Oleh: ummuali | 02/06/2009

ATAS NAMA CINTA

Author: Ummu Ali

Termenung aku di depan jendela kamar memandangi bunga sepatu yang mulai layu, seperti hatiku. Sudah beberapa hari ini rasanya aku tidak memiliki gairah untuk hidup. Tetapi segalanya harus berjalan normal seperti biasa. Sedapat mungkin harus kusembunyikan rasa ini, kasihan anak-anak, mereka pasti ingin disambut dengan penuh keceriaan ketika pulang dari sekolah. Begitupun suamiku, apapun yang kurasakan terhadapnya saat ini, aku tetap harus bersikap manis terhadapnya.

Penyebab gairah hidupku menghilang, bermula dari sms yang dikirimkan adikku seminggu yang lalu,”Mba, maaf yaa, bukannya mau usil, tapi tadi siang aku melihat Mas Lukman bersama seorang wanita, bukan apa-apa, ini sudah yang kedua kalinya.” Demikian bunyi sms itu.

Ku telepon adikku, dia mengatakan bahwa itu wanita yang sama, dan mereka kelihatan akrab sekali. Padahal, setahuku Mas Lukman bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan wanita. Stok teman perempuannya sangat minim, bahkan bisa dibilang hampir tidak ada.

Selama hampir sepuluh tahun pernikahan kami, menurutku, kami keluarga yang sangat harmonis. Mas Lukman suami sekaligus ayah yang luar biasa. Aku menyaksikan betapa saat-saat Mas Lukman pulang dari kerja menjadi saat-saat yang menggembirakan dan dinanti-nantikan anak-anak. Mendengar suara mobil Mas Lukman memasuki halaman rumah, anak-anak akan serentak bersorak,”Asyik, Ayah sudah pulang,” dan mereka berhamburan ke depan pintu menyambut ayahnya. Dan Mas Lukman, selelah apapun, akan menyempatkan diri bergulat sejenak dengan anak-anak—dari pernikahan ini aku dikaruniai 3 jagoan. Satu hal lagi, ia tidak pernah lupa membelikan sesuatu untuk anak-anak, coklat, kue-kue atau sekedar permen. Mas Lukman selalu menyempatkan diri belanja bulanan, khusus untuk oleh-oleh anak-anak yang kemudian disimpannya di kantor. Aku tidak kalah bahagianya dengan anak-anak melihatnya pulang. Walaupun hampir tiap hari bertemu, tetapi perpisahan sejenak dengannya untuk bekerja, tetap menyematkan rasa rinduku untuk segera berjumpa. Dan untukku, Mas Lukman akan menghadiahkan sebuah kecupan dikeningku setibanya di rumah. Selalu seperti itu, setiap harinya.

Aku tidak dapat membayangkan bahwa hari-hariku akan sangat kelabu. Kecupan itu akan tetap ada, tapi tidak akan terasa sama, karena aku membayangkan ia mungkin melakukannya untuk wanita lain. Hiiks,…Sampai kapan aku akan menyembunyikan rasa ini. Sampai kapan aku akan berpura-pura tidak tahu? Duh, Gusti,…apa yang harus aku lakukan? Menanyakan langsung padanya siapa wanita itu? Bagaimana jika aku belum siap menerima jawaban seandainya ia mengatakan bahwa wanita itu kekasih hatinya, atau lebih parah, bagaimana jika ia mengatakan bahwa wanita itu istri keduanya?

Apa yang salah denganku? Telah kepersembahkan seluruh hatiku untuknya, mengabdikan hidupku untuk melayaninya, mengisi hari-hariku mengurus dan merawatnya. Aku bahkan memutuskan berhenti bekerja, membunuh egoku untuk eksis di dunia luar, demi meluangkan lebih banyak perhatian dan waktuku untuknya dan anak-anak. Aku ingin pernikahan ini abadi selamanya. Akupun tidak pernah menuntut banyak darinya. Kuterima ia apa-adanya. Tidak pernah kukeluhkan apapun tentangnya. Tapi,… mengapa harus ada wanita lain?

…..

Aku benar-benar tidak sanggup menanggungnya sendiri. Ku telepon adikku, agar ia bersedia menolongku. “May, Mba tidak sanggup menanti-nanti tanpa kepastian seperti ini. Mba minta tolong kamu bicara dengan suamimu agar dapat membantu Mba mencari informasi yang akurat tentang hubungan Mas Lukman dengan wanita itu. Supaya semuanya jelas, jadi Mba tahu apa yang harus Mba lakukan. Tapi tolong semuanya dirahasiakan, jangan sampai keluarga yang lain tahu, terlebih Ayah dan Ibu. Tolong yaa May. Trimakasih sebelumnya,” kataku di telpon menghiba.

Hari-hariku berlalu dalam penantian menunggu hasil penyelidikan adik iparku. Sementara itu, aku berusaha bersikap senormal mungkin. Akupun tidak melihat perubahan yang berarti dalam diri Mas Lukman. Ia tetap dengan segala kebiasaannya ketika di rumah, bergelut dengan anak-anak, mengecup keningku saat berangkat kerja dan saat tiba di rumah. Ia tidak menjadi lebih cuek atau lebih manis. Everything just normal. Aku tidak punya alasan untuk mencurigainya. Tapi,…sms itu,…

“Sudah tiga hari, kenapa Maya belum menelpon juga?” pikirku. Aku tidak sabar lagi, kutelpon Adikku Maya. “Gimana May, hasil penyelidikan Adit?” tanyaku. “Belum jelas Mba, kemarin sih waktu jam makan siang Mas Adit coba-coba ke restaurant tempat aku melihat Mas Lukman dengan wanita itu, tapi kata Mas Adit, secara nggak sengaja Mas Adit malah kepergok Mas Lukman, akhirnya mereka jadi makan siang bareng. Kata Mas Adit, setelah mereka dapat tempat duduk Mas Lukman menelepon seseorang dengan berbisik-bisik. Mas Lukman juga cuma pesan Jus Alpukat aja, nggak pesan makanan. Mas Lukman masih ada janji makan siang dengan rekannya. Setelah membayar tagihan, Mas Lukman pergi duluan. Baru segitu aja Mba, informasinya,” jawab adikku panjang lebar.“Aduuh Maya, itukan kabar penting, coba bayangin,…Mas Lukman pasti ada janji sama wanita itu, karena kepergok Adit, janji ketemuan di restorant itu di kansel, makanya Mas Lukman telepon sambil bisik-bisik. Terus Mas Lukman juga nggak makan sama Adit, karena ia mau makan dengan wanita itu di tempat lain. Iya khan? Terus kenapa Adit nggak buntutin Mas Lukman, May?” tanyaku. “Pengennya sih begitu kata Mas Adit, tapi Mas Adit ada janji untuk ketemuan sama customer, Mba.” Jawab Maya.

“Mba Laras sabar dan tenang dulu yaa,…nggak usah mikir yang macam-macam dulu sebelum semuanya jelas, nanti Mba Laras sakit, kasihan anak-anak.” Lanjutnya lagi.

…..

Akupun tidak ingin memikirkan yang macam-macam, tapi mau bagaimana, pikiran-pikiran itu datang dengan sendirinya. Jauh di lubuk hatiku, akupun tidak yakin Mas Lukman mampu menghianatiku. Ia bukan tipe laki-laki seperti itu. Ia sangat menghargai sebuah komitmen. Dan lebih dari itu, ia sangat mencintaiku. Aku dapat merasakan, lewat perhatiannya, sentuhannya juga tatapan matanya. Jika ada survey yang mengatakan 9 dari 10 laki-laki di dunia selingkuh, pastinya Mas Lukman adalah yang seorang itu. Mas Lukman tidak terlalu suka bergaul, ia orang rumahan. Keluar rumah hanya untuk shalat jamaah di mesjid, bekerja, memenuhi undangan tetangga dan kerabat, berkumpul dengan keluarga besar atau pergi bersama kami. Selebihnya Mas Lukman lebih suka berada di rumah. Ia tidak bergabung dengan komunitas apapun. Bahkan dahulu, sebelum kami membeli rumah yang kami tempati saat ini, saat masih mengontrak dekat kantornya, ia selalu pulang ke rumah untuk makan siang. Kecuali jika ada acara makan siang dengan klien tentunya. Bisa dipastikan, di luar kegiatan kantor, Mas Lukman lebih sering ada di rumah, bersamaku dan anak-anak. Ia betah meladeni anak-anak dan seharian bermain-main dengan mereka. Ia betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar ngobrol berdua denganku jika anak-anak punya kegiatan. Jadi, kenapa ia selingkuh?

Assalamu’alaykum!

Bel pintu berbunyi. Mas Lukman! Kuhilangkan muka sedihku, ku buka pintu dan menyambutnya dengan sebuah senyuman yang kupaksakan, entah, apakah Mas Lukman menyadarinya atau tidak. “Anak-anak sudah tidur?” sapa Mas Lukman sambil tersenyum lebar. Aku mengangguk, tanpa suara. Mas Lukman masuk, merengkuh bahuku dan mencium keningku. Sambil berjalan beriringan, kulirik jam dinding di ruang tamu. Pukul 23.30 wib. Ini adalah hari ketiga dalam minggu ini Mas Lukman pulang tengah malam. Dan hari sabtupun ia masuk kantor.

“Maaf ya, Bunda, ada pekerjaan yang dikejar deadline. Banyak karyawan yang kurang sehat belakangan ini, jadi Ayah kekurangan bala bantuan.” Mas Lukman terus bicara, sementara aku sibuk mendamaikan hatiku untuk mempercayai ucapannya. Mas Lukman masuk kamar mandi, kudengar ia menyikat gigi dan mencuci muka. Tidak berapa lama kulihat ia masuk kamar. Aku pergi ke dapur membuatkan secangkir teh hangat untuknya, ketika aku masuk kamar, ku lihat ia sudah terlelap tidur.

Seumur pernikahan kami, aku tidak pernah mengutak-atik barang pribadinya, tapi kali ini aku benar-benar penasaran. Aku terus beristighfar dengan prasangka buruk ini. Kurogoh saku baju dan celananya, mencari-cari bukti-bukti yang mencurigakan. Kuperiksa dompet dan tas kerjanya barangkali ada bekas tiket kunjungan wisata atau bioskop twenty one. Nihil. Yang ada hanya tiket parkir dan tol. Aku bernafas lega. Hmmm, Hpnya,… barangkali ada sms mesra. Tidak juga. Aku sedikit merasa lebih tenang. Tunggu dulu, bisa saja mereka berkasih mesra lewat email. Nah ini dia,…aku tidak bisa membuka emailnya, aku tidak tahu passwordnya. Lagipula, menurutku, ini wilayah yang terlalu privacy. Hmm, aku lemas lagi.

Aku masuk kamar, kupandangi suami tercintaku. Wajahnya tampan, hidungnya mancung dan senyumnya manis. Tapi bukan karena itu saja aku jatuh cinta padanya. Ia lelaki yang baik, ibadahnya kuat, pembawaannya tenang, hatinya lembut dan lebih dari itu, ia memahamiku. He’s the man of my dreams. Begitulah aku menggambarkan rasa hatiku terhadap Mas Lukman. Cintaku padanya tetap tumbuh dari hari ke hari. Melewati 2 tahun masa penjajakan dan 10 tahun dalam bahtera rumah tangga, sungguh cinta itu terus tumbuh. Kini,…harus ku apakan cinta ini?

….

Keesokkan hari, kutelpon kembali adikku Maya,”May, ada perkembangan nggak? Ada info baru nggak?” tanyaku. “Kelihatannya Mas Lukman lebih berhati-hati kali ini, dia tidak pernah lagi terlihat di restaurant itu, sudah 2 hari berturut-turut Mas Adit kesana.” Jawab Maya. “Sudah 3 kali dalam minggu ini Mas Lukman pulang larut. Katanya sih banyak kerjaan, tapi siapa yang tahu? May, kalau Mas Lukman pulang larut lagi, bisa nggak yaa Adit mengecek apakah Mas Lukman benar-benar ada di kantor atau tidak? Nanti aku telepon kalau Mas Lukman kasih kabar akan lembur kerja.”pintaku pada Maya. “Iya Mba, nanti aku kasih tahu Mas Adit.”jawab Maya. “Maaf yaa Maya, aku jadi merepotkan kalian berdua, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin menyeledikinya sendiri, tapi bagaimana dengan anak-anak? Selain itu, rasanya aku belum sanggup menyaksikan Mas Lukman bersama wanita lain dengan mata kepalaku sendiri.” Kataku memelas.

…..

Kring,…kring,…hp-ku berbunyi, dari Maya.”Iya May, ada apa? Ke rumahmu? Sekarang? Ya udah, insya Allah. Aku izin dulu sama Mas Lukman. Assalamu’alaikum.” Ada apa ini? Kabar burukkah?

Kutunggu buah hatiku pulang sekolah dengan gelisah. Segera setelah mereka pulang, ku suruh mereka ganti pakaian. Kita akan ke rumah tante Maya jawabku ketika mereka bertanya hendak diajak kemana. Ku telpon taxi, dan selajutnya langsung menuju rumah Maya, yang tidak jauh letaknya dari rumahku.

Duapuluh menit kemudian aku dan anak-anak telah sampai di rumah Maya. Anak-anak langsung berlarian ke halaman belakang rumah Maya yang masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Anak-anak senang bermain disana, mereka bebas bergelantungan di dahan dan memanjat-manjat pohon. Aku dan Maya menuju ruang keluarga, tempat kami biasa bercengkrama jika sedang berkumpul. Kami akan membahas hasil penyelidikan suami Maya.

Infomasi dari Adit, wanita itu partner bisnis Mas Lukman, dan kemungkinan, karena intensitas pertemuan mereka, akhirnya terjalin hubungan yang special diantara mereka. Adit melihat mereka di sebuah kafe dan mereka terlihat layaknya pasangan kekasih.

Maya menatapku prihatin. “Sabar, mba…” Ku usap air mataku yang mengalir tanpa dapat ku bendung. Ku gigit bibirku, agar tangisku tertahan. “Aku ingin Mas Lukman berterus terang. Tapi kalau tiba-tiba ia lebih memilih wanita itu,…dan memutuskan menceraikanku, sanggupkah aku? Bagaimana dengan anak-anak? Apa yang akan ku katakana pada mereka jika ayahnya tidak juga pulang ke rumah?”

Maya menggenggam erat tanganku.” Mba Laras sebaiknya bertanya langsung ke Mas Lukman tentang wanita itu,…jika benar mereka ada hubungan, tanyakan kepada Mas Lukman apa rencana ke depan Mas Lukman, dan nyatakan ke Mas Lukman juga apa yang Mba Laras inginkan.”

Aku tepekur. Sekilas Maya mengusap tanganku kemudian meninggalkan aku sendiri.

…..

Mas Lukman akan pulang agak larut malam ini. Anak-anak sebenarnya sudah protes, mereka kangen untuk bergulat ria dengan ayahnya. Kasihan sekali anak-anakku, mereka tidak tahu ayah mereka menemukan kesenangan baru.

Rasanya tidak sanggup jika kutanyakan langsung kepada Mas Lukman tentang hubungannya dengan wanita itu. Aku takut tidak dapat mengontrol perasaanku. Akhirnya kuputuskan untuk menulis surat untuknya.

Mas Lukman,

Aku tidak tahu harus memulainya dari mana,…aku mendengar kabar tentang hubunganmu dengan wanita lain. Aku sangat terpukul dan sedih. Tapi aku menyadari, mungkin aku tidak cukup bagimu, mungkin kau merasa bosan denganku. Jika dapat memilih aku tidak ingin berbagi. Tapi aku menyadari ini bukan tentang perasaanku, tapi perasaanmu.

Siapa wanita itu? Kekasihmu? Atau istrimu? J

Jika ia istrimu, kau harus mengenalkannya padaku. Tidak,… aku tidak akan berbuat buruk terhadapnya. Aku hanya ingin mengenal wanita yang telah membuatmu jatuh cinta. Setelah itu, hiduplah kalian dalam damai. Aku bahagia jika kau bahagia. Aku hanya berharap, jangan tinggalkan aku, demi anak-anak. Biarlah ku tata hatiku untuk menerima kenyataan ini. Biarkan anak-anak bahagia seperti sediakala. Ku mohon, lakukan demi anak-anak kita.

Jika wanita itu kekasihmu, nikahilah ia, atau tinggalkan ia. Jangan biarkan perselingkuhanmu membuat kehidupanmu dan anak-anak menjadi tidak berkah.

Laras

Air mataku jatuh membasahi surat itu. Kulipat dan kuletakkan surat itu di meja kerja Mas Lukman.

….

Pagi-pagi sekali, Mas Lukman sudah bersiap-siap ke kantor. Aku sedang sibuk menyiapkan sarapan dan bekal sekolah untuk anak-anak. Mas Lukman menghampiriku, “Bunda, ayah nggak sempat sarapan di rumah, ada rapat di kantor. Tidak apa-apa khan?” tanya Mas Lukman. Aku mengangguk tanpa suara. Dikecupnya keningku dan bergegas pergi. Aku sedih sekali. Jangan-jangan,…Mas Lukman ada janji makan pagi dengan wanita itu. Sudahkah ia membaca suratku?

Segera, setelah anak-anak berangkat ke sekolah, aku masuk ke kamar kerja Mas Lukman. Suratku sudah tidak ada di meja kerjanya, sebagai gantinya, ada sebuah kertas mungil berwarna biru, dan di situ tertulis,…

”Laa Tahzan! Terimakasih atas segala pengertian Bunda,…Ayah akan lakukan apa yang Bunda inginkan. Insya Allah Ayah ridho dengan segala yang telah Bunda persembahkan untuk ayah.”

Terduduk aku di kursi kerja Mas Lukman, air mataku tumpah ruah. Jadi,…Mas Lukman memang memiliki hubungan yang special dengan wanita itu. Ya Allah,…kuatkan hati hamba.

Kutelpon Maya, kuceritakan tentang suratku dan juga jawaban Mas Lukman. “May, aku perlu menenangkan diri. Besok antar aku ke rumah Ibu ya? Aku akan minta izin Mas Lukman agar dibolehkan menginap di sana satu atau dua malam.” Kataku memohon. “Baik Mba, besok aku jemput sekitar jam 10 pagi.” Kata Maya.

Aku sudah mendapat izin, sudah berkemas, anak-anakpun sudah siap, tinggal menunggu Maya. Kebetulan ini hari sabtu, anak-anak sedang libur. Dan Mas Lukman, sudah sejak pagi berangkat kerja. Akhirnya Maya datang, kamipun langsung berangkat. Dalam perjalanan aku dan Maya lebih banyak diam. Hanya suara ribut anak-anak yang mewarnai perjalanan kami.

Satu jam perjalanan, kamipun tiba di rumah Kakeknya anak-anak. Ku lihat sudah ada 2 mobil yang diparkir. Kakak-kakakku. Ketika masuk rumah, aku heran, semua orang sibuk di dapur. “Ada acara apa? Kenapa aku tidak diberitahu?” pikirku. Aku melirik Maya dengan wajah bertanya, Maya hanya mengangkat bahu. Saat aku menghampiri Ibu hendak bertanya,…Ibu memelukku erat, seolah-olah hendak memberi kekuatan. Dan kakak-kakakku yang lain mengusap-usap punggungku dengan wajah prihatin. Aku bingung.“Jangan-jangan Maya sudah cerita ke ibu, dan ibu bercerita ke kakak-kakakku yang lain.” Aku jadi salah tingkah. Belum genap aku memahami kebingunganku, terdengar pintu bel berbunyi. Ada kiriman bunga.

“Dari siapa?” Tanya Ibu kepada Bi Nah yang menerima kiriman itu. “Dari suaminya non Laras.” Jawab Bi Nah. “Mas Lukman? Mau apa dia mengirim bunga ke Ibu segala. Tanda Maaf?” pikirku heran. “Dari Lukman, tapi untukmu Laras.” Kata ibu.

Ragu-ragu,… kuambil bunga itu. Ada kartu ucapannya. Ku buka kartu itu,…

My dear Laras,

You had given me the best things a man would ever want to, love, compassion, understanding, unlimited pleasure, wonderful life, wonderful kids and more. You are the one and only. There’s no one else. I wouldn’t have a heart to hurt you. I love you too much. Thank you for the happiness you bring into my life. Happy 10th anniversary.

Lukman

Aku menangis haru. Masya Allah, aku tidak ingat sama sekali hari ulangtahun perkawinanku. Pikiranku benar-benar kacau. Ku lihat semua orang senyum-senyum melihatku. Tanpa kusadari, Mas Lukman telah berdiri di sampingku. Akupun menghambur dalam pelukannya. It’s feel great. So great. Samar-samar kudengar suara merdu Lionel Ritchie dan Dianna Ross,…

My love, there’s only you in my life,

The only thing that’s right.

My first love, you’re every breath that I take, You’re every step I make.

And I, I want to share, all my love with you, No one else will do.

And your eyes, they tell me how much you care.

Oh yes, you will always be, my endless love.

Two hearts, two hearts that beat as one.

Our lives have just begun.

Forever, I’ll hold you close in my arms,

I can’t resist your charm.

My love, I’ll be a fool, for you I’m sure, You know I don’t mind.

Cause you, you mean the world to me.

Oh, I know I’ve found in you, my endless love.

And love, I’ll be that fool, for you, I’m sure. You know I don’t mind. And yes, you’ll be the only one. Cause no one can deny, This love I have its fine. I’ll give it all to you, My love, my love, my endless love.

……….


Responses

  1. looks familiar with Lukman..😀

  2. hmmm,….Sweet story…now you find a space to pour out your imagination ya….Moreee stories dunk, mean while nunggu cerpennya terbit…

  3. sweet story…🙂

    • thanks

  4. nice story…
    membaca cerpen ini…seperti membaca kisah hidupku sendiri🙂.
    saling mempercayai, itu yang terpenting.🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: