri, mampu menempatkan diri dengan baik, tidak berlebihan dan bersikap santun.

Kenapa harus minder? Kita sama-sama ciptaan Allah, sama-sama tinggal di bumi Allah. Adapun, jika orang lain lebih kaya, lebih tinggi jabatannya, itu semua hanya titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika Allah hendak mengambilnya, tak satupun kuasa menolakNya.

Maka syukuri segala yang telah Allah anugerahkan kepada kita dengan tidak merasa minder. Kalaupun harus minder, minderlah kepada meraka yang Subhanallah ibadahnya, minderlah kepada mereka yang Subhanallah indah akhlaknya, minderlah kepada mereka yang Subhanallah tinggi ilmu agamanya.

 

Wallahu’alam.


Responses

  1. Makasih ummu Ali, atas artikelnya. Tapi Um, mohon maaf, mengapa ditulis Allah SAW? maaf ukhti.

    • astaghfirullah…insya Allah ana perbaiki, syukron ya…ditunggu koreksinya lagi, salam ukhuwah

  2. Mohon izin untuk mencopy blog Umi.

    Boleh kah?

    • silahkan akhi…jazakillah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: