Oleh: ummuali | 19/02/2014

JERAWAT DI WAJAHKU

Seumur hidup, baru kali ini aku memiliki jerawat yang lumayan banyak di wajah, dengan tingkat pertumbuhan yang cukup “menggelisahkan”.

Tamu yang bertandang, biasanya bertanya, “Kenapa Umm, mukanya?”

Jawabku tentu saja,”Iya nih jerawatan.”

Kemudian mereka komentar,”Salah pakai kosmetik Umm?”

 “Alergi atau salah makan?”

 ”Lagi stress Umm, banyak pikiran?”

”Nggak ngerawat muka ya?”

 ”Jarang dibersihin?”

Semuanya kujawab,”Nggak tahu nih kenapa.”

Duh malu. Ternyata mereka memperhatikan. Aku jadi berpikir untuk melakukan treatment terhadap wajahku ini. Mulailah aku memakai sabun pembersih jerawat pagi petang, membersihkan dengan susu pembersih tiap malam, dan tentu saja mengoleskan krim penyembuh jerawat.

Selang seminggu, aku mematut diri di cermin, ternyata, jerawat tetap bertengger  di wajahku dengan setianya. Wah, ini jerawat kebal sekali ya.

3 minggu berlalu semenjak aku menyadari punya jerawat. Kini aku mematut diri lagi di cermin. Alhamdulillah, jerawat masih ada.

Aku jadi berlama-lama menatap diri ini di cermin. Berbagai pikiran mulai  berkelebat. Aku mulai merasa sedih. Bukan, bukan pada jerawat yang tumbuh di wajahku ini dan belum mau pergi. Tapi….aku teringat pada hatiku…akh, barangkali hatiku pun ditumbuhi banyak jerawat. Karena aku tidak menyadarinya, maka Allah kirimkan jerawat di wajah ini sebagai peringatan.

Jerawat di wajah adalah tampilan luar, dan lihat bagaimana aku bersusah payah melakukan ini itu demi menghilangkan jerawat di wajahku. Bagaimana dengan jerawat di hatiku?

Teringat pada hatiku pada awal mula diciptakan….

 Allah menitipkan hati yang putih bersih kepada setiap hambanya. Tapi…tengoklah seperti apa hati kita hari ini…

Waktu berlalu, mulailah debu-debu menempel di hati. Adakah kita menyadarinya? Kotoran-kotoran, sedikit demi sedikit menyambangi  hati dan tak pergi.  Adakah kita membersihkannya?

Andai dapat kita lihat wajah hati kita, mungkin rupannya bisa jadi lebih buruk dari wajah  kita yang ditumbuhi  jerawat ini.

Bayangkan saja wajah yang tidak pernah dibersihkan, akan seperti apa? Kotor, berminyak, berjerawat dan tentu saja tak sedap dipandang. Bagaimana dengan hati kita? Aikh…Allah sang pemilik hati setiap hamba, pasti tak suka memandangnya.

Atas debu-debu dan kotoran-kotoran di hati, kita lupa membersihkannya. Kita lupa merawatnya. Kita memenuhinya dengan prasangka-prasangka buruk. Kita tidak memberinya asupan yang dibutuhkannya. Kita memolesnya dengan polesan syetan.

Jerawat diwajah,  kendati telah dilakukan treatment, ternyata jerawat ini tidak seketika menghilang. Kudu sabar, kudu istiqomah.

Begitupula hati, jika telah ditumbuhi jerawat, maka membersihkannyapun perlu sabar, perlu istiqomah.

 

Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah Hati.” (HR.Al-Bukhari)

 

Allah SWT berfirman: “…dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaanNya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS.Asy-Syams : 7-10).

 

Layaknya komentar teman-teman yang melihat wajahku berjerawat. Ada yang komentar salah pakai kosmetik. Mungkin begitupula hati kita yang berjerawat karena menghiasi, harusnya kita berkosmetik dengan sabar, tawakal, ikhlas. Kita malah memolesnya dengan amarah, rasa iri, prasangka buruk dll.

Atau komentar taman yang lain, wajahku berjerawat karena alergi atau salah makan. Mungkin ini pula yang terjadi dengan hati kita yang berjerawat salah memasukan isi ke dalam hati kita.

Ada yang berkomentar, tidak dirawat. Benar, mustinya kita banyak-banyak muhasabah. Ada yang berkomentar, jarang dibersihkan. Benar, kita jarang sungguh-sungguh beristighfar.

Saudaraku,….begitu besar cinta Allah kepada para hambaNya, karenanya Allah akan senantiasa mengirimkan kita sinyal-sinyal, tanda-tanda ketika kita mulai menjauh dariNya, ketika kita mulai “setia” mengotori hati-hati kita. Alhamdulillah, dalam segala hal yang terjadi, kita dapat melihat hikmah dibalik itu semua.

Ummuali.wordpress.com

Oleh: ummuali | 26/04/2011

Kehamilan Yang Dinanti

Pengarang : Ibunye Ali

Sudah dua minggu, tamu gue belum datang-datang juga. Jadi dag-dig-dug nih. Biasanya baru 3 hari tamu gue telat, gue udah nggak sabaran langsung test urine. Record nih, sampai hari gini gue belum test. Record juga telatnya sampai 2 minggu. Test…Nggak…Test…Nggak. Aduuh, bingung nih!

Di tahun ke 5 pernikahan, kehadiran anak jadi penting banget bagi gue. Dari segi umur, belum dead line sih. Tapi, dari usia pernikahan, rada telat kalau gue belum juga punya anak. Udah 5 tahun. Sedangkan gue nikah waktu umur gue 25 tahun, suami gue 28 tahun. Kita emang pengen nikah muda. Biar kalau anak-anak udah gede, gue belum tua-tua amat. Itu juga kalau umur gue panjang. Lagian, ngapain juga ditunda, we both feel ready.

Rencananya juga, gue pengen punya 4 atau 5 anak gitu. Suami sih terserah aja. Bukannya nggak mau ikut program KB pemerintah, tapi seru aja rasanya ngebayangin punya anak banyak. Kaya Ibu gue, anaknya enam. Tapi, bagaimana mau punya 4 atau 5 anak, satu aja sampai sekarang belum punya.

“Hey…kok bengong?” Sapa sohibku, yang tiba-tiba muncul di kantorku. Lamunankupun buyar.

“Eh…ngagetin aja!” Jawabku.

“Daripada bengong, jalan-jalan yuk, sekalian makan siang?” Ajaknya.

“Boleh juga.” Jawabku, puncuk dicinta, jadi bisa curhat nih.

Delia, dia sohib gue. Kita sudah sohiban sejak SMA. Banyak kesamaan antara gue sama dia. Sama-sama cantik. Sama-sama hobi jalan-jalan. Sama-sama sudah menikah. Sama-sama punya Suami ganteng. Bedanya, dia udah punya anak 3, sedangkan gue belum ada satupun. Dia suka ngehibur gue. Katanya, dia rela kok anak-anaknya dianggep anak sendiri sama gue. Dibiayain hidup sama pendidikannya juga boleh. Yang pertama gue setuju, yang kedua enggak banget. Enak emak sama bapaknya dong. Tapi, tetap aja, gue pengen punya anak sendiri. yang lahir dari rahim gue sendiri.

“Yuk, berangkat?” Ajakku setelah selesai membereskan beberapa surat.

*****

            Usai memesan makanan di sebuah restaurant yang cukup ramai. Iyalah, siang-siang begini, emang waktunya orang-orang pada makan siang.

“Del, tau nggak?”

“Enggak!”

“Makanya, mau gue kasih tahu. Dengerin dulu. Udah 2 minggu nih, gue telat datang bulan.”

“Bagus tuh, kenapa bingung?”

“Gue belum periksa. Masih takut, takut negative lagi!”

“Periksa donk, biar nggak bingung lagi. Paling enggak elo jadi tau, kan udah 2 minggu telat, kalau positive emang harapan elo, kalau negative, ya siap-siap aja, barangkali elo udah menepouse!”

“Sialan! Loe kira gue udah jompo apa! Gue serius nih, bukannya ngasih support positive.”

“Oke, Oke, sorry, saran gue sih, lu  test aja, Va. Kalau dah ketauan hasilnya, lu kan jadi tau apa yang musti lu kerjain. Daripada ditunda-tunda lu jadi nggak konsen gitu. Iya khan?”

*****

Pagi-pagi, suami gue belum bangun. Gue ke kamar mandi, bawa test pack. Iya nih, gue mau test dulu. Katanya waktu yang paling bagus untuk test urine, pagi-pagi abis bangun tidur.     Setelah test dilakukan…

1 menit.

2 menit.

3 menit.

“Tok, tok, tok…” Terdengar suara ketukan di pintu kamar mandi. Aduh! Ngagetin aja. Ngapain sih diketok-ketok.

“Yang, masih lama? Aku juga mau pake nih kamar mandinya. Dah nggak tahan” Teriak Suamiku.

Heran banget sih, kan kamar mandi ada 2. Walau ini kamar mandi kesayangan, lagi emergency gitu, cari kek yang kosong. Ganggu aja.

“Masih, pake yang lain aja!” Jawabku. Nggak tahu apa, gue lagi ngelakuin misi paling penting dalam hidup gue.

Dah waktunya di liat nih. Mudah-mudahan ada 2 strip. Perlahan-lahan gue balik test pack itu. Gue lihat dengan dada berdebar. OMG, cuma 1 strip. Negative, Lagi? Gue langsung lemas.

*****

            “Aduuuh, pagi yang cerah, tapi ada wanita cantik melamun.” Sapa Suamiku.

Aku diam. Lagi males ngomong. Males ngapa-ngapain!

“Kok, diem aja? Pagi-pagi gini, enaknya baca Koran sambil minum teh!” Katanya lagi.

Pagi-pagi gini tuh harusnya gue sibuk ngurusin anak. Mandiin, makein baju, siap-siap nganter sekolah kaya orang-orang lain.

“Lagi males ngomong?” Tanya suamiku.

Aku diam tidak menjawab.

“Lagi sakit gigi?” Tanyanya lagi.

Aku tetep tidak menjawab.

“Hmm…lagi dateng bulan?” Tanya Suamiku hati-hati.

Ku gelengkan kelapa.

“Alhamdulillah…biasanya kalo lagi dateng bulan kamu kaya’ gitu.”  Katanya.

“Tapi, ngomong-ngomong, udah lama juga kamu nggak dateng bulan? Jangan-jangan kamu lagi hamil.” Lanjutnya lagi.

Gue keluarin test pack yang dari tadi pagi masih gue pegang. Gue kasih ke suami gue. Terus, gue nangis.

“Sudah, sudah, this isn’t the end of the world right?” Kata suami sambil meluk gue.

Ya, bukan the end of the world tapi the end of my world, kalau tiap bulan begini.

*****

            Sebenarnya pagi ini gue  males banget  ketemu orang. Males pergi ke kantor. Tapi, anak-anak murid gue sebentar lagi mau lomba bakat. Gue harus ada untuk memberi mereka semangat. Walau tanpa anak, hidup gue nggak sepi-sepi amat sebenarnya. Keponakan-keponakan gue banyak. Dan gue mengelola sebuah Taman Kanak-Kanak milik Orang Tua.

Memasuki area sekolah, gue liat salah seorang wali murid yang  udah lama nggak keliatan batang hidungnya. Padahal dia yang paling getol nyambangin ruangan gue untuk sekedar basa-basi.

“Mama Icha, Apa kabar?” Sapaku ramah.

“Alhamdulillah baik, Bu Eva.” Jawabnya tak kalah ramah.

“Kayanya sudah lama nggak keliatan ke sekolah?” Tanyaku

“Iya Bu, saya lagi mabok. Sudah sebulan nggak bisa kemana-mana.” Jawabnya.

“Ooo, Mama Icha lagi ‘isi’?” Tanyaku

“Iya Bu, udah 2 bulan-an.” Jawabnya lagi.

“Selamat yaa…” Ucapku tulus.

“Makasih Bu. Saya permisi dulu Bu, mau periksa kandungan.” Pamitnya. Setelah cipika-cipiki kamipun berpisah.

Akupun bergegas menuju ke kantor. Tuh, kan, dari tadi juga emang gue males ke kantor. Males ketemu orang. Pas ketemu orang, beritanya bikin gue makin menderita. Kenapa sih, orang gampang banget punya anak.

Tiba di kantor, gue lihat Bu Indri, yang bertugas sebagai Tata Usaha telah duduk manis di tempatnya.

“Assalamu’alikum, Bu Eva.” Sapanya.

“Wa’alaikumsalam.” Jawabku, kemudian masuk ke dalam dan duduk di kursi sebelah Bu Indri.

“Oia, Bu, tadi Mama Rio telepon, dia titip pesan, katanya Ibu mau nggak barengan jenguk Mama Nabila.” Kata Bu Indri.

“Memang Mama Nabila kenapa?” Tanyaku.

“Kan, kemarin baru saja melahirkan.”

“Astaghfirullah, saya lupa. Hmm…bilang saja, saya hari ini tidak bisa, silahkan kalau Ibu-ibu yang lain mau menjenguk terlebih dahulu.” Jawabku sambil beranjak masuk ke dalam, menuju ruang pribadiku.

Ukh…sebel, sebel, sebel.

*****

“Va, diajak Reuni nih, Sabtu besok. Ikutan yuk?” Ajak Delia.

“Males ah, nggak punya buntut, nggak ada yang dipamerin.” Jawabku. Dari dulu, setiap datang reuni, pasti yang ditanyain temen-temen, gue udah punya anak apa belum.

“Reuni kali ini lain Va. Justru peraturannya nggak boleh bawa anak.”

“Ooo, gitu! Tapi, gue tetep males ah.”

“Va, jangan gitu dong, kapan gue bisa pergi reunian tanpa diganggu anak-anak kaya sekarang? Kalo elo nggak ikut, bisa-bisa suami gue nggak ngasih izin pergi nih, ayo dong Va, ikut ya?” Rayu Delia.

*****

            Pergilah kita berdua ke acara reunian yang diadakan seorang teman di rumahnya yang terbilang besar. Gile! Enak banget jadi artis, baru ikut sinetron stripping sekali aja, bisa punya rumah gede kaya gini.

Sehabis berkeliling melihat-lihat keadaan, tiba-tiba datang seseorang menyapa.

“Delia! Eva!”

Kita berdua menoleh ke sumber suara. Wanita cantik, dengan balutan gaun berwarna merah maroon yang ketat membungkus tubuhnya. Menghampiri kami.

“Ririn!” Sapa kami kompak.

Setelah bertukar kabar. Bercerita kisah-kisah lucu semasa SMA. Bertukar informasi tentang teman-teman yang masih melajang, tiba-tiba, Delia bertanya, “ Anak loe berapa Rin?”

“Gue belum punya anak.” Jawab Ririn.

“Sama dong, gue juga belum punya anak.” Jawabku girang ada temen sependeritaan.

“Emang, loe nikah udah berapa tahun, Rin?” Gantian gue yang nanya.

“Tiga tahun.”

“Belum dikasih, atau sengaja ditunda?” Tanyaku lagi.

“Hmm…nggak pengen aja.” Jawabnya mengagetkan kami berdua.

Nggak pengen! Baru kali ini gue dengar langsung orang nggak pengen punya anak. Ternyata di negeri gue ini, ada juga yang nggak pengen punya anak. Gue kenal lagi sama orangnya. Kalo orang bule khan emang banyak yang nggak pengen punya anak.

“Kok, nggak pengen Rin? Kenapa?” Tanyaku penasaran.

“Gue nggak tahan sama anak kecil. Ngebayangin ada anak yang terus-terusan buntutin gue sambil nangis-nangis pasti bikin gue stress. Belum lagi, gue harus hamil, kayanya enggak deh!’

“Terus, Suami loe, oke-oke aja loe nggak mau punya anak.”

“Justru, karena kita seide, makanya kita berdua menikah. Dari dulu khan banyak yang mau nikah ama gue, tapi cuma dia doang yang seide sama gue untuk nggak punya keturunan.”

Gue pikir, gue sama Ririn senasib. Gue sampai dying pengen punya anak, dia malah nggak pengen. Dunia…dunia.

*****

            Di beranda rumah suatu sore. Suami gue pulang cepat. Kita berdua sedang menikmati teh hangat. Rumput, setelah sesorean disiram hujan, seger banget baunya. Hmm…seandainya ada anak, mungkin ia akan merengek-rengek diperbolehkan mandi hujan tadi sore. Dan saat ini, mungkin gue lagi mandiin pake air hangat.

“Bang, kita kok belum dikasih anak ya? Udah 5 tahun kita nikah.”

“Sabar, emang belum waktunya dikasih.”

“Abang nggak merasa kesepian?”

“Khan ada kamu. Bagaimana Abang merasa kesepian? Lagian, Abang nikahin kamu tujuannya khan bukan untuk punya anak.”

“Jadi, Abang sebenarnya nggak pengen punya anak?”

“Abang pengen punya anak, karena itu yang bikin kamu bisa bahagia. Buat Abang sendiri, ada atau tidaknya anak nggak masalah.”

Aku terdiam memikirkan kata-katanya. Hmm…

“Kita ke dokter yuk? Periksa apa kita berdua subur?”

“Terserah kamu aja, kalau kamu merasa siap, kita bisa pergi kapanpun kamu mau.”

*****

Setelah perbincangan tadi malam, gue konsultasi sama Delia tentang dokter kandungan yang terbaik, secara dia udah pengalaman. Abang dan gue pergi ke dokter kandungan yang direkomendasiin ama Delia.

Di ruangan tunggu yang serba putih, berjejer ibu-ibu hamil dengan perut yang membesar. Ya iyalah, namanya juga hamil pasti perutnya yang besar masak kakinya. Itu sih sakit beri-beri! Gue jadi nggak Pede, kayanya yang perutnya kecil gue doang.

Nomor antrian gue 25. Ampun deh! Ngetop amat ni dokter. Padahal gue udah daftar pagi banget. Gue liat kiri kanan, mencari tempat duduk. Di situ bumil, disana bumil. Masak perempuan sebanyak ini, yang nggak hamil gue doang. Akhirnya, gue memutuskan duduk di sebelah perempuan muda yang kelihatan langsing. Nah, ini dia yang gue cari, perempuan yang nggak hamil.

“Mba, mau ke dokter kandungan juga?” Tanyaku basa-basi kepada perempuan di sebelahku.

“Iya.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Mau konsultasi atau periksa kandungan?” Tanyaku mau tahu.

“Saya mau KB. Soalnya anak saya sudah 3, terus, masih kecil-kecil.” Jawabnya lagi.

Gubrak! Masih imut begitu, anaknya udah 3. Aduh, jadi ilfil nih mau ngobrol. Aku pun pamit, mencari tempat yang lebih sepi. Gue mau mempersiapkan mental.

“Ibu Eva Winata?”

“…”

“Ibu EVA WINATA?”

“Iya Suster, saya!” Aku pun bergegas masuk ke dalam ruang dokter dengan hati yang kebat-kebit.

*****

            Itungannya dah sebulan nih, gue ama Suami konsultasi ke dokter kandungan. Gue dikasih obat untuk nyuburin kandungan, terus dikasih jadwal untuk melakukan pembuahan. Awalnya Suami gue nggak setuju, masalah jadwal-jadwalan. Tapi ngeliat muka gue yang melas, dia akhirnya setuju.

Sekarang, gue mau ke dokter lagi. Karena udah terapi belum ada hasil, organ reproduksi gue mau diperiksa. Salah satunya saluran telur gue. Katanya kalau ada sumbatan di saluran telur gue, otomatis gue emang nggak bisa hamil. Waduh!

Pokoknya gue udah pasrah deh, diperiksa apa aja gue mau. Yang penting gue punya anak. Setelah selesai menjalani pemeriksaan, akupun disarankan datang keesokkan hari, untuk konsultasi lanjutan berkenaan dengan hasil pemeriksaan gue.

Keluar dari ruang dokter, aku menabrak seseorang.

“Ririn!”

“Eh, Eva”

“Kok, kamu ada di sini?”

“Iya, Va, gue hamil dah sebulan.” Jawab Ririn tidak bersemangat.

“Gue nggak tahu nih, mau ngomong apa. Semoga semua baik-baik aja ya. Yuk, Rin, gue duluan …” Aduh, gue jadi ngiri nih ama Ririn.

*****

Gue sama suami dateng lagi berdua untuk ambil hasil pemeriksaan gue. Pas nama gue dipanggil, gue buru-buru masuk. Udah nggak sabar nih, pengen tahu hasilnya.

Gue dikasih liat hasil rontgen. Hasilnya…

Nggak adil!  Gue yang kepengen banget punya anak ternyata nggak bisa, sementara, Ririn yang enggak pengen…Now she’s going to have one. Nggak adil! Nggak adil! Gue lari sambil nangis.

Bruk!!! Gue nabrak orang.

Terus gue bangun, pas melek mata, ternyata gue udah di lantai terkapar. Alhamdulillah, ternyata hanya mimpi. Kata orang-orang, kalau kita mimpi sesuatu, maka dalam kehidupan nyata yang terjadi adalah kebalikannya. Asyiiik…mudah-mudahan…mudah-mudahan.

Aku beringsut ke ruang keluarga, kulihat lelaki tercintaku sedang termenung memegang sebuah kertas. Hmm…jangan-jangan kertas PHK, kok suamiku terlihat lesu begitu. Akupun beranjak mendekat. Mencoba melihat kertas itu.

Hah!!! Tertera nama suami gue. Tertulis, INFERTILE. God, ternyata ini arti mimpinya. Gubrak! Sori gue jatuh pingsan.

…..

Oleh: ummuali | 09/04/2011

Budaya Selametan

 

Suatu siang, khadimat di rumahku masuk ke rumah dengan membawa bungkusan. “Apa itu, mba?” tanyaku

“Nasi selametan bu.” Jawabnya

“Oo, siapa yang selametan?

“Mama B.” “Selametan apa?”

“Selametan motor. Mama B, baru beli motor baru.”

“Selametan motor?” tanyaku heran. Kebetulan aku memang baru sekali ini dengar ada selametan motor.

“Iya bu, selametan motor. Harus itu. Kalau beli motor baru, memang harus selametan. Di kampung saya juga begitu.”

“Harus? Kalau enggak dosa dong.” Jawabku iseng.

“Ya, enggaklah bu, tapi, kalau nggak diselametin, nanti gampang celaka.”

Hmm…..

……….

Kalau ada yang selametan menempati rumah baru, saya pernah dengar. Bahwa sang penghuni baru mengadakan acara makan-makan dalam rangka mengenal tetangga kiri kanan. Tapi, selametan motor baru? Saya baru dengar. Jangan-jangan nanti kalau kita beli kompor baru harus selametan juga, supaya kompor nggak meledak. Atau, kalau kita beli hp baru, harus selametan juga supaya nggak salah sambung???

Acara makan-makan dalam rangka mensyukuri nikmat Allah, tidaklah mengapa. Karena acara makan-makan tidak termasuk dalam kategori ibadah murni. Ketika ada hal-hal yang membahagiakan terjadi dalam kehidupan kita, kita melaksanakan “selametan” atau syukuran dengan niat berbagi rezeki, berbagi kebahagian, yang dengan kegiatan tersebut kita dapat memupuk ukhuwah dengan tetangga maupun dengan kerabat, maka hukum asalnya boleh.

Tapi, harus stop sampai disitu saja, tidak boleh ada embel-embel lainnya. Misalnya, mengadakan selametan motor baru supaya tidak celaka, itu tidak ada dalam tuntunan syariat. Karena yang namanya musibah telah ditetapkan olehNya. Jadi, kita mengadakan selametan atau syukuran “karena apa”, bukan mengadakan selametan “supaya apa”. Acara yang sama jika dilaksanakan dengan niat yang berbeda, jelas memberi dampak yang berbeda dalam syariat.

Ini penting, karena berkaitan erat dengan aqidah tauhid kita. Dan budaya selametan sering menjadi polemik. Di Indonesia, entah ada berapa ratus acara selametan. Salahkah? Ya, itu tadi, kembali kepada niat awal mengadakan selametan. Kemudian acaranya bercampur dengan ritual batil atau tidak. Contoh kasusnya, seperti yang di atas. Jika kita membeli sebuah barang, maka mengadakan selametan dengan tujuan mensyukuri nikmat Allah atas rejeki yang kita dapatkan, kemudian ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain tidak mengapa. Tapi, jika selametan diniatkan untuk menolak bala dsb, itu yang tidak ada dalam tuntunan syariat.

Melakukan acara makan-makan ketika menempati rumah baru, memiliki kendaraan baru, mendapat jabatan baru dsb dengan mengundang tetangga dan kerabat dalam rangka berbagi kebahagiaan tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika acara selamatan tersebut diadakan agar terhindar dari musibah dsb. Ini yang tidak dibolehkan. Ini adalah keyakinan yang syirik dan pemahaman yang rusak. Jika acara makan-makan ini hanya adat kebiasaan, maka hukum asalnya tidak mengapa, namun jika dicampuri niat-niat lain semisal penolak bala, ini yang harus dihindari.

………..

Selain ritual selamatan yang saya sebutkan diatas, masih banyak lagi acara-acara selametan yang diadakan sebagian masyarakat kita. Mulai dari empat bulanan dan nujuh bulanan bagi wanita yang sedang hamil. Kemudian selametan 3harian, 7harian,100harian atas wafatnya seseorang dan seterusnya.

Terkadang saya bingung, ada begitu banyak orang yang seolah-olah “mewajibkan” acara-acara selamaten semata-mata karena “adat”. Begitu takutnya mereka mendapat sanksi social dari masyarakat hingga tidak lagi berpikir apakah acara tersebut penting atau tidak? Dana untuk acara tersebut ada atau tidak?

Saya bisa memahami mereka yang bersikukuh mengadakan selametan dengan mengusung beberapa dalil sebagai landasan tindakan, tapi mereka punya uang. Yang jadi masalah, banyak orang yang melakukan ritual-ritual tersebut, tetapi kondisi ekonomi tidak mencukupi. Akhirnya, untuk mengadakan selametan tersebut, mereka harus menjual tanah, menjual rumah, bahkan sampai ada yang memiliki hutang belasan juta.

Saya menulis hal ini, sebagian karena tidak memahami cara berfikir orang-orang tersebut sebagian lagi karena rasa miris. Saya memiliki seorang teman, dia mengadakan acara 7bulanan, padahal jangankan untuk acara selametan, untuk biaya melahirkan saja belum terpikirkan darimana uangnya. Tetapi, ia tetap kekeh melaksanakan acara tersebut karena ‘malu’ kalau tidak mengadakan, takut dianggap aneh, soalnya semua tetangganya biasa melaksanakan hal tersebut. Akhirnya, dicarinya pinjaman sana-sini. Kalau menurut saya, ini jauh lebih aneh. Terkadang kita menganggap yang nggak penting menjadi penting dan yang penting menjadi nggak penting. Kita tidak malu tidak melaksanakan shalat dan tidak berpuasa, tapi kita merasa malu nggak ngikutin adat?

Kemarin saya baru mendengar dari seorang teman, bahwa saudaranya sejak kematian ibunya, jadi memiliki hutang hingga belasan juta. Saya pikir hutang tersebut warisan dari mendiang ibunya. Artinya semasa hidup sang ibu memiliki hutang dan ia yang akhirnya harus melunasinya. Ternyata bukan. Hutang itu ada, karena dia harus membayar biaya kuburan, membayar biaya orang yang memandikan mayit, membayar ustadz yang mengimani shalat jenazah, memberi amplop kepada orang-orang yang ikut menshalatkan, membayar orang-orang yang membaca yasin 7 hari 7 malam, memasak makanan selametan 3harian, 7harian dsb. Masya Allah…

Betapa sulitnya hidup ini? Untuk membiaya kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah sulit, kenapa harus mempersulit diri untuk hal-hal seperti itu? Tidak wajib bukan? Kenapa harus memaksakan diri seperti itu?

Saya mohon maaf, yang saya tulis adalah apa-apa yang melintas dalam pikiran saya. Tidak bermaksud menyinggung siapapun. Saya hanya mengajak untuk berfikir realistis dan sesuai syariat.

Yang utama adalah melaksanakan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah untuk dilaksanakan. Kemudian mencontoh dan menjadikan Rasulullah sebagai panutan. Apa yang beliau kerjakan kita lakukan sesuai kemampuan. Apa-apa yang beliau tinggalkan, jangan kita lakukan. Ibadah Haji yang wajib saja, masih ada embel-embelnya, yaitu dikerjakan jika mampu. Nah, kenapa hal-hal yang tidak wajib, dan kita tidak mampu, kita kerjakan?

Wallahu’alam

Ummuali.wordpress.com

Oleh: ummuali | 14/03/2011

Menjaga Izzah Diri

Manusia adalah makhluk social. Oleh karenanya secara fitrah kita butuh berinteraksi dengan orang lain. Rasanya sulit bagi kita untuk benar-benar menyendiri atau mengisolasi diri dari hidup bermasyarakat. Kita butuh bergaul, butuh memiliki teman. Maka tak heran acara ngumpul-ngumpul banyak digemari. Tidak salah memang. Terlebih dengan aktivitas harian yang membuat tubuh penat, belum lagi ditambah rasa jenuh, setidaknya berkumpul dengan teman-teman, bersenda gurau dapat sedikit mengendorkan urat syaraf.

Yang menjadi masalah adalah, berbeda dengan sabar yang tidak ada batasnya, bersenda gurau itu ada batasnya. Tapi, kita sering bercanda secara berlebihan. Rasulullahpun bercanda, tapi beliau jarang sekali melakukannya. Jikapun dilakukan, beliau tidak pernah berdusta ataupun berlebihan dalam candanya. Bercanda tidak dilarang, selama tujuannya benar yaitu sekedar menyegarkan suasana agar kepenatan atau rasa bosan bisa hilang. Tapi jangan sampai melampui batas.

Memang tiada yang lebih sukar untuk dijaga diantara begitu banyak nikmat Allah daripada memelihara lidah. Oleh karenanya sering kita jumpai orang yang mampu menjalankan ajaran agama, dermawan, rajin ibadah tapi sering mengucapkan kata-kata yang tidak manfaat, bercanda-canda dengan ungkapan yang jorok.

Terkadang sayapun tidak mengerti, apa yang membuat pembicaraan atau canda-canda bernuansa S.. begitu digemari.  Yang lebih mengherankan adalah canda-canda seperti itu dilontarkan oleh orang-orang yang notabene faham agama dan menjalankan ajaran agama, orang yang dihormati di lingkungannya dan orang yang rajin ibadahnya. Tidakkah terbesit keinginan untuk menjaga izzah diri? Tidak bermaksud muna (istilah untuk mereka yang dianggap sok alim), tapi, tidakkah kita merasa risih mendengar hal-hal seperti itu?

Walaupun tidak tetap tidak pantas, dapat dimaklumi, mereka yang memang hobi berhaha hihi, orang yang tidak menyandang embel apa-apa dalam kehidupan social, bercanda-canda kelewat batas dengan ungkapan yang seronok.  Setidaknya itu tidak menurunkan wibawa mereka, tapi, untuk mereka yang menjadi panutan? Untuk mereka yang dipandang terhormat? Tidakkah itu menurunkan kemuliaan?

Rasanya hampir seluruh umat muslim tahu bahwa Rasulullah pernah bersabda,” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)

Rasulullah menyeru, kepada orang yang beriman kepada Allah untuk berbicara hanya yang baik-baik saja. Karena Allah Maha Baik dan hanya menyukai yang baik-baik. Dan Rasulullah juga menyeru kepada mereka yang beriman kepada adanya hari akhir. Artinya ucapan-ucapan yang kita lontarkan memiliki dampak di kehidupan kita kelak di akhirat. Kalau kita yakin dengan adanya hari akhir, maka bicaralah hanya yang baik-baik saja.

Selain itu, pesan singkat Rasulullah ini, akan memberi kemulian, kehormatan dan kewibawaan bagi yang menerapkannya. Bayangkanlah, jika kita bertemu dengan orang yang santun dalam bicara, terkendali dalam segala ucapan, pastinya kita merasa sungkan sekaligus hormat. Bandingkan dengan orang yang senang mengumbar omongan, pun kalau bicara tidak manfaat, apa perasaan kita?

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, yang keji dan ucapannya kotor.” (HR. Bukhari)

Pertanyaannya, mukminkah kita?

…..

Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat tinggalnya denganku pada hari kiamat kelak adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh tempat tinggalnya denganku pada hari kiamat kelak adalah orang yang banyak mulut, bermulut usil dan bermulut besar.” (HR Tirmidzi)

Banyak mulut artinya orang yang suka berbicara tanpa faedah, mulut usil artinya orang yang suka menyakiti orang lain dengan omongannya dan mulut besar adalah orang yang sombong.

Tidakkah kita rindu akan surga? Tidakkah kita rindu untuk dekat bersanding dengan Rasulullah?

Karenanya, hiduplah bermoral, terhormat dan mulia di bawah bendera islam. Kita jaga kesucian agama kita dengan menonjolkan imej yang baik dengan menjaga muruah kita sebagai muslim. Menjaga perilaku, menjaga ucapan. Ketidakmampuan kita menjaga citra diri yang baik, indikasi kelemahan moral, dan kelemahan moral  merupakan indikasi kelemahan iman.

Sebagi penutup, semoga firman Allah dibawah ini, menjadi pemicu kita untuk berbenah diri. Allah berfirman,”Yaitu ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 17-18)

Wallahu’alam.

Oleh: ummuali | 14/03/2011

Khusnuzhon Yang Salah Tempat

Sejak dua tahun lalu, aku ‘berbisnis’ kecil-kecilan. Menjual beraneka perlengkapan tempat tidur. Selain melakukan pemasaran sendiri, aku juga punya beberapa teman yang membantu memasarkan produk yang aku jual. Pada suatu hari, karena sebuah keperluan, aku pergi dengan abinya anak-anak. Ketika pulang, aku menemukan sebuah note dari seorang teman. Isinya menginformasikan bahwa ia datang mengambil barang karena ada seorang anak yang menginginkan barang tersebut.

Aku sedikit kaget membaca note tersebut. Karena isinya bukan sebuah pertanyaan boleh atau tidaknya ia mengambil barang tersebut, atau sebuh permohonan pengambilan barang tersebut, melainkan sebuah informasi bahwa barang tersebut ia ambil karena ada calon pembeli yang menginginkannya. Celakanya, barang yang ia ambil sebenarnya pesanan orang lain.

Kalau menilik dari keberanian tindakannya, mungkin ia berprasangka baik, tidak mungkinlah aku tidak mengizinkan ia mengambil barang tersebut. Atau tidak mungkinlah aku marah, karena ia notabene membantu menjualkan produkku. Khusnuzhonnya baik, sayangnya salah tempat.

Ia justru melupakan hal yang penting, bahwa mengambil barang tanpa izin dari pemilik adalah batil. Yang berbahaya adalah, bisa jadi transaksi jual beli yang ia lakukan dengan pembeli batal, karena ia menjual barang yang tidak dijual pemiliknya. Salah satu syarat sahnya jual beli adalah ada keridhoan dari penjual dan pembeli. Penjual tanpa paksaan siapapun memang berniat menjual barang yang dimilikinya. Dalam kasus ini, saya adalah penjual dan teman saya itu ‘makelar’.

……

Untuk merekatkan tali silaturahim dengan tetangga sekitar, aku ikut arisan kecil. Pada suatu waktu, ketika arisan dikocok, aku tidak ada. Ternyata, aku mendapat arisan. Sayangnya, informasi tersebut tidak aku dapatkan dari penanggung jawab arisan, tetapi dari seorang ibu yang sama-sama ikut arisan. Dia menghadangku di tengah jalan ketika aku hendak menjemput sekolah anakku.

“Um, dapat arisan um, tapi umi lagi nggak butuh uangnya khan. Untuk aku aza arisannya. Uangnya udah di aku.” Kata ibu tersebut. Akupun mengiyakan, karena rasa tidak enak.

Satu lagi contoh kasus tentang khusnuzhon yang salah tempat. Mungkin, melihat keadaanku, ibu itu berprasangka baik, bahwa aku tidak dalam kondisi kepepet butuh uang. Oleh karenanya ia berani mengambil uang arisan tersebut. Sayangnya, ia lupa uang arisan itu adalah hak aku. Kendati, misalnya, nanti akan ia pinjam, setidaknya serahkan dahulu uang tersebut. Tapi, ia sudah mengambil keputusan, menahan uang tersebut di tangannya. Dan lagi-lagi dengan sebuah pernyataan bukan pertanyaan boleh atau tidaknya uang arisan tersebut diberikan kepadanya.

…….

Kedua contoh kasus diatas, kelihatannya ringan. Yang pertama, Cuma ngambil barang untuk dijualin. Yang kedua juga sama, Cuma ngambil jatah arisan. Tapi kedua-duanya melupakan etika bermuamalah secara syar’i. Berangkat dari prasangka baik. Mereka berani bertindak. Sayangnya, prasangka baiknya tidak tepat.

Jika kita bertemu seorang saudara, kemudian kita tersenyum tapi saudari tersebut cuek bebek. Tepat, jika kita berprasangka baik, mungkin dia nggak lihat kita, mungkian dia sedang banyak pikiran dsb. Jadi kita tidak merasa tersinggung senyum kita tidak dibalas. Atau, tiba-tiba pasangan hidup kita uring-uringan. Tepat, jika kita berprasangka baik, mungkin ia sedang ada masalah. Jadi kita tidak memperkeruh suasana.

Berprasangka baik sangat dianjurkan sebenarnya, tapi, jangan sampai salah tempat. Ketika orang lain bertindak di luar dugaan. Atau melakukan tindakan di luar kelaziman. Alangkah baiknya, jika kita mengedepankan prasangka baik kita agar suasana tidak menjadi runyam. Dan bukan sebaliknya.

…..

Mungkin, kita akan menemui banyak kejadian yang mirip dengan apa yang saya alami. Untuk menjaga diri kita agar tidak terseret ke wilayah yang haram, berhati-hatilah. Contoh diatas bisa kita jadikan pelajaran. Kelihatannya sepele bagi kita, tetapi tidak sepele di mata Allah. Mengambil barang tanpa izin dari pemilik, jelas sebuah pelanggaran. Mengambil apa yang menjadi hak rang lain, juga sebuah pelanggaran. Dan keduanya digolongkan sebagai perbuatan dzalim.      Karena secara etimologi, dzalim adalah melanggar hak orang lain. Mencirikan kita sebagai orang yang tidak amanah. Karena salah satu elemen sifat amanah adalah kemampuan menjaga hak orang lain.

Kita harus belajar dari hal-hal kecil seperti ini. Apapun alasannya, mengambil barang tanpa izin, tidak dibenarkan. Apapun alasannya, merampas hak orang lain tidak dibenarkan. Ini harus jadi mind set kita. Terkadang kita suka menyepelekan hal-hal seperti ini. Sudah mengambil, baru izin. Padahal, bisa jadi yang empunya tidak ikhlas.

Oleh karenanya, kendati kita bertetangga dengan orang yang super kaya, super baik, super dermawan misalnya, seyogyanya tetap tidak membuat kita berani untuk sekedar mengambil sebuah aggur di kebunnya. Kendati, kita tahu tetangga kita tersebut tidak akan marah atas apa yang kita lakukan. Ini bukan tentang orang lain, ini tentang diri kita.

Wallahu’alam.

Belum lama ini, aku mendengar berita miring tentang  sikap tidak amanah seorang ikhwan. Atas berita itu, aku merasa kecewa kepada ikhwan  tersebut. Aku menjadi tidak respek padanya. Aku terus ‘ngedumel’ dalam hati. Kok bisa ya, padahal jenggotnya panjang, istrinyapun memakai jilbab lebar. Aku terus berpikir, penampilan dan cara berpakaiannya menunjukkan sang ikhwan  paham agama. Kok sampai?…

Cukup lama aku tenggelam dalam pikiran buruk tentang ikhwan itu. Hingga akhirnya, Allah mempertemukan kami dan kami terlibat perbincangan cukup lama. (Tentu saja ikhwan tersebut didampingi istrinya). Dari perbincangan itu, rasa respekku yang memudar akibat berita miring itu, perlahan-lahan tumbuh lagi. Dan tak henti-hentinya aku beristighfar di dalam hati di sela-sela perbincangan kami.

Akupun bersyukur kepada Allah. Dengan skenarioNya, Allah melindungiku dari  prasangka buruk yang berkelanjutan terhadap saudara seiman. Dan atas kehendakNya, Allah bersihkan ikhwan tersebut dari segala dugaan-dugaan yang tidak benar melalui ‘perbincangan’ kami. Karena dari perbincangan itulah, aku jadi lebih paham tentang dirinya, bahwa sesungguhnya orang-orang salah sangka terhadap ikhwan ini.

….

Aku memiliki tetangga yang sudah bertetangga denganku lebih dari satu tahun-tetangga tesebut baru pindah ke komplek tempat kami tinggal. Jarak rumah kami sungguh dekat. Tapi aku belum pernah bertemu dengan penghuni rumah tersebut, apalagi ‘ngobrol’. Dan setiap aku lewat di depan rumahnya, kulihat pintu gerbangnya selalu di gembok. Kadang aku lihat mobilnya wara-wiri di depan rumah, dan kami hanya saling  berlambaian tangan,  dan itulah ‘komunikasi’-ku dengan tetanggaku itu. Terbersit dalam hati, kok begitu ya caranya bertetanggga. Sepertinya nggak mau ‘kenal’ orang. Nggak pernah ‘nenangga’, rumah juga tertutup rapat terus.

Seminggu yang lalu, tetanggaku ini menghubungiku, ia minta tolong agar dicarikan tenaga pembantu plus guru ngaji di rumahnya. Karena urusan tersebut, aku jadi berkesempatan berkunjung ke rumahnya. Dan dari kunjungan itulah, aku jadi lebih paham, mengapa ia tidak pernah ‘nenangga’, mengapa pintu rumah tertutup rapat dan pintu gerbang senantiasa digembok. Ternyata, si ibu ini memiliki 4 anak. 1 sudah belasan tahun dan 3 orang masih balita. Dan anak kedua yang berumur 5 tahun, berkebutuhan khusus. Masya Allah…pantas saja, ia tidak bisa bebas keluar rumah…pantas saja, rumah harus terus tertutup rapat(anaknya yang berkebutuhan khusus, tidak bisa melihat rumah terbuka).

Alhamdulillah…aku bersyukur, sekali lagi, Allah melindungiku dari prasangka buruk yang berkelanjutan. DiciptakanNya scenario, yang membuat aku dapat silahturahim ke tetanggaku tersebut sehingga aku mendapat jawaban atas prasangka-prasangka burukku.

….

Dua pengalaman berharga yang membuat aku tersadar diri. Kita memang benar-benar tidak boleh berprasangka buruk. Jikapun kita menyaksikan sikap atau sifat seseorang “yang tidak mengenakkan”, kita tetap harus berpikir positif. Menyikapinya dengan cara pandang yang positif. Berusaha melihat, mungkin ada alasan yang dapat diterima, mengapa si A bersikap begini atau begitu.

Sebagai contoh, ada seorang ummahat yang kemudian diberi label “keras dan mau menang sendiri”. Pada mulanya aku sendiri agak tidak nyaman dengan sikapnya. Berangkat dari kesadaran tidak ingin berpikir buruk tentang orang lain, aku sedikit-sedikit mencari tahu tentang dirinya, berusaha lebih dekat dengannya. Walhasil, terjawablah teka-teki, kenapa sang ummahat yang terlihat paham agama, lulusan pesantren, tetapi “keras dan mau menang sendiri”. Ternyata, Ummahat ini berasal dari sebrang. Orangtuanya hingga kini masih hidup dan bukan penganut agama islam. Kemudian ia tinggalkan keluarganya demi memeluk islam. Sebagaimana diketahui, orang sebrang memiliki hubungan kekerabatan yang kuat dan erat. Bukan perkara mudah “pergi” meninggalkan orangtua dan kemudian berpindah agama. Justru dengan sikap keras dan mau menang sendirinya itulah yang membuat sang ummahat “kuat” meninggalkan orangtua dan agama nenek moyangnya demi Islam. Artinya, secara pribadi memang ia typical orang yang “keras”. Jika dilihat dari latar belakangnya, justru sifat “keras” itu yang menjadi kelebihannya.

Pada umumnya kita semua tahu bahwa berprasangka buruk itu dilarang. Tetapi, dalam keseharian kita, betapa sulit menghindar dari perilaku ini. Prasangka artinya membuat ‘keputusan’ sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Padahal Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka! Karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Dan Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong.” (Hadis Muttafaq’alaih).

Mustinya peringatan Allah tentang dosanya berprasangka buruk cukup membuat kita berhenti dari perbuatan tersebut. Berprasangka buruk, berkaitan erat dengan pola pikir negatif. Ketika menyikapi sebuah masalah atau kejadian, mindset kita tertuju kepada hal-hal yang buruk. Jadi hasilnya adalah prasangka-prasangka buruk yang berkembang. Dan ini harus dibenahi.

Saya menulis artikel inipun dengan niat, semoga tulisan ini menjadi tausiah pribadi. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya ketika, prasangka-prasangka buruk memenuhi hati dan pikiran.

Wallahu’alam.

Oleh: ummuali | 16/01/2011

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 5,300 times in 2010. That’s about 13 full 747s.

In 2010, there were 23 new posts, growing the total archive of this blog to 39 posts. There were 11 pictures uploaded, taking up a total of 923kb. That’s about a picture per month.

The busiest day of the year was November 25th with 411 views. The most popular post that day was About.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were eramuslim.com, facebook.com, mail.yahoo.com, WordPress Dashboard, and google.co.id.

Some visitors came searching, mostly for ketetapan allah, ummuali.wordpress, fadhilah tahajjud, otot terkuat, and ummuali.wordpress.com.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

About April 2009
10 comments

2

Belajar Memahami Ketetapan Allah February 2010
4 comments

3

Otot Terkuat dalam Tubuh Manusia January 2010
4 comments

4

Apakah Kita Merasa Lebih Baik Dari Orang Lain? July 2010
4 comments

5

FADHILAH TAHAJJUD November 2009

Oleh: ummuali | 13/12/2010

Jangan Pernah Meragukan-NYA

Jika kita meragukan manusia dalam kemampuannya untuk bersikap adil, itu wajar. Karena sebaik atau sepandai apapun manusia, terkadang penilaiannya tidak tepat atau tidak konsisten. Tapi, jangan pernah meragukan keadilanNYa, karena Allah benar-benar Maha Adil. Jikapun dengan kasat mata kita saksikan ketimpangan-ketimpangan, jangan pernah ragukan Keadilan-NYA dalam menetapkan sesuatu. Sungguh, ilmu kita sangat sedikit untuk dapat memahami-NYA. Jangan pernah sekalipun meragukan segala sifat dan nama baik yang disandangNYA.

Kita sering mempertanyakan hal-hal sebagai berikut , kenapa ada sebagian orang yang begitu mengharap dan mendambakan momongan, tidak jua diberi. Sementara, sebagian orang yang tidak mengharap, bahkan tidak menginginkannya, justru Allah titipkan benih di rahimnya. Kemudian mereka mempertanyakan keadilan Allah. Sesungguhnya, ketika memberi atau tidak memberi, Allah menunjukkan sifat Maha Kuasa-NYa. Sesungguhnya, ketika memberi atau tidak memberi, Allah tetap menunjukkan sifat Keadilan-Nya.

Apa arti adil atau konsep adil bagi kita? Adil bukan berarti sama rata. Adil bukan berarti seimbang. Adil bukan berarti setiap orang harus diperlakukan sama persis. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proposional.

Sebagai contoh, kita memiliki 2 orang anak. Yang pertama sudah SMP yang kedua masih TK. Ketika memberi uang jajan, kita beri sang kakak dan sang adik sama banyak, misalnya Rp 2000,-. Sementara sang kakak sekolah naik angkot pulang pergi dan tiba di rumah menjelang sore. Sang adik sudah diantar ibunya, pulangpun sebelum dzuhur. Adilkah kita kepada kedua anak kita dalam memberi uang jajan?

Sungguh, segala sesuatu telah Allah tetapkan sesuai takaranNYa, dan Allah tidak akan pernah salah dalam menakar. Setiap kita diuji ,sesuai dengan batas kemampuan kita, dan hanya Allah yang Maha Tahu batas kemampuan kita dibanding kita sendiri. Anak adalah amanah sekaligus ujian bagi kedua orang tuanya. Kita ingin, dan merasa mampu. Tapi, bagaimana menurut Allah?

Di sisi lain, ada yang sudah punya anak banyak, sudah komplit pula, lagi-lagi diberi keturunan. Kemudian dengan susah payah berusaha digugurkan, karena merasa tidak ingin dan merasa tidak mampu. Siapa yang lebih dapat menilai mampu atau tidaknya kita selain Allah? Jika Allah memberi, itu tandanya kita mampu. Masalah rezeki? Insya Allah sudah Allah sediakan. Allah berfirman; “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepada kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang sangat besar.” [Al-Israa : 31]

…………

Saya memiliki kerabat. Orangnya sangat baik. Dermawan dan ringan tangan. Kemudian saya saksikan, kesulitan-kesulitan hidup bertubi-tubi menimpanya. Dia datang kepada saya, kemudian bercerita bahwa dalam kesedihannya kadang ia bertanya pada dirinya, apa dosa saya sehingga hidup saya seperti ini? Apa dosa saya sehingga Allah menghukum saya seperti ini? Rasanya tidak adil…Astaghfirullah…Ia “menggugat” Allah tentang apa yang menimpa dirinya.

Begitu banyak yang terjadi dalam kehidupan kita. Ada yang kita sukai dan ada yang tidak kita sukai. Tapi, apapun itu, jangan sampai membuat kita meragukanNya, jangan sampai kita mempertanyakan tindakanNYa. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 216; “ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Jadi, andai kita tertimpa musibah bertubi-tubi, padahal kita rajin ibadah dan menjalani hidup ini secara baik, jangan pertanyakan tentang keadilan Allah. Karena masalah musibah bukan tentang Allah adil atau tidak adil. Tapi karena musibah memang bagian dari takdir-NYA. Sungguh, Allah Maha Adil. Dan telah Allah tetapkan segala sesuatu sesuai porsinya.

Jangan pernah merasa diperlakukan tidak adil oleh Allah. Justru kita yang harus bertanya kepada diri kita sendiri, adilkah kita terhadapNYA? Jika mau hitung-hitungan, kitalah yang banyak berbuat tidak adil terhadapNYA. Terhadap nikmat-nikmat Allah, sudahkah kita mensyukurinya? Jikapun telah kita syukuri, setarakah syukur kita dengan segala nikmat yang telah dilimpahkanNYa kepada kita?

……..

Kegamangan kita dalam meyakini sifat adilNYA dan sifat-sifat Allah yang lain, sedikit demi sedikit akan merusak aqidah kita. Karena sebagai muslim, kita harus yakin dengan segala sifat dan nama baikNYA. Kita adalah yang dicipta, dan Allah yang mencipta. Kita adalah yang diberi dan Allah sang Pemberi. Tapi, wajibkah Allah memberi setiap yang kita minta?

Terkadang pula, kita merasa harus diberi yang terbaik atas keshalehan yang kita lakukan. Kita ‘menuntut’ Allah bertindak adil sesuai kriteria adil dalam benak kita. Kehidupan kita harus berjalan baik sesuai kebaikan yang kita lakukan. Kalau ada orang yang sikapnya buruk, maka kehidupannya harus buruk. Itu baru adil, menurut kita. Lalu apa artinya janji surga dan neraka, jika setiap orang sudah dibalas sesuai perbuatannya di dunia ini?

Allah benar Maha Pengasih, tapi Allah tidak harus mengasihi setiap maklukNYA dengan cara yang sama khan? Ada yang Allah kasihi dengan kenikmatan hidup, karena dengan cara itulah sang hamba mendekat kepadaNYA. Ada yang Allah kasihi dengan cara memberinya cobaan, karena dengan cara itu sang hamba mendekat kepadaNYA.

Sekali lagi, jangan pernah meragukanNYA. Jangan pertanyakan Keadilan-NYA. Jangan sangsikan cinta-NYA. Jangan tidak yakin dengan segala Sifat dan Nama Baik-NYA. Allah Maha Rahim dan dengan kerahiman-NYA, Allah hanya menghendaki kebaikan kepada setiap hamba-hamba-NYA. DIA adalah Allah. Dan DIA pasti adil, dan kita harus mengakuinya sekalipun tidak dapat memahaminya. Allah berhak melakukan apapun terhadap hidup kita, dan DIA tetap Adil dengan segala perbuatanNYA.

Wallahu’alam.

“Allaahumma laa sah-la illaa maa ja’altahu sah-lan wa anta taj-‘alul hazna idzaa syi’ta sah-laa.”

“Ya Allah, tiada yang mudah selain yang Engkau mudahkan dan Engkau jadikan kesulitan itu mudah, jika Engkau menghendakinya mudah.”

Do’a diatas adalah do’a yang dinasehatkan ibu mertua untuk diamalkan ketika kami hendak pergi haji 3 tahun lalu. Beliau mengatakan bahwa do’a tersebut bilamana dijadikan zikir, insya Allah akan mempermudah segala urusan. Beliau menceritakan, ketika pergi haji, beliau ingin sekali mencium Hajar Aswad, maka beliau menjadikan do’a tersebut sebagai zikir, dan Alhamdulillah keinginannya terwujud. Sebagaimana diketahui, mencium Hajar Aswad di musim haji bukan perkara mudah. Dan akupun mengikuti apa yang beliau sarankan, menjadikan do’a tersebut sebagai zikir ketika pergi berhaji, dan Alhamdulillah kami tidak mengalami kesulitan sedikitpun ketika melaksanakan haji.

Do’a tersebut masih terus saya amalkan hingga kini. Alhamdulillah, Allah banyak memberi kemudahan-kemudahan di tengah kesulitan yang saya hadapi.

Pada suatu ketika, 2 anak saya -saat itu si sulung berumur 31/2 tahun dan yang kedua berumur 2 tahun- sakit diwaktu yang bersamaan. MUntah-muntah dan buang-buang air. Kebetulan tidak ada pembantu waktu itu dan suami sedang pergi ke luar kota selama 40 hari. Saya sungguh merasa kebingungan. Saya tidak mengabarkan kepada siapapun tentang kondisi anak-anak. Yang saya lakukan adalah, makin gencar saya lafazkan zikir diatas. Alhamdulillah anak-anak saya yang masih balita, benar-benar tidak merepotkan walau sakit. Tidak rewel, dan tidak muntah maupun buang air sembarangan.

Atau di lain waktu, air ledeng di rumah kami, keluar hanya sedikit sekali. Itupun harus dipancing lagi, dipancing lagi. Hal ini menyulitkan, karena sebagian besar aktivitas harian ibu-ibu berhubungan dengan air. Kondisi air mengalir tidak normal berlangsung cukup lama. Akhirnya kami panggil tukang sumur/tukang pompa yang dahulu menginstalasi sumur air kami. Menurut keterangan tukang itu, mungkin ada kebocoran di pipannya, karena di mesin tidak masalah. Jadi instalasi pipanya harus di cek. Sementara, posisi sumber air kami di bawah kamar mandi belakang, yang artinya kami harus bongkar kamar mandi tersebut. Saya sudah bayangkan betapa ribetnya urusan ini, belum lagi biayanya. Menurut tukang pompa itu lagi, kalau ternyata pipanya tidak bocor, berarti harus di tambah lagi kedalamannya, dan ini berarti, kami juga harus bongkar atap kamar mandi, guna memudahkan penggunaan peralatan bor-nya. Hmm…rasanya aku tidak ingin melaksanakan ide tukang pompa itu. Akhirnya aku lafazkan zikir tersebut tanpa henti, dalam setiap kesempatan yang ada, dan berharap ada keajaiban sehingga kami tidak perlu melakukan pembongkaran apapun dan air dapat mengalir secara normal. Alhamdulillah, ke esokan harinya, air dapat mengalir secara normal hingga saat ini. (Alhamdulillah ya Allah atas segala kemudahan yang Engkau berikan)

Masih banyak peristiwa-peristiwa lain yang tidak dapat saya ceritakan. Intinya, Allah itu  Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah dapat menolong kita dalam kondisi apapun yang kita hadapi jika kita meminta tolong kepadaNya. Dalam kesulitan yang menimpa kita, bersungguh-sungguhlah meminta, disertai rasa tidak berdaya dan berprasangka baik bahwa Allah pasti akan menolong. Insya Allah. Kita tidak akan dikecewakan.

Itu sedikit pengalaman pribadi. Tulisan ini saya buat karena ada yang curhat ke saya bahwa ada saja yang tidak beres dengan kehidupannya. Ada saja kesulitan-kesulitan yang ia hadapi. Memiliki 4 orang anak, tanpa pembantu, dan anak yang terakhir belum genap setahun. Suatu hari, mesin cucinya rusak. Mesin cuci belum diperbaiki, saluran air mampet, sehingga air tidak dapat mengalir. Kedua masalah tersebut belum terselesaikan, anaknya yang kedua mogok sekolah. Saya tidak dapat memberi solusi apa-apa selain mengajaknya untuk ikut mengamalkan do’a yang saya tulis di atas sebagai zikir. Tapi, kelihatannya ia kurang tertarik. Ia berharap ada saran untuk melakukan sebuah tindakan yang kongkrit. Mungkin ia pikir, mana mungkin do’a tersebut dapat menyelesaikan masalahnya.

Kalau menurut pendapat saya, kenapa tidak dicoba? Mesin cuci rusak, saran termudah memang diperbaiki atau beli yang baru. Tapi masalahnya ngga ada uang. Makanya saya sarankan mengamalkan zikir tersebut.  Khan gratis. Dan bisa dilakukan kapanpun. Kita memohon agar Allah mempermudah kesulitan kita.

Apa sulitnya bagi Allah untuk mengabulkan? Apa sulitnya bagi Allah membuat mesin cucinya tiba-tiba dapat dipakai kembali, atau apa sulitnya bagi Allah membuat saluran airnya dapat mengalir dengan normal, atau apa sulitnya bagi Allah membalikkan hati anaknya hingga mau sekolah? Langit dan bumi beserta isinya milik Allah dan Allah yang menguasainya. Tidak ada persoalan di muka bumi ini yang tidak dapat diselesaikan oleh Allah. Kenapa kita tidak yakin? Jangankan cuma mesin cuci, menghidupkan orang yang sudah mati saja Allah mampu. Jangankan membuat saluran air mengalir kembali, membelah laut menjadi dua saja Allah kuasa.

Sejak dini saya ajarkan kepada anak-anak saya untuk senantiasa meminta kepada Allah. Saya ajarkan kepada mereka agar  jika menginginkan sesuatu atau menghendaki terjadi sesuatu, harus minta kepada Allah.  Karenanya pernah si sulung (6 tahun) sedang bermain game, dan saya lihat dia mengangkat tangan seraya mulutnya komat-kamit. Saya bertanya tentang apa yang dia lakukan. Dan si sulung menjawab bahwa ia sedang berdo’a semoga ia menang main gamenya. Dalam hati saya tertawa geli, bercampur bahagia bahwa ia telah belajar menggantungkan harapannya kepada Allah. Lain halnya dengan anak yang kedua (5 tahun), melihat kakaknya sudah dapat main sepeda, ia pun giat belajar naik sepeda. Akhirnya iapun bisa naik sepeda. Ia bertanya kepada saya, “Ummi, ummi tahu ngga kenapa dede bisa naik sepeda?”

“Nggak…” jawabku dengan mimik pura-pura bingung.

“Karena dede berdo’a begini, Ya Allah semoga aku bisa Ya Allah.” Jawabnya lagi

Aku benar-benar surpraise mendengar jawabannya. Jadi ia merasa bahwa ia dapat naik sepeda karena Allah. Subhanallah.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi agar kita dapat sama-sama mengamalkannya.

Wallahu’alam

Saya mengenal seorang ibu yang energik dan selalu ceria. Teringat dahulu, setiap sore, saya melihatnya bermain volley. Atau di tiap minggu pagi, ia selalu ikut senam di kompleks sebelah. Pokoknya, ia terlihat sering beredar untuk kegiatan olahraga, karena hari-hari ia hanya disibukkan mengurus suami dan anak semata wayangnya.

Keadaan berubah, kini tiap hari ia sibuk bekerja sebagai PRT paruh waktu. Istilahnya ia memegang “dua pintu” yang artinya ada 2 rumah yang menjadi tanggungjawabnya untuk diurus. Pagi-pagi ia sibuk mengurus urusan rumah tangganya sendiri. Jam 7an dia bekerja di rumah yang pertama hingga jam 12an. Kemudian ia pulang sejenak, dan mulai bekerja di rumah yang kedua pada pukul 14.00 siang hingga menjelang maghrib. Itulah rutinitas hariannya kini. Hal itu ia lakukan karena suaminya sakit, kemudian diberhentikan dari tempatnya bekerja.

Suatu hari, aku yang tidak tahu tentang perubahan nasibnya bertemu;

“Assalamu’alaikum, Mama A, mau kemana?” tanyaku

“Wa’alaikumsalam Bu, saya mau kerja.” Jawabnya sambil senyum-senyum

“Kerja dimana?” Tanyaku lagi

“Di komplek . Sekarang saya kerja Bu. Soalnya suami saya sakit, jadi nggak bisa kerja lagi. Saya deh yang gantiin cari duit.” Jawabnya tetap dengan senyum dan tidak terdengar nada mengeluh.

“Ooo, begitu…” jawabku sambil  bingung hendak merespon bagaimana atas berita dari Mama A ini.

“Nasib nggak bisa ditebak Bu, sekarang lagi giliran saya. Roda kehidupan khan muter,  nggak bisa kalo pengen seneng terus.” Jawabnya lagi.

Subhanallah. Nasibnya berubah. Tapi ada yang tidak berubah. Ibu ini tetap terlihat bahagia dan ceria. Rasa sadar, bahwa keadaan tersebut adalah “jatahnya”. Rasa sadar, bahwa kebahagiaan dan kesedihan disilihpergantikan, membuatnya tidak berduka cita atas nasibnya. Yaa…Life doesn’t mean to be beautiful all the time. Saya bahagia mendengar jawabannya, dibarengi rasa kagum atas kerelaan ibu tersebut menerima nasibnya.

Berapa banyak dari kita yang dapat menyadari hal tersebut? Umumnya kita tahu bahwa, roda kehidupan berputar, kadang dibawah, kadang diatas. Kadang senang, kadang susah. Kadang diberi kelapangan dan kadang diberi kesempitan. Tapi, jika benar terjadi hal yang buruk, siapkah? Jika benar terjadi hal yang menyedihkan, sanggupkah?

Kita semua, lazimnya menginginkan yang terbaik, terindah, terenak dan segala ter-ter yang lain yang menyenangkan. Dan kitapun berharap hal tersebut berlangsung lama dan kalau bisa seterusnya. Salahkah? Tentu tidak. Namanya harapan, pastilah yang terbaik.

Tapi, tengoklah realitas. Merupakan sunatullah, bahwa segala sesuatu ada pasangannya dan ada masa berakhirnya kecuali Allah SWT. Pernahkan anda mengenal seseorang yang menyatakan bahwa ia tidak pernah merasa bersedih dan tidak mengenal kesedihan? Atau, pernahkah anda mengenal seseorang yang meyatakan bahwa ia tidak pernah merasa bahagia dan tidak mengenal rasa bahagia? Kalau saya tidak. Karena, walau sedikit, walau sebentar, kita pasti merasakan kebahagiaan ataupun kesedihan.

Saya hanya pernah tahu, seseorang yang menurut pandangan saya enak sekali hidupnya. Sebutlah si D. Kalau mendengar riwayat hidupnya, sepertinya ia senang terus. Dari kecil hingga dewasa, ia tidak pernah hidup kekurangan.  Apapun yang menjadi keinginan dan impiannya dapat dicapainya. Masalahpun tidak pernah menghinggapinya. Everything going well with her. Semua teman-teman, pada waktu itu, mau banget jadi si D. Waktu berlalu, satu persatu dari kami menikah, dan menyisakan teman saya si D itu, yang belum juga menikah hingga saat ini. Mungkin, kini, tidak satupun dari kami ingin menjadi dirinya. Sekali lagi, life doesn’t mean to be beautiful all the time.

Inilah kehidupan. Ada senangnya, ada susahnya. Namun, beban hidup akan terasa lebih ringan, jika kita yakin akan ada akhirnya. Sementara kemapanan hendaknya  membuat kita jadi lebih waspada, agar tidak kaget bilamana masa-masa sulit menghadang. Berusaha mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Membekali diri, menyiapkan mental agar dapat tetap berpikir dan bertindak positif jika masa sulit benar-benar datang.

Karenanya, lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, dan berharap dengan harapan terbaik yang kita inginkan, seraya memohon kepada Sang Penguasa agar memberi kita ketabahan, kesabaran dan jalan keluar termudah dan tercepat atas segala “kesulitan” hidup yang harus kita jalani.

Wallahu’alam

Older Posts »

Kategori