Oleh: ummuali | 23/01/2010

Aku dan Ummiku

Cerpen: ummu Ali

“Ali! Ayo, mandi, nanti telat sekolahnya!”

“Sebentar Ummi, Kakak hampir menang!”

“Ali, kamu bagaimana sih? Mau nurut apa kata Ummi nggak?”

“Sebentar yaa Ummi, sebentaaaar lagi…”

“No! Ummi bilang mandi, sekarang! Nanti nggak boleh main komputer lagi nih!”

Aku mematikan komputer dengan malas. Lagi seru juga. Hmmm,…kenapa sih Ummi selalu mengancam jika aku tidak melakukan apa yang Ummi perintahkan?

” Ali, cepeeet! Kok belum bergerak juga? Harus diapain sih, supaya bersegera kalau disuruh Umminya?”

Nggak harus diapa-apain sih. Jawabku dalam hati. Kemudian aku bangkit menuju ruang makan, dan duduk di kursi makan.

“Ya Allah…belum beranjak juga untuk mandi? Ayo! Cepet! Nanti Ummi tidak mau mengantar kamu ke sekolah nih!”

Tuh, kan, mengancam lagi. Masih dengan rasa malas, aku berjalan ke kamar mandi. Sebentar lagi, Ummi pasti akan menyuruhku membuka baju, menggosok gigi, terus tidak boleh lama-lama di kamar mandi, nanti keriput katanya. Jadi, aku berlambat-lambat menuju ke kamar mandi, soalnya belum ada perintah.

“Ali! Cepetan! Buka bajunya! Jangan lupa gosok gigi, jangan main-main di kamar mandi!”

Tuh, miripkan, seperti yang aku pikirkan. Sudah ada perintah. Aku membuka baju dan masuk ke kamar mandi. Ku lihat ke arah dapur, Ummiku sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi dan bekal sekolahku. Di kamar mandi, aku masih mendengar Ummi mengomel panjang pendek.

Ummiku, Ummiku. Tiada hari tanpa mengomel. Tapi aku sayang banget sama Ummiku, walaupun sering ngomel, Ummiku itu baiiik banget dan tetap cantik walau lagi ngomel. Ciee….

“Astaghfirullah,…belum mulai mandi juga? Sudah gosok gigi belum?”

“Belum!”

“Ya ampun, ngapain aja sih dari tadi? Ayo! Gosok gigi dulu, kalau nggak gosok gigi, bau, nanti temen-temen kamu pingsan kalau deket-deket kamu.”

Ah, Ummi suka membesar-besarkan, mana ada orang pingsan hanya gara-gara bau mulut. Tapi… jangan-jangan, ada beneran. Ya udah deh, gosok gigi dulu. Biar putih dan segar. Lagian, Ummiku suka “kejam”, katanya kalau aku nggak gosok gigi nggak boleh deket-deket beliau.

“Ali, mandinya jangan kelamaan, nanti kedinginan jadi beruang kutub loh!”

Huahahaha…mana ada seorang anak yang ganteng seperti aku berubah jadi beruang kutub, gara-gara kelamaan mandi. Biasanya cuma dibilang jadi keriput.

“Ali, belum selesai juga mandinya? Sudah jam berapa ini? Kamu kalau ngapa-ngapain lelet amat sih!”

Ya, iyalah, siapa dulu Umminya. Kan keturunan, soalnya kata Mbah Putri, Ummi kalau ngapa-ngapain lelet banget kaya ulet keket.

BRAK!

Ummi membuka pintu kamar mandi. Aku setengah kaget. Nah, sekarang Ummi berkacak pinggang sambil melotot. Rupanya kesabarannya telah habis. Aku jadi tertangkap basah lagi main sabun.

“Adduuuh, bisa stress Ummi kalau begini! Heran, mau sekolah kok, masih sempet-sempetnya main sabun. CEPETAAAN!”

Hiii….Ummi galak…Takut… ……

Sambil membantu aku memakai baju, Ummi masih mengomel.

“Jangan malas-malas sekolah. Ummi dulu tidak pernah malas sekolah. Seumur kamu, Ummi sudah bisa pakai baju sendiri. Mau sekolah tidak perlu disuruh-suruh dulu untuk mandi. Bangun selalu pagi. Tidak pernah telat. Makanya Ummi selalu juara kelas.”

Iya, iya, Ummi memang pintar. Juara kelas terus. Makanya aku juga pintar. Hi,hi,hi…Tapi urusan sering telat, dapat warisan dari siapa ya?

Kulihat Abiku senyum-senyum sambil melirik ke arah Ummi dengan mimik muka yang aneh. Wah, kalau Ummi tahu, bisa kena omel juga tuh.

“Anak zaman sekarang, bangun tidur langsung main Komputer. Zaman Ummi dulu, mana bisa seperti itu. Bangun tidur yaa mandi, kalau masih ada waktu yaa belajar.”

Ya, iyalah, zaman dulu. Komputerkan nggak ngetren seperti sekarang. Kalau sewaktu kecil Ummi punya Komputer, pastinya bangun tidur juga langsung main Komputer seperti aku. Sekarang saja, walaupun sibuk banget ngurusin ini itu, Ummi masih sempet main game. Apalagi nggak sibuk kaya aku. Hi,hi,hi… …..

Itulah kehebohan yang terjadi tiap pagi di rumahku. Yang heboh sih cuma Ummi.  Dan aku jadi penyebab kehebohannya.

……

Pagi yang cerah. Hari ini, aku berangkat sekolah diantar Ummi. Kadang-kadang diantar juga sih sama Abi. Tapi aku lebih suka diantar Ummi, karena saat itu menjadi saat yang special bagiku. Biasanya, Ummi akan menggandeng tanganku. Diperjalanan, Ummi sering mengatakan hal-hal indah tentang perasaannya padaku. Ummiku memanggilku dengan panggilan kesayangan “Sayangku, Cintaku, Aliku”…aku suka tersipu malu kalau Ummi memangilku seperti itu. Ia juga sering mengatakan ” I Love You, and I will always Love you no matter what”. Kata Ummi, artinya aku menyayangimu, dan akan selalu menyayangimu apapun yang terjadi. Wuaaah….kalau Ummi sudah bicara seperti itu, aku bahagiaaa sekali. Rasanya tidak ada makhluk yang paling bahagia di dunia ini kecuali aku.

“Ali, ayo dong buruan. Kamu jalannya lelet banget kaya siput!”

Hmmm….Ummi membuyarkan lamunanku. Iya Ummi, iya, aku akan jalan lebih cepat.

“Tiap hari kok telat. Apalagi hari ini, bisa-bisa kita sampai, temen-temen kamu sudah siap-siap mau pulang.”

Tidak selelet itu kale…Memangnya kita berangkat di jam pulang sekolah? Kurang kerjaan banget. Hi,hi,hi…

Hari ini Ummi serius banget ngomelnya. Tidak ada bercanda-bercandanya. Sudah ah, aku tidak mau mengganggu Ummi lagi.

……

Aku mengintip dari dalam lemari.  Dari cermin, ku lihat Ummi sedang melongokkan kepalanya ke dalam kamar.

“Ali! Ibrahaim! dimana kalian?”

Aku dan adikku yang sedang bersembunyi di dalam lemari melakukan aksi tutup mulut. Ku dengar langkah kaki Ummi perlahan-lahan mendekati lemari pakaian.

BRAK! Pintu lemari dibuka.

“Masya Allah…kalian main apa lagi sih?”

“Main mobil-mobilan.” Jawab Ibrahim, adikku.

“Main mobil-mobilan kok di dalam lemari. Aduuuh, bisa berantakan semua baju-baju Ummi. Ayo! Keluar!”

Aku dan Ibrahim cepat-cepat keluar dari dalam lemari.

“Sekarang, beresin semua baju-baju Ummi yang berantakan!”

“Ummi…nggak bisa…” rengek Ibrahim

“Harus bisa! Ayo, tanggung jawab!”

“Tetep nggak bisa…Ummi!” Kata Ibrahim lagi.

“Sebisanya…Ayo beresin! Ummi hitung sampai 20!”

Aku dan Ibrahim mulai melipat kembali baju-baju Ummi yang berantakan.

“Kalau sudah selesai, cepat tidur siang, Ummi juga mau istirahat.”

Kulihat Ummi keluar kamar. Asyiiik…bisa main lagi. Aku dan Ibrahim mulai meloncat-loncat di atas tempat tidur. Kemudian mulai main lempar bantal. Sedang seru-serunya bermain, kudengar teriakan…

“ALI ABDURRAHIIM! MUHAMMAD IBRAHIM!”

Wah, gawat darurat, kalau Ummi sudah memanggil dengan nama lengkap kami, alamat kena hukuman nih. Hukumannya apa ya?

“Ya Allah…Ummi bilangkan, kalau sudah selesai tidur siang, kok malah main-main lagi. Ali! Nanti sore kamu harus TPA, ayo istirahat, Ummi hitung lagi sampai 20, kalau belum tidur juga, jangan main komputer selama seminggu!”

Waduh, nggak boleh main komputer seminggu, bisa bete nih, tidur aaah…

…..

Hampir maghrib. Kulihat Ummi sedang sibuk menyiapkan makan malam. Aku sayang sekali padanya. Bagaimana tidak, walaupun Ummiku cerewetnya bukan kepalang, tapi aku tidak pernah ketemu orang seperti Ummiku, pintar, baik hati, jago masak dan sayang banget sama aku. Mana ada perempuan yang lebih hebat dari Ummiku.

Tidak terasa, sudah pukul 20.00 wib. tapi Abi belum pulang kerja. Aku belum bisa tidur. Biasanya kalau Abi sudah pulang, kami akan bergulat sebelum tidur. Seru banget. Ummi sedang sibuk dengan laptopnya. Ummi memang tidak kerja kantoran, tapi ia suka menulis artikel untuk mengisi blognya atau dikirim-kirim ke majalah. Walau belum ada satupun yang dimuat. Ha,ha,ha…jangan putus asa ya Ummi.

Tadi aku sudah dibacakan cerita tentang “Bambi Pangeran Cilik”. Waktu aku minta dibacakan cerita yang lain, Ummi menolak. Katanya Ummi mau menulis sesuatu, takut moodnya hilang kalau tidak dikerjakan sekarang, nanti idenya jadi melayang. Aku sendiri nggak tahu tuh mood itu apa, aku tahunya sup. Nyam…nyam…

Tapi aku boseeen banget!

Mulailah aku, meloncat-loncat di atas tempat tidur. Tidak lupa kuambil raket plastik dan kujadikan gitar-gitaran. Jreng,Jreng…hup…aku meloncat…ceritanya lagi di atas panggung…Jreng,Jreng…kunyayikan lagu yang nggak jelas…

Awalnya Ummi cuek bebek. Lama-kelamaan Ummi mulai terganggu.

“Bisa nggak mainnya nggak pake berisik.”

“Kurang seru, Um!”

“Kamu, kalau dikasih tahu orang tua, jangan jawab-jawab!”

Perasaan Ummi tanya, bukan kasih tahu. Aku salah dong.

“Ali, tidur! Besok kamu kan harus bangun pagi dan sekolah. Kamu nggak bosen apa, main terus.”

Ummi nggak bosen apa ngomel terus. Jawab hatiku iseng. Maaf yaa Ummi.

Aduh Ummi, aku belum mengantuk. Aku masih ingin main. Masih ingin denger Ummi cerita. Aku mau diusap Ummi. Ummi lama banget main laptopnya, Abi lama banget kerjanya.

…..

Aku dan adikku Ibrahim menangis keras dalam pelukan Abi. Kulihat dari kejauhan Ummi melambaikan tangan sambil menaiki tangga pesawat terbang. Ummi…jangan pergi…aku nggak mau berpisah dari Ummi. Nggak apa-apa Ummi ngomel terus tiap hari, asal jangan pergi. Nggak apa-apa aku nggak boleh main terus, nggak apa-apa aku nggak boleh berantakin mainan, nggak apa-apa aku nggak boleh main kotor-kotoran, asal Ummi jangan pergi. Huuu…huuu…huuu…

Ku lihat pesawat itu terbang membawa Ummiku. UMMI…UMMI…UMMI

Aku terbangun. Alhamdulillah….hanya mimpi. Aku segera bangkit dari tempat tidur. Kulihat Ummiku ada di dapur. Kupeluk ia dari belakang. Ummi menoleh dengan tatapan heran.

“Kakak mandi dulu yaa…Kakak nggak lupa kok untuk gosok gigi…daaa Ummi…” ucapku sambil melepas pelukan. Ummi menatapku dengan wajah surprise.

Selesai mandi, aku langsung ke kamarku untuk memakai baju. Kemarin aku pakai baju olahraga, berarti hari ini aku pakai baju bebas. Kuhampiri Ummi yang belum selesai urusannya di dapur. Kusentuh tangannya, menunjukkan hasil kerjaku.

“Nah…begitu dong setiap pagi…itu baru namanya anak Ummi.”

Loh…dari kemarin-kemarin aku jadinya anak siapa? Iya Ummi…aku akan melakukan apa yang Ummi suka.

…..

Malam telah menjelang. Kupejamkan mata dan pura-pura tidur. Kulihat Ummi sudah terlelap. Akhh…Ummi kelihatan letih. Pasti repot banget melakukan banyak hal dengan perut yang kian membesar. Iya, di perut Ummi lagi ada adik bayi. Kata Ummi, sebentar lagi Ummi akan melahirkan. Ughh…aku cemas. Seminggu yang lalu tetanggaku ada yang meninggal. Seorang ibu seperti Ummi. Dan ia meninggal setelah melahirkan bayinya. Aku jadi nggak bisa tidur memikirkan Ummi. Aku takut Ummi juga akan…Aku jadi teringat mimpiku. Ditinggal Ummi pergi jauh saja, aku sedihnya luar biasa, apalagi kalau Ummi sampai…

Ummi, maafin Kakak yaa karena suka bikin Ummi kesal. Janji, Kakak tidak iseng lagi. Kakak sayang Ummi. Kulafalkan doa agar Ummiku selalu sehat dan baik-baik saja. Aku merasa lebih tenang, aku jadi bisa tidur. Zzz…zzz

…..

Hari ini Ummi akan pergi ke Bidan. Adik bayinya mau diperiksa. Sepertinya Ummi sudah akan melahirkan. Soalnya Mbah Putri sudah datang, terus Ummi telah menyiapkan 2 tas besar berisi pakaian. Kata Ummi kalau Ummi melahirkan, Ummi akan menginap di rumah ibu Bidan, dan aku akan ditemani Mbah Putri di rumah. Sebenarnya aku ingin menemani Ummi di Bidan, tapi kata Ummi, kalau aku ikut menginap jadi lebih repot. Ya udah, aku nggak mau ngerepotin Ummi.

Ummi masih sempat mengantarkan aku ke sekolah pagi-pagi. Malamnya, Ummi bersiap-siap ke Bidan diantar Abi. Mungkin Ummi akan melahirkan malam ini. Aku sedih sekali melihat Ummi meninggalkan rumah. Aku takut Ummi nggak balik lagi.

Aku tidak bisa tidur. Badanku panas. Aku memikirkan Ummi. Ya Allah…kasihan Ummi. Semoga Ummi nggak kenapa-napa.Ya Allah…aku nggak mau berpisah dari Ummi. Nggak apa-apa aku kehilangan semua teman-temanku, nggak apa-apa aku kehilangan semua mainan kesayanganku, asal aku tidak kehilangan Ummi dan Abiku. Ya Allah…kabulkan do’aku.

Aku masih belum bisa tidur. Aduh, airmataku keluar. Aku kangen banget sama Ummi. Aku mau peluk Ummi. Ummi…cepet pulang yaa. Rumah ini sepi kalau nggak ada Ummi. Mungkin karena pengaruh obat, akhirnya aku mengantuk, dan tertidur.

Ketika terbangun, Mbah Putri ada di sampingku.

“Kakak…Ummi sudah melahirkan dede bayi…nanti kita lihat Ummi dan dede bayi yaa…” kata Mbah Putri

Alhamdulillah…Asyiiik…mau menjenguk Ummi.

…..

Dua minggu berlalu…

“Ya ampuuun…kalian lagi ngapain sih!”

Kulihat Ummi sudah berkacak pinggang di depan pintu sambil memegang parutan…jangan-jangan kami mau ikut diparutnya pula…iih serem.

“Main mobil-mobilan…” Jawabku dan Ibrahim serempak.

“Main mobil-mobilan kok lantai pada basah.”

“Kan mobilnya lagi dicuci semua.”

“Aduuuh, kalau lantai basah begini kan bahaya, kalian bisa kepeleset, kepalanya benjol, bisa-bisa masuk rumah sakit!”

Huahahaha…kepala benjol? masuk rumah sakit? Ummi ada-ada saja.

“Bisa nggak sih, mainan yang nggak pake berantakin. Kalau begini caranya, Ummi mau kerja kantoran aja. Biar nggak stress tiap hari dikerjain kalian!”

“Ya udah, Nanti Kakak yang menjaga dede Yusuf yaa.”

Ummi berlalu dengan manyun. Kami ngikik bareng melihat Ummi akhirnya meninggalkan kami. Ancamannya nggak mempan.

Aku bahagia…akhirnya semuanya kembali normal. Rumahku kembali heboh dengan keberadaan Ummi.

The End

This short story dedicated to my oldest son Ali Abdurrahiim.

Sang Pemikir, Little bit clumsy, Gampang tersentuh oleh penderitaan sesama, pemalu…and love me so much


Responses

  1. hahahahahaha….paling bisa kalo lagi menghayati cerita, jadi kebayang kejadian aslinya…Bisa di kroscek sama kaka ali ga yah….???? keep on creating ‘different’ stories….

  2. kwak kak kak….lutju. i am 100% could imagine the real situasion. hmmmm… kak ali sabar ya ummi nya hobi ancam mengancam… :)) it’s bcoz she love you tooooooo much.

  3. Salam Sis,
    Wah heboh banget & seru yah…saya baru ada 2 “ekor” aja udah repot tiap hari cerewet ngomelin anak2 , ini ukhti ada tambahan baby baru pula. InsyaAllah semoga kita selalu diberi kekuatan dari Allah swt dalam menjaga anak2 amanah-Nya.

  4. Wa’alaikum salam….amiin…mudah2an

  5. Subhanalloh……ini cerita gua banget…saya tiap pagi heboh begitu umi, dengan dua putri udah SD & TK, sementara jam 6 sy udah hrs berangkat ke kantor..pengennya sih jadi ibu rumat tangga aja..( cita2 begitu tapi apa daya…masih byk yg membutuhkan support…hik…hik..sedihnya ). Kadang kalau udah di angkot sedih & nyesel kenapa tadi harus ngomel + marah2 tapi gimana ya…kalau nggak dicerewetin nanti..terlambat salah satu bisa mengacaukan semua siklus, pagi2 mbaknya udah sibuk dengan cucian….jadi pastilah uminya setiap pagi berakrobat krn sebelum jam 6 harus memastikan anak2 udah sholat subuh…paling susah alasannya msh ngantuk…minum obat flek kakak …alhamdulillah terapi udah 6 bulan tinggal 3 bulan lagi nggak boleh telat ato lupa , kalau nggak mau ngulang. Masak buat sarapan & makan seharian buat yg d di rumah, karena mbak nggak bisa masak dan abi nggak mau makan kecuali masakan umi. Memastikan bekal kakak & adik beres, ngecek juga pr udah dikerjain belum atau ngecek catatan dari ibu guru krn uminya sering pulang malam. Kadang sedih karena nggak tiap hari bisa ngecek hafalan + nungguin belajar kakak. Pernah tiba2 surprise pas hari minggu jeda antara waktu maghrib-isya’ terdengar murajaah anak2 di mushola komplek, kok sepertinya suaranya kenal, kata mbak itu kan kakak….terharu banget, setelah pulang sy bilang… wah kakak bacaannya bagus bgt…si kakak bilang…umi sih…nggak tahu…aku kan hapalannya juara 3 di paralel kelas 3…ya Alloh kemana aja ini si umi sampe nggak perhatian..emang si kakak cenderung pendiem klo di rumah sukanya di kamar baca buku, malah klo curhat sukanya sama abi, beda sama adik yg cerewet + selalu nempel klo uminya di rumah. Aduh umi kok jadi curhat..afwan ya…doain semoga sy bisa selalu sabar, kakak & adik jadi anak solekhah walalu selalu ditinggal umi, syukron buat abi & mbak yg selalu ada di saat umi butuh bantuan, semoga ummu Ali sekeluarga selalu dalam rahmat Alloh dan menjadi keluarga sakinah…amin.

    • Assalamu’alaikum….salam kenal yaa…seneng-seneng dicurhatin…salut-salut bisa tetap all out di 2 dunia…semoga berkah yaa…thanks juga untuk do’anya

  6. membaca ini, saya jadi merasa menjadi ali.

    • thanks

  7. Subhanallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: