Oleh: ummuali | 22/11/2009

TILL DEATH DO US A PART

Author : Ayeesha Amir / ummu ali

 

 

Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Pukul 17.45 wib. “Kalau aku langsung pulang, ada kemungkinan hanya tersisa waktu sedikit untuk menunaikan shalat maghrib. Di jam-jam sepeti ini, biasanya jalanan macet, dan belum tentu aku langsung dapat kendaraan. Paling tidak aku baru akan tiba di rumah Pukul 18.45 wib.” pikirku.

 

Akhirnya kuputuskan untuk istirahat sejenak di Mushola kampus sambil menunggu waktu shalat maghrib. Setelah berwudhu, akupun masuk ke dalam Mushola yang telah disekat menjadi 2 bagian. Aku duduk di bagian paling depan, di area yang khusus disediakan untuk para wanita. Kusandarkan tubuhku pada dinding Mushola yang berwarna hijau muda. Tidak berapa lama, dari balik sekat yang membatasi area pria dan wanita, kudengar suara lirih lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Subhanallah,…indah sekali suaranya. Aku merasakan jantungku berdegup tak menentu. Siapa pemilik suara itu?

Sejak saat itu, aku memiliki kebiasaan baru. Aku memilih Mushola kampus sebagai tempatku beristirahat menanti sesi kuliah berikutnya. Aku benar-benar terobsesi pada suara indah itu. Aku merasa jatuh cinta pada pemilik suaranya, padahal aku belum tahu siapa dia. Aneh. Biasanya orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku jatuh cinta pada pendengaran pertama.

 

Mulailah aku kasak-kusuk melakukan penyelidikan. Singkat cerita, aku berhasil mengetahui pemilik suara indah itu, namanya Bayu. Wajahnya tidak kalah “indah” dengan suaranya. Postur tubuhnya tinggi besar, hidungnya mancung dan alis matanya sungguh lebat.

 

Ternyata ia satu fakultas denganku dan cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus. Aku yang selama ini tidak banyak beredar dalam kegiatan-kegiatan kampus mulai menceburkan diri. Tentu saja dengan satu niat, memiliki kesempatan lebih untuk mengenal sosok Bayu.

 

Kamipun mulai berinteraksi, tentu saja, dalam batas-batas mengurus kegiatan kampus. Namun tidak ada satu momen dalam setiap pertemuan kami, kecuali menumbuh suburkan kekagumanku kepada laki-laki itu. Rasanya belum pernah kutemukan seseorang yang keberadaannya memberi dampak demikian besar di dalam relung jiwaku. Aku bersyukur mengenalnya. Aku bahagia dengan perasaan cintaku padanya yang kian bersemi dari hari ke hari. I’m truly, deeply, madly falling in love with him.

 

Aku semakin gelisah, melalui perenungan panjang, akhirnya kuputuskan menunjukkan perasaanku kepada laki-laki pujaan hatiku. Kuketik sebuah ungkapan rasa dan kucetak pada selambar kertas kalkir. Kuselipkan tulisan itu diantara buku yang sengaja kupinjam darinya.

 

Sometimes you meet person

Who can really touch your heart

Who’s gentle, kind and thoughtful

And you know right from the start

That this is someone special

Sometimes you meet person

Who’s sincere and caring too

I found that special person on the day I found you

Anisa

…..

Setahun kemudian…

 

 

Tidak lama lagi impianku akan terwujud. Khayalan-khayalan indah tentang kebersamaanku dengan Mas Bayu akan menjadi kenyataan. Saat ini, aku tengah menantikan detik-detik akhir masa lajangku. Saat prosesi akad nikah antara aku dan Mas Bayu.

 

Aku dan Mas Bayu tidak berada di ruangan yang sama. Mas Bayu dan para lelaki berada di Mesjid. Sedang aku dan para wanita berada di rumah. Kebetulan Mesjidnya terletak di depan rumahku. Dari speaker terdengar suara Mas Bayu mengucapkan “ Saya terima nikah dan kawinnya Hasna Khairunissa binti Muhamad Nur Arifin dengan mas kawin tersebut tunai.”

 

Aku menarik nafas lega. Tak terasa airmata bahagia membasahi pipiku. Akhirnya, aku resmi menyandang gelar Ny. Bayu Pratama. Aku merasakan betapa Tuhan begitu baik padaku. Setelah ini, resepsi sederhana atas pernikahan kami akan digelar.

 

Dengan hati yang diliputi kebahagiaan, aku duduk bersanding dengan pujaan hatiku di pelaminan. Kusalami satu persatu tamu yang hadir dengan senyum mengembang di wajahku. Kurasakan getaran hebat yang mengaliri seluruh tubuhku, ketika diam-diam Mas Bayu meremas jari tanganku.

 

Pestapun usai. Kumasuki kamarku yang menjadi kamar pengantin kami. Mas Bayu masih di luar menemani kerabat yang kebetulan belum pulang. Kubersihkan wajah dari make up yang menempel, kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hmm…segar, rasanya kepenatanku hilang seketika. Kutunggu Mas Bayu di kamar sambil membereskan kado-kado pernikahan untuk kami dari para kerabat dan teman-teman.

 

Tidak berapa lama, masih dengan pakaian pengantin, Mas Bayu memasuki kamar. Wajahnya terlihat pucat. Aku merasa cemas. “Mas Bayu sakit?” tanyaku. “Tidak, hanya kepalaku sedikit pusing.” Jawabnya.

“Ya sudah, Mas Bayu rebahan dulu,” kataku lagi sambil membimbingnya ke tempat  tidur. Seraya berbaring Mas Bayu memijat-mijat kepalanya. Kuraba keningnya, terasa hangat.

“Mungkin Mas Bayu masuk angin, Anisa pijat ya?” kataku dengan nada cemas. Mas Bayu mengangguk tanpa suara. Kulepaskan baju pengantin yang masih melilit di tubuhnya. Kubaluri punggungnya dengan minyak kayu putih. Setelah itu kupakaikan kepadanya kaos berbahan katun, agar ia merasa nyaman.

“Anisa buatkan teh hangat sebentar yaa,” kataku kepada Mas Bayu yang masih terbaring.

 

Akupun bergegas ke dapur. Ketika kembali ke kamar dengan secangkir teh hangat, kulihat mata Mas Bayu terpejam. Aakh,…Mas Bayu tertidur.

 

Kupandangi laki-laki yang kini telah menjadi suamiku. Kuberanikan diri menyentuh wajahnya. Tidak ada reaksi. Kuremas-remas jari tangannya. Juga tidak ada reaksi. Aku mulai ketakutan. Tidurkah ia? Atau pingsan?

 

Kupanggil-panggil namanya sambil kugoyang-goyangkan tubuhnya. Tidak ada sahutan. Akupun berlari ke luar kamar sambil berteriak meminta pertolongan. “Ayaah,…Ayaah,…tolong,…Mas Bayu pingsan.”

 

…..

 

 

Inilah episode kehidupan yang harus kujalani. Baru beberapa jam yang lalu aku merasa sebagai wanita yang paling berbahagia di muka bumi ini. Kini, aku merasa sebagai wanita yang paling bersedih di muka bumi ini. Kuhabiskan malam pengantinku di rumah sakit, menunggui suamiku yang harus menjalani rawat inap.

 

Dua hari sudah Mas Bayu dirawat. Setelah melewati serangkaian tes labolatorium dan berbagai pemeriksaan, Dokter yang menangani Mas Bayu memberitahu kami bahwa Mas Bayu mengalami pendarahan di otak. Dan tidak ada pilihan lain kecuali melakukan tindakan operasi. Aku shock mendengar berita tersebut pada awalnya, dan pasrah pada akhirnya. Demi kebaikannya, jika operasi ini dapat menyembuhkannya, aku harus menyetujuinya.

 

…..

 

 

Alhamdulillah, operasi berjalan lancar, Mas Bayu masih dirawat tapi tidak di ICU lagi. Namun demikian kondisinya masih lemah, ia belum dapat bercakap-cakap, kami hanya bicara lewat tatapan mata. Kurasakan pancaran kesedihan di matanya. Kutatap ia penuh cinta, ku beri ia senyuman terindahku. Kubisikkan di telinganya rasa cintaku, rasa bahagiaku bahwa akhirnya aku menjadi istrinya. Kuusap lembut kepalanya, tangannya,…Ya Allah, betapa aku merindukannya.

 

Akhirnya, Mas Bayupun tertidur. Akupun tak sadar ikut tertidur, hingga tepukan hangat kurasakan di pundakku.

“Anisa, pulanglah, kau perlu istirahat. Biar kami yang menjaga Bayu.” Kata Ibu Mertuaku.

Mulanya aku menolak, setelah didesak dan ku lihat kondisi Mas Bayu mulai membaik, akhirnya aku pulang.

 

…..

 

Sesampainya di rumah, akupun tidak bisa beristirahat. Wajah sedih Mas Bayu terus membayang di mataku. Entahlah, akupun merasa tidak tenang, jantungku berdetak cepat. Tidak berapa lama Hp-ku berbunyi, aku diminta datang lagi ke Rumah Sakit. Perasaanku sudah campur aduk tidak karuan.

 

 

Setibanya di Rumah Sakit, aku langsung menuju ke ruang rawat Mas Bayu. Dari luar kamar  ku dengar isak tangis dan suara Surat Yasin berkumandang. Ya Allah, tidak mungkin,…jangan biarkan ia pergi.

 

Masih di depan kamar Rumah Sakit, ibu Mertuaku memelukku erat, seraya berbisik, “Sabar sayang, segala sesuatu milik Allah, dan akan kembali pada-Nya.”

Aku tidak tahu lagi apa yang beliau katakan, karena mataku terasa berkunang-kunang, dan aku tak sadarkan diri.

 

Aku terbangun dan telah berada di kamar Mas Bayu. Kudengar suara orang-orang mengaji. “Ya Allah, kuatkan hamba.” Bisikku perlahan.

 

 

…..

 

Hari ini, hari ulang tahun pernikahanku dengan almarhum suamiku. Tiga tahun sudah. Tapi, hatiku masih terasa perih tiap mengenangnya. Serasa ada bagian dari diriku yang turut mati dengan kepergiannya. Bukan hal mudah menerima kenyataan ini. Sekuat hati aku berusaha. Telah ada beberapa lelaki yang dikenalkan kepadaku lewat teman maupun kerabat. Entahlah, hati ini masih terasa beku.

 

Aku sadar, aku tidak bisa selamanya hidup seperti ini. Kupanjatkan doa setulus hati, memohon agar Allah membuka pintu hati ini.

 

Kuputuskan menziarahi kubur suamiku. Kukirimkan doa agar Allah menerima ia dalam pangkuan-Nya. Ku katakan padanya, “I have to let you go and remains strong. I’m really sorry, I’ll continue my own life without you. So long.”

 

…..

 

 

Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Pukul 18.00 wib. Akupun menuju Mushola kantor yang terletak dua lantai di atas kantorku. Aku duduk di bagian paling depan, di area yang khusus disediakan untuk para wanita. Kusandarkan tubuhku pada dinding Mushola yang berwarna kuning cerah. Tidak berapa lama, dari balik sekat yang membatasi area pria dan wanita, kudengar suara lirih lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Subhanallah,…indah sekali suaranya. Aku merasa pernah mendengar suara ini. Aku merasa mengenal suara ini. Aku merasa pernah mengalami keadaan ini.  Dan aku merasakan jantungku berdegup tak menentu. Ya Allah,…diakah? Setelah tiga tahun lamanya, baru kali ini aku merasakan ada yang bernyanyi di hatiku. Semoga,….

 


Responses

  1. So sweat, sungguh menyentuh hati.

    • thanks

  2. Masa allah,,,,, subhanallah !!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: