Oleh: ummuali | 15/05/2009

Sadarkah Kita, Berapa Banyak Kita Telah Berbuat Dzalim Terhadap Anak-Anak Kita?

Pemicu hadirnya tulisan ini adalah kejadian beberapa saat yang lalu antara aku dan anakku, Ibrahim, yang baru berumur 31/2 tahun. Aku sedang mengetik sebuah tulisan yang belum kusimpan, tiba-tiba sebuah tangan mungil memencet-mencet tuts computer secara acak. Spontan, kupegang tangan mungil tersebut, kupandangi anakku,…kemudian kucubit. Anakku itu menangis dengan keras. Padahal itu bukan cubitan yang menyakitkan. Mungkin dia menangis karena kaget, tidak menyangka akan mendapat cubitan. Mungkin.

Kusudahi tulisanku, kemudian kudekati anakku Ibrahim. Kupeluk dia.

“Tadi Dede nangis yaa, kenapa?”, tanyaku .

“Dicubit Ummi.”jawabnya.

“Dede tahu kenapa dicubit Ummi?”tanyaku lagi.

“Karena gangggu Ummi.” Jawabnya lagi.

“MaafinUummi yaa, udah cubit dede, tapi lain kali dede tidak boleh seperti itu lagi.” Kataku.

“Iya Mi, Dede enggak begitu lagi, karena Dede sayang Ummi.” Jawabnya.

Sekilas hatiku berdesir. Hmm,… anakku menangis bukan karena sakitnya dicubit, tetapi lebih karena, hatinya yang sakit.

Dalam diam, terselip penyesalan,….sebuah pertanyaan muncul, walaupun tidak menyakitkan, perlukah cibutan itu?

Jika kelak Allah bertanya kepadaku, kenapa waktu itu aku mencubitnya, apa jawabku?

Hal ini kemudian berlanjut kepada pemikiran,..

Mari berhitung, jika kita ingat-ingat seberapa banyak sudah, kita sebagai orangtua tanpa sadar ataupun dengan sadar (tetapi tidak mampu mengendalikan diri), telah berbuat dzalim terhadap anak-anak kita?

Dan apa yang baru saja kulakukan adalah salah satu bentuk dari sebuah kedzaliman terhadap anakku,…(Ya Allah, ampuni aku, dan berilah aku kesabaran tanpa batas dalam ridho-Mu agar dapat mendidik dan mengasuh anak-anakku.)

Mari berbagi,….sepengetahuanku, hanya ada satu hadist Rasulullah yang nyata-nyata membolehkan orang tua melakukan pemukulan terhadap anak,…hadist tersebut berbunyi,…

“Ajarkanlah anak-anakmu shalat ketika mereka sudah berusia 7 tahun dan pukullah mereka (jika mereka meninggalkan shalat) ketika berusia 10 tahun. Dan pisahkanlah diantara mereka (putra dan putri) kamar tidur mereka.”

Jika dicermati, ada dua hal mendasar yang dapat digaris bawahi,…

PERTAMA, bahwa sebagai orang tua, kita BOLEH memukul anak ketika dia telah berumur 10 tahun, itupun dengan masa pembelajaran 3 tahun sebelumnya. KEDUA, alasan pemukulan tersebut adalah karena anak  tidak melaksanakan shalat.

Jadi ketika anak kita berada dalam batas ambang dewasa (baligh), kita baru diperbolehkan melakukan hukuman fisik. Karena pada umur tersebut, si anak sudah dapat diberi pengertian, pada umur tesebut anak sudah lebih paham tentang hukum sebab akibat. Di umur tersebut juga si anak telah dapat memilah mana yang baik dan buruk, dan tahu mana yang boleh dan tidak boleh.  Sedang dimasa kanak-kanak, anak cenderung meniru atau mencontoh. Jika kita kerap menyakiti mereka, maka jangan kaget jika kelak anakpun menjadi mudah menyakiti orang lain.

Kemudian penyebab pemberian hukuman (pukulan) haruslah sesuatu yang berhubungan dengan pelanggaran terhadap syariat Islam atau pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Allah.

Diriwayatkan dari Aisyah r.ah, “Rasululallah tidak pernah memukul sesuatupun dengan tangannya, baik istri maupun pembantunya, kecuali saat berjihad di jalan Allah. Beliaupun tidak pernah dilapori sesuatu, kemudian menghukum pelakunya kecuali jika ia telah benar-benar melanggar batas-batas keharaman Allah, maka beliaupun meghukumnya demi Allah SWT.”

Mari berbenah diri (saya maksudnya), mudah-mudahan hadist diatas dapat kita jadikan pegangan, (dengan mencontoh Rasulullah), agar kita dapat lebih menahan diri, kemudian menyikapi perbuatan-perbuatan anak-anak kita yang tidak kita sukai, yang melanggar aturan-aturan yang kita buat, dengan tindakan yang tepat. Karena sering kali kita lebih marah ketika anak-anak kita merusakkan mainan yang baru kita belikan, ketimbang ketika mereka tidak shalat misalnya.

Apa yang baru saya paparkan hanyalah satu bentuk kedzaliman orang tua terhadap anaknya. Masih banyak bentuk kedzaliman yang lain, yaitu orangtua berpotensi mendzalimi anak-anaknya dalam hal fisik, intelektual, social, moral maupun spiritual. Jika kita jabarkan satu-persatu,….masya Allah betapa panjang daftar kedzaliman-kedzaliman itu.

Jika ditanyakan, seberapa banyak kita telah berbuat dzalim kepada anak-anak kita? Jawabannya mungkin sangat sederhana, tidak pernah, jarang atau sering. Tapi dampak dari kedzaliman-kedzaliman itu sungguh tidak sederhana.

Ummu Ali, yang sedang belajar menjadi seorang ibu yang baik di mata-Nya.


Responses

  1. That’s very touchy

    • thanks

  2. Saya ada pertanyaan, mudah2an ummu bisa menjwbnya dgn tpt dan syariat.
    Apa hukum org tua mendzalimi anaknya, baik anak itu msh kecil maupun anak itu udh baligh (dewasa) bhkan udh menikah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: